Bongkahan Emas dari Plastik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments

Bongkahan Emas dari Plastik

Bongkahan Emas dari Plastik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Para peneliti telah berhasil menciptakan emas 18 karat yang sangat ringan. Uniknya, bongkahan emas ini dibuat dengan menggunakan matriks plastik sebagai pengganti elemen paduan logam.

Penggemar berat jam tangan emas dan perhiasan emas akan senang. Obyek keinginan mereka suatu hari nanti mungkin menjadi jauh lebih ringan, tetapi tanpa kehilangan glitter-nya. Terutama pada jam tangan, sedikit saja menjadi lebih ringan, tentu akan membawa perbedaan yang berarti. Pasalnya tidak ada seorangpun yang ingin memakai arloji atau jam tangan yang berat yang membebani pergelangan tangan.

Bahkan jika itu terbuat dari emas asli sekalipun, setelah beberapa saat digunakan, mungkin menjadi tidak nyaman dan akan mengganggu. Adalah Leonie van ‘t Hag yang mencoba mengembangkan teknologi ini.

Awalnya ia merupakan peneliti postdoc di lab ETH yang dipimpin oleh Raffaele Mezzenga, seorang Profesor di bidang bahan makanan dan Bahan Lembut, Leonie van ‘t Hag kemudian berencana untuk membuat bentuk baru emas yang beratnya sekitar lima sampai sepuluh kali lebih ringan dari emas tradisional 18 karat. Campuran konvensional biasanya berupa tiga perempat emas dan seperempat tembaga, dengan kepadatan sekitar 15 g / cm3. Tapi komposisi tersebut tidak akan berlaku untuk emas baru yang ringan ini. densitasnya hanya 1,7 g / cm3, meski demikian emas tersebut masih merupakan emas 18 karat. Bagaimana hal ajaib ini tercipta? Alih-alih unsur logam campuran, van ‘t Hag,

Mezzenga dan rekannya menggunakan serat protein dan lateks polimer untuk membentuk matriks di mana mereka menanamkan cakram tipis nanokristal emas. Selain itu, emas ringan mengandung banyak kantong udara kecil yang tak terlihat oleh mata. Studi para peneliti tentang proses ini baru saja diterbitkan dalam jurnal Advanced Functional Materials

. Trombosit emas dan plastik meleleh menjadi bahan yang mudah diproses secara mekanis. Inilah cara para peneliti membuat emas baru yang ringan ini, pertama, para peneliti menambahkan bahan ke air dan membuat dispersi. Setelah menambahkan garam untuk mengubah dispersi menjadi gel, selanjutnya mereka mengganti air di dalamnya dengan alkohol.

Kemudian para peneliti menempatkan gel alkohol ke dalam ruang bertekanan, di mana tekanan tinggi dan atmosfer CO2 superkritis memungkinkan kecacatan alkohol dan gas CO2, ketika tekanan dilepaskan, semuanya mengubahnya menjadi aerogel seperti gossamer homogen. Panas selanjutnya dapat diaplikasikan untuk anil polimer plastik, sehingga mengubah bahan dan memadatkan menjadi bentuk akhir yang diinginkan, namun tetap mempertahankan komposisi 18 karat.

Material Emas Berkinerja Plastik “Emas ini memiliki sifat material dari plastik,” kata Mezzenga. “Jika sepotong jatuh ke permukaan yang keras, itu terdengar seperti plastik.

Tapi itu berkilau seperti emas metalik, dan bisa dipoles dan dikerjakan menjadi bentuk yang diinginkan,” tambah Mezzenga. Para peneliti bahkan dapat menyesuaikan tingkat kekerasan material dengan mengubah komposisi emas. Mereka juga dapat mengganti lateks dalam matriks dengan plastik lain, seperti polypropylene. Karena polypropylene mencair pada suhu tertentu, “plastik emas” yang dibuat dengannya dapat meniru proses peleburan emas, namun pada suhu yang jauh lebih rendah.

Selain itu, bentuk nanopartikel emas dapat mengubah warna material “nanoplatelets” menghasilkan kilau khas emas, sedangkan nanopartikel emas berbentuk bola memberikan warna ungu.

“Sebagai aturan umum, pendekatan kami memungkinkan kami membuat hampir semua jenis emas yang kami pilih, sejalan dengan properti yang diinginkan,” kata Mezzenga. Mezzenga menunjukkan bahwa, sementara emas plastik akan menjadi permintaan khusus dalam pembuatan jam tangan dan perhiasan, ini juga cocok untuk katalisis kimia, aplikasi elektronik, atau pelindung radiasi. Para peneliti telah mengajukan paten untuk proses dan materi.

Kecerdasan Buatan untuk Mendeteksi Hipoglikemik

Teknologi kecerdasaan buatan terbaru yang dikembangkan oleh para ilmuan di Universitas Warwick ini mampu mendeteksi kasus hipoglikemik atau kadar gula yang rendah dalam darah melalui sensor sinyal EKG.

Keunggulan teknologi ini adalah non invansif. Tidak menyakitkan. Adalah Dr Leandro Pecchia dari University of Warwick yang berhasil mengembangkan teknologi kecerdasaan buatan untuk mendeteksi kasus hipoglikemik pada penderita diabetes. Hasil peneliannya ini kemudian dituangkan dalam makalah ilmiah tentang pengobatan presisi dan kecerdasan buatan.

Keunggulan teknologi ini adalah sifatnya yang non invasif. Saat ini Continuous Glukosa Monitors (CGM) tersedia oleh NHS untuk mendeteksi hipoglikemia. Mereka mengukur glukosa dalam cairan interstitial menggunakan sensor invasif dengan jarum kecil, yang mengirimkan alarm dan data ke perangkat layar. Dalam banyak kasus, para penderita diabetes membutuhkan pengukuran dua kali sehari dengan melalukan tes kadar glukosa darah melalui tusukan jari yang invasif.

Dua studi percontohan dengan sukarelawan yang sehat menemukan tingkat sensitivitas dan spesifisitas perangkat ini rata-rata sekitar 82 persen untuk deteksi hipoglikemia,. Nilai tersebut sebanding dengan kinerja CGM, tapi teknologi ini jelas non-invasif. Dr Leandro Pecchia dari School of Engineering di University of Warwick mengatan bahwa “Fingerpick tidak pernah menyenangkan dan dalam beberapa keadaan sangat rumit.

Mengambil fingerpick pada malam hari tentu tidak menyenangkan, terutama bagi pasien anak-anak,” kata Pecchia. Menurut Pecchia, inovasi yang ia kembangkan terdiri dari penggunaan kecerdasan buatan untuk mendeteksi hipoglikemia otomatis melalui beberapa ketukan EKG.

Teknologi ini relevan karena EKG dapat dideteksi dalam keadaan apa pun, termasuk tidur. Gambaran tersebut menunjukkan output dari algoritma dari waktu ke waktu. Garis hijau mewakili kadar glukosa normal, sedangkan garis merah mewakili kadar glukosa rendah. Garis horizontal mewakili nilai glukosa 4mmol / L, yang dianggap sebagai ambang batas yang signifikan untuk kejadian hipoglikemik.

Area abu-abu di sekitar garis kontinyu mencerminkan bar kesalahan pengukuran. Model Warwick menyoroti bagaimana perubahan EKG selama peristiwa hipoglikemik. Seperti perubahan dalam detak jantung.

Setiap gelombang EKG menentukan apakah detak jantung diklasifikasikan sebagai hipo atau normal. Hasil ini dimungkinkan karena model Warwick AI dilatih dengan data masing-masing subjek. Perbedaan intersubjektif sangat signifikan, sehingga pelatihan sistem menggunakan data kohort tidak akan memberikan hasil yang sama. Demikian juga terapi yang dipersonalisasi berdasarkan sistem tersebut bisa lebih efektif daripada pendekatan saat ini.

“Perbedaan yang disorot di atas dapat menjelaskan mengapa penelitian sebelumnya yang menggunakan ECG untuk mendeteksi peristiwa hipoglikemik gagal. Kinerja algoritma AI yang dilatih tentang kohort, data ECG akan terhalang oleh perbedaan antar subjek ini,” jelas Pecchia.

“Pendekatan kami memungkinkan penyetelan algoritme deteksi yang dipersonalisasi dan menekankan bagaimana peristiwa hipoglikemik memengaruhi EKG pada individu.

Berdasarkan informasi ini, dokter dapat menyesuaikan terapi untuk setiap individu. Jelas diperlukan lebih banyak penelitian klinis untuk mengonfirmasi hasil ini pada populasi yang lebih luas. Inilah sebabnya mengapa kami sedang mencari mitra,“ tambah Pecchia. nik/dariberbagaisumber/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment