Koran Jakarta | June 25 2018
No Comments

Bijak Berinternet agar Tidak Kecanduan

Bijak Berinternet agar Tidak Kecanduan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Kecanduan Internet

Editor : Kimberly S Young

Penerbit : Pustaka Pelajar

Cetakan : Juli 2017

Tebal : xxix + 458 halaman

ISBN : 978 602 229 763 5

 

Internet menjadi sarana komunikasi, kreativitas, transaksi, hiburan, pendidikan, dan pergaulan. Semua menjadi jauh lebih mudah dan menyenangkan. Namun di sisi lain, dia juga menyelipkan pengaruh buruk ketika kemudahan dan kenyamanan justru melahirkan kecanduan.

Kecanduan internat terbilang buruk karena melahirkan kebergantungan. Seperti terhadap alkohol dan narkoba, pecandu internet juga merasakan gejala fisik dan psikis serupa saat tidak memakai internet. Bahkan hingga tingkatan tertentu, pecandu internet mengalami anomali sosial. Dia akan lebih senang berkomunikasi dengan orang di dunia maya daripada dunia nyata.

Untuk pertama kalinya pada tahun 1996, Kimberly S Young meneliti ibu rumah tangga yang menghabiskan 60 jam perpekan di depan internet. “Ia menggambarkan diri mengalami kecanduan terhadap medium itu seperti orang kecanduan alkohol,” katanya (hlm vi). Penelitiannya membuka keran persoalan banyak negara. Sejak itu, banyak laporan kasus serupa dipublikasikan. Klinik dibuka dan beberapa kampus membuat program pencegahan kecanduan internet.

Direktur China Youth Assosicition for Nertwok Development, Ying, meneliti internet kompulsif melalui pendekatan neuropsikologis.

Kesimpulannya, ciri-ciri orang kecanduan internet lebih mudah mencapai aktualisasi diri dalam dunia online. Mereka mengalami disforia atau depresi tanpa internet dan cenderung menyembunyikan penggunaan waktu internet yang sebenarnya dari keluarga. Lebih delapan jam per hari online merupakan gejala kecanduan internet.

Pola tahapan kecanduan internet berawal dari sifat primitif manusia yang memburu kenikmatan dan kesenangan untuk lari dari penderitaan. Ketidakmampuan menghadapi persoalan hidup adalah alibi terkuat untuk menjadikan internet sebagai pelarian. Rasa euforik yang didapatkan dengan online, mendorong untuk mengulangi terus. Di titik ini, ambang batas sensorik meningkat sehingga untuk mendapat kenikmatan pengalaman yang sama, dia harus menambah hasrat dan waktu. “Sindroma fisik dan psikologis terjadi ketika penggunaan internet berkurang, terutama meliputi disforia, insomania, ketidakstabilan emosi, iritabilitas, dan sebagainya,” kata Ying (hlm 14).

Buku ini menjelaskan beragam teori penelitian untuk mengetahui sebab dasar internet adiktif, misalnya, teori koginitif-perilaku, kompensasi dan teori situasional. Semua teori memaparkan kesamaan benang merah bahwa para pecandu internet rata-rata disebabkan ketidakcakapan menghadapi realitas kehidupan. Pengobatan dari terapi farmakalogis, training, dan bersifat klinis.

Pencegahan disepakati sebagai langkah utama pengobatan. Sebab, pengobatan tidak hanya sulit mengembalikan kesadaran asal, melainkan juga dalam prosesnya bisa mengikis kesehatan, serta kekuatan mental dan pikiran yang bersangkutan. Pencegahan berupa sosialisasi akan bahaya internet menggunakan pendekatan atraktif berupa audio visual, penguatan pengawasan keluarga, serta rutinitas sesi konsultasi berkaitan dengan internet.

Langkah pencegahan utamanya diarahkan pada anak usia 9–19. Sebab usia tersebut paling dua kali lipat rentan dibanding usia lainnya. Hal demikian terjadi karena tingkat pengetahuan bahaya internet masih rendah. Kematangan emosional guna mengontrol diri juga minim. Tambah lagi, secara neorobiologis, otak korteks frontal belum berkembang maksimal (hlm 383).


Diresensi Mohammad Arief Yusran, Mahasiswa Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment