Bisnis “Startup” Mulai Menurun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | March 29 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Bisnis “Startup” Mulai Menurun

Bisnis “Startup” Mulai Menurun
A   A   A   Pengaturan Font

Usaha Startup atau perusahaan rintisan dalam negeri saat ini tak seheboh tahun lalu. Selain diam-diam promosi, programnya sekadar melanjutkan sebelumnya tanpa terobosan. Malah, startup unicorn yang bervaluasi di atas satu miliar dollar AS, seperti Gojek, Tokopedia, atau Bukalapak cenderung menunggu.

Tak cuma itu, beberapa startup kelas menengah bawah disebut-sebut mulai melakukan pemutusan hubungan kerja. Bahkan, ada beberapa startup asing terang-terangan mengurangi tenaga kerja dan menunda aksi korporasi, seperti penawaran umum saham perdana.

Penurunan aktivitas startup tak lepas dari tren global. Dimulai dari Uber yang terus menurun kinerjanya, kemudian SoftBank yang gagal membangun OYO, CloudMind, dan WeWork. Betapa tidak, WeWork yang semula digadang-gadang menjadi startup global karena berhasil mengembangkan layanan ruang kerja bersama (co-working space), ternyata mundur selangkah alias salah strategi. Upaya SoftBank menyuntikan dana ke WeWork hanya cukup untuk menalangi bayar pemutusan hubungan kerja. Selanjutnya, WeWork menunggu trik baru agar kembali berjaya.

Diketahui, beberapa perusahaan startup yang didanai perusahaan investasi Jepang, SoftBank, yakni OYO dan CloudMind, memberhentikan ribuan karyawan karena bisnis terus merugi. Pada akhir Januari, OYO mem-PHK ribuan karyawan di AS, India, dan Tiongkok. Di India, OYO sudah memberhentikan 2.000 dari 10.000 karyawan. Sepekan sebelumnya, startup yang bergerak di bisnis perhotelan ini telah memecat 5 persen dari 12.000 ribu karyawannya di Tiongkok atau 600 orang. Startup kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) CloudMind juga memberhentikan sekitar 175 sampai 225 dari total 700 karyawannya di Tiongkok. Perusahaan juga harus menutup kantornya di Silicon Valley, AS.

Sudah jadi rahasia umum, kebanyakan startup rela rugi bertahun-tahun demi mengejar pertumbuhan bisnis dan pangsa pasar. Mereka membakar duit investor yang dikumpulkan melalui diskon dan cashback hingga menggratiskan layanan kepada pengguna.

Namun, kini startup besar Indonesia mengambil langkah berbeda dengan mencoba mengejar profit. Tokopedia, contohnya, menargetkan tahun ini mencetak profit. Manajemen juga akan mendorong inovasi sebagai strategi bersaing ketimbang bakar uang. Gojek juga mengambil langkah sama, mengubah fokus menjadi perusahaan bisnis berkelanjutan sudah mulai diusahakan sejak 2018.

Perubahan strategi ini bisa diartikan, investor startup sudah menuntut balik modal alias menghitung return on investment (ROI). Jadi startup dituntut secepat mungkin mencatatkan profit. Tentu banyak yang harus dilakukan, misalnya, setop diskon dan promo, efisiensi dan mengubah bisnis model.

Di saat investor mengubah orientasi, pola bisnis startup ikut berubah total dan efisiensi wajib dilakukan. Di sini letak masalah startup. Turn over karyawan menjadi tinggi. Jadi tidak ada job security. Dengan pola seperti itu, pekerja startup rawan di-PHK kapan pun.

Masalah startup memang sangat kompleks. Status pengemudi ojek online yang dianggap mitra. Padahal pekerja juga. Lebih dari itu, ada beberapa startup yang sudah kadung enjoy bakar uang. Namun, SDM tidak disiapkan untuk make profit. Akhirnya, banyak startup yang gagap kemudian berada di tepi jurang kebangkrutan.

Ya, membuat perusahaan rintisan yang sukses bukan perkara mudah. Dari sekitar 1.500 hingga 1.700 perusahaan rintisan Indonesia yang sukses masih sedikit.

Untuk itu, startup harus menghadirkan solusi benar-benar baru atau inovatif dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Jika sudah ada perusahaan ride hailing besar lalu berusaha membuat platform sama seperti Gojek, sama saja bunuh diri. Intinya, startup jangan ikut-ikutan, mesti orisinal dan berkelanjutan.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment