Koran Jakarta | March 27 2019
No Comments
Kerja Sama Kawasan

Brexit Ikut Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi Inggris

Brexit Ikut Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi Inggris

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

BERN - Menteri Perdagangan Inggris, Liam Fox, mengatakan perlambatan ekono­mi yang tengah dialami Inggris tidak sepenuhnya disebabkan oleh persoalan Brexit. Fox merujuk data ekonomi tahun lalu saat Inggris mengalami pertumbuhan paling rendah sejak 2012.

“Jelas ada orang-orang yang percaya bahwa Brexit adalah satu-satunya faktor ekonomi pada ekonomi Inggris. Saya kira Anda akan mendapati bahwa pelambatan yang diprediksi di sejumlah ekonomi Eropa, ti­dak terputus dari perlambatan, misalnya, di Tiongkok. Gagasan bahwa Brexit adalah satu-satu­nya faktor yang mempengaruhi ekonomi global, keluar dari po­kok masalah,” kata Fox dalam jumpa pers di Bern, Swiss, Senin (11/2) waktu setempat.

Dengan waktu tersisa hanya enam minggu sebelum jadwal Inggris keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret, Fox menolak rencana referendum baru un­tuk membatalkan Brexit, dan juga menolak gagasan yang diajukan oleh pemimpin opo­sisi, Jeremy Corbyn.

“Seperti yang saya bayang­kan, peluang referendum kedua hampir nol,” katanya.

Dia mengatakan, ide-ide yang diajukan oleh Corbyn tidak bisa diterapkan karena Inggris tidak mungkin men­jadi bagian dalam serikat pa­bean dengan Uni Eropa. “Ber­pura-pura bahwa kamu bisa melakukan itu, adalah khayalan yang berbahaya,” kata Fox.

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris, pada Senin (11/2), mengumumkan data yang menunjukkan bahwa perekonomian negara ini pada tahun 2018 tumbuh paling rendah selama 6 tahun ini.

Menurut ONS, pertumbuhan GDP Inggris hanya menca­pai 1,4 persen, turun dibandingkan dengan 1,8 persen pada tahun 2017. Ini meru­pakan paling rendah sejak ta­hun 2012. ONS mengatakan laju peningkatan GDP telah melambat secara dalam waktu 3 bulan akhir tahun lalu, khu­susnya pada bulan Desember lalu turun 0,4 persen. Ini untuk pertama kalinya sejak bulan September 2012, pertumbuhan di bidang-bidang pembangu­nan, produksi dan jasa turun pada bulan terakhir tahun lalu.

Terus Berlanjut

Fox berada di Swiss un­tuk menandatan­gani perjanjian perdagangan berkelanjutan dengan Menteri Ekonomi Swiss, Guy Parme­lin. Inggris dan Swiss menan­datangani kesepakatan untuk melanjutkan perdagangan dengan syarat prefensial pasca-Brexit. Peresmian kese­pakatan tersebut merupakan satu dari langkah nyata Ing­gris yang dibuat untuk me­mastikan bahwa semua kesepakatan dagang yang saat ini mendapat keuntungan dari keanggotaan Uni Eropa akan terus berlanjut hingga Inggris meninggalkan blok tersebut bulan depan.

“Ini tidak hanya akan mem­bantu mendukung pekerjaan di seluruh Inggris, tetapi juga akan menjadi landasan yang kuat bagi kita untuk membangun hubungan dagang bah­kan yang lebih kuat dengan Swiss saat kita meninggalkan Uni Eropa,” kata Fox.

Kesepakatan tersebut mencerminkan strategi “mind the gap” Swiss untuk memastikan hubungan dagang yang mulus dengan Inggris, terlepas dari apakah London nantinya bisa mandek dan menyetujui per­janjian keluar resmi dengan Brussel pada 29 Maret, tang­gal yang dijadwalkan untuk meninggalkan Uni Eropa.

Inggris menemui jalan buntu dalam perundingan ulang dengan Uni Eropa.

Kepala Konfederasi Indus­tri Inggris, Carolyn Fairbairn, pada Minggu, mengatakan “mimpi buruk yang berlang­sung” dari keluarnya Inggris berarti bahwa mitra dagang utama, seperti Jepang dan Korea Selatan enggan menan­datangani kesepakatan hingga mereka mengetahui bentuk pasti dari hubungan Inggris-Uni Eropa di masa men­datang. AFP/SB/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment