Koran Jakarta | May 30 2017
No Comments
Operasi Moneter

BI Waspadai Risiko Global dan Domestik

BI Waspadai Risiko Global dan Domestik

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17-18 Mei 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen yang berlaku efektif sejak 19 Mei 2017.

Keputusan tersebut konsisten dengan upaya bank sentral menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan dengan tetap mendorong proses pemulihan perekonomian domestik. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara di Jakarta, Kamis (18/5) mengatakan tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global maupun domestik. Dari global, perkembangan kebijakan di AS dan geopolitik khususnya di Semenanjung Korea merupakan sejumlah risiko yang perlu tetap diwaspadai.

Sedangkan, dari domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan. “BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan,” kata Tirta.

Selain itu, otoritas moneter itu terus mempererat koordinasi bersama Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

 

Prospek Global

 

Lebih lanjut disampaikannya, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan membaik, meskipun beberapa risiko tetap perlu dicermati. Peningkatan prospek ekonomi dunia ditopang oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi di AS, Tiongkok, Eropa dan Jepang. Perekonomian di AS didukung oleh konsumsi yang solid serta peningkatan investasi properti nonresidensial.

Di Tiongkok, perekonomian tumbuh lebih baik dengan meningkatnya kegiatan investasi swasta dan perbaikan ekspor. “Ke depan, sejumlah risiko terhadap perekonomian global tetap perlu diwaspadai, antara lain kenaikan Fed Fund Rate, kebijakan fiskal dan perdagangan serta penurunan besaran neraca bank sentral AS, dan perkembangan geopolitik di beberapa kawasan, khususnya di Semenanjung Korea,” katanya. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment