Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Pertumbuhan Produksi Industri Besar dan Sedang Melambat

Biaya Bahan Baku Impor Naik, Pelemahan Manufaktur Berlanjut

Biaya Bahan Baku Impor Naik, Pelemahan Manufaktur Berlanjut

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pasar ekspor melambat karena efek perang dagang dan perlambatan global.

>> Pemerintah tidak memiliki fokus strategi pada bidang yang ingin dikembangkan.

 

JAKARTA - Kinerja industri peng­olahan atau manufaktur nasional dipre­diksi belum membaik tahun ini. Hal itu antara lain disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku impor yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, ke­naikan bunga kredit, dan perlambatan ekonomi global.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan sepanjang 2019 di­perkirakan masih terjadi perlambatan pertumbuhan industri pengolahan. Pe­nurunan industri terlihat pada sektor elektronik, jasa reparasi, industri bahan kimia, dan kayu.

“Faktornya disebabkan kenaikan biaya impor bahan baku di tengah-tengah vola­tilitas kurs rupiah. Bahan kimia dan elek­tronik sangat mengandalkan bahan baku impor,” kata dia, di Jakarta, Selasa (5/2).

Di sisi yang lain, lanjut Bhima, per­tumbuhan konsumsi rumah tangga re­latif lambat di kisaran lima persen, pasar di dalam negeri relatif stagnan. Faktor ta­hun politik juga membuat produsen cen­derung berhati-hati untuk berekspansi.

“Ditambah kenaikan suku bunga kre­dit menambah cost of borrowing peng­usaha. Pasar ekspor pun melambat karena efek perang dagang, dan perlam­batan ekonomi global menyebabkan pe­nurunan permintaan dari negara tujuan ekspor utama,” papar dia.

Menurut Bhima, strateginya peme­rintah perlu mendesain insentif fiskal yang spesifik pada sektor yang meng­alami pelemahan. Insentif bisa berupa penurunan tarif bea keluar dan pemang­kasan izin ekspor produk manufaktur.

Selain itu, perluasan pasar ke nega­ra nontradisional juga penting sebagai strategi mengantisipasi perlambatan ekonomi negara maju. “Proyeksi per­tumbuhan kawasan di Timur Tengah dan Sub Sahara Afrika hingga 2020 ber­ada dalam tren yang positif,” imbuh dia.

Terakhir, saat ini waktunya bagi peng­usaha melakukan efisiensi di segala lini produksi. “Strategi cutting cost adalah jalan keluar dari tekanan naiknya biaya produksi,” ujar Bhima.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan pro­duksi Industri Besar dan Sedang (IBS) sebesar 4,07 persen sepanjang 2018 atau melemah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 4,74 persen. (Lihat infografis)

Kepala BPS, Suhariyanto, mengung­kapkan pertumbuhan IBS ini merupa­kan yang terlemah kedua dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan produksi manufaktur sedang dan besar pernah mencatat angka yang lebih buruk, yakni 4,01 persen pada 2016.

“Secara year-on-year (tahunan) me­mang ini melambat dibandingkan ta­hun kemarin, sehingga pemerintah perlu memperhatikan angka ini,” jelas Suhariyanto, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pelemahan kinerja itu karena 2018 adalah tahun yang berat bagi industri manufaktur. Banyak sentimen ekstenal yang mempengaruhi perilaku produksi pelaku industri manufaktur.

Contohnya, perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) yang sampai saat ini belum menemui titik temu. Selain itu, beberapa mitra utama ekspor Indonesia juga tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Tiongkok, misalnya, tahun lalu men­catat pertumbuhan ekonomi 6,6 persen, angka terendah dalam 28 tahun ter­akhir. Padahal, porsi ekspor non-migas Indonesia ke Tiongkok sepanjang 2018 mencapai 24,39 miliar dollar AS, atau 15 persen dari total ekspor non-migas yang sebesar 162,65 miliar dollar AS.

Tak Punya Fokus

Guru Besar Fakultas Ekonomi Uni­versitas Brawijaya Malang, Munawar Ismail, mengatakan pelemahan industri manufaktor nasional sudah berlangsung lama. Ini disebabkan pemerintah dari waktu ke waktu belum memiliki dan menetapkan fokus strategi pada bidang yang ingin dikembangkan.

“Sebenarnya deindustrialisasi kita su­dah terjadi sejak 10 tahun terakhir, bah­kan sebelum itu. Meskipun bukan ber­kurang output-nya, tapi kontribusinya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) terus menerus merosot,” papar dia.

Hal itu, kata Munawar, merupakan pertanda kalau memang terjadi pele­mahan. Penyebabnya, pemerintah tidak punya grand strategy terarah untuk me­ningkatkan daya saing. Bahkan, belakang­an ini lebih banyak fokus ke perdagangan daripada industri. “Kalau kita tidak punya grand strategy jangankan bersaing ke luar, bersaing dengan produk impor di dalam negeri saja akan susah. Boleh saja peme­rintah sekarang fokus ke infrastruktur, tapi manufaktur jangan ditinggalkan ka­rena ini strategis bagi penyerapan tenaga kerja,” jelas Munawar. ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment