Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

BJ Habibie, Negarawan yang Patut Dicontoh

BJ Habibie, Negarawan yang Patut Dicontoh

Foto : ANTARA/PUSPA PERWITASARI
A   A   A   Pengaturan Font
>>Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie adalah sosok ilmuwan kelas dunia dan Bapak Teknologi Indonesia.

 

JAKARTA – Bangsa Indonesia ber­duka. Presiden ke-3 Republik Indo­nesia, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia dalam usia 83 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, pada pukul 18.05 WIB, Rabu (11/9).

Putra bungsu BJ Habibie, Thareq Ke­mal Habibie, mengumumkan BJ Habibie meninggal karena sudah menua. “Me­mang kemarin kan saya katakan, penya­kit gagal jantung. Akibat karena penuaan organ-organ itu melemah dan menjadi tidak kuat lagi,” katanya.

Maka dari itu, kata dia, tadi pukul 18.05 WIB jantungnya dengan sendiri menyerah sampai detik terakhir. “Saya ada di situ. Hari ini pada tanggal 11 Sep­tember 2019, jam 18.05 WIB, Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Ia pun memohon doanya, mohon duka citanya. “Kami berterima kasih, mohon pengertiannya, kami dalam ke­adaan berkabung,” kata dia.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan belasungkawa men­dalam atas berpulangnya BJ Habibie. “Perkenankan, saya atas nama selu­ruh rakyat Indonesia dan pemerintah, menyampaikan duka yang mendalam, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya ke Rah­matullah, Bapak Prof BJ Habibie, tadi jam 18.05 WIB, di RSPAD,” kata Presiden saat memberikan keterangan usai me­layat di RSPAD, Gatot Subroto. Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi dan putranya, Gibran Rakabuming Raka.

Presiden lalu menyebut almarhum Habibie adalah sosok ilmuwan kelas du­nia dan juga Bapak Teknologi Indonesia. Presiden menjelaskan, almarhum selalu memberikan perhatian terkait persoa­lan-persoalan yang dihadapi Indonesia, baik yang berkaitan dengan ekonomi maupun kebangsaan.

“Beliau selalu langsung menyampai­kan solusinya, jalan keluarnya. Kadang sering beliau datang ke Istana atau saya yang datang ke rumah Pak Habibie. Saya kira beliau adalah seorang negara­wan yang patut kita jadikan contoh dan suri tauladan dalam berkehidupan,” je­las Presiden.

Karena itu, Presiden langsung me­merintahkan Menteri Sekertaris Negara (Mensesneg), Pratikno, untuk meng­urus semua persiapan kepulangan hingga pemakaman pada Kamis (12/9).

Pratikno menjelaskan, almarhum Habibie akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Ja­karta Selatan. Tepatnya di samping makam almarhumah istrinya, Hasri Ai­nun Habibie, yakni di slot 120–121. “In­sya Allah upacara dipimpin Bapak Pre­siden,” tutur Pratikno.

Dalam kesempatan itu, Pratikno mengajak masyarakat untuk mengibar­kan bendera setengah tiang mulai Rabu (11/9) sampai Sabtu (14/9). “Jadi, kita tetapkan berkabung nasional selama tiga hari sampai tanggal 14 September,” tutup Pratikno.

BJ Habibie lahir di Parepare, Sulawe­si Selatan, pada 25 Juni 1936. Dia dika­runiai dua putera. Istrinya, Hasri Ainun Besari meninggal dunia lebih dulu. Habibie sangat kehilangan istrinya.

Kehilangan Sahabat

Meninggalnya BJ Habibie telah membuat banyak orang kehilangan. Ru­mah duka di kawasan Patra, Kuningan, Jakarta Selatan, silih berganti datang para tokoh, pejabat, mantan pejabat, serta masyarakat dari berbagai golong­an. Karangan bunga belasungkawa tak henti-henti berdatangan.

Sejumlah pemimpin luar negeri me­lalui kedutaan besar di Jakarta maupun lewat media sosial juga menyampaikan belasungkawa meninggalnya BJ Habibie. Malah, Pimpinan Partai Keadilan Rak­yat (PKR) Malaysia, Anwar Ibrahim, me­ngaku kehilangan sahabat karib. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia itu me­ngatakan Habibie seorang individu yang sudah seperti keluarganya sendiri.

Anwar mengenang Habibie sebagai sosok sederhana dan pintar, bahkan da­lam berbicara. Dia menyebut Habibie bu­kan politikus biasa. “BJ Habibie ini bicara dari keyakinan serta dari hati nurani. Per­kara ini saya lihat sebagai sesuatu yang unik dari seorang tokoh dan pemimpin besar yang pastinya akan dirindui serta dikenang semua pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, berharap semua jasa dan pengabdian almarhum Presiden Ketiga BJ Habibie terus dikenal dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus. “Kepergiannya merupakan kehilangan bagi semua warga Indonesia, dan Indo­nesia telah kehilangan tokoh besar da­lam sejarah bangsa,” ujarnya. Ant/fdl/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment