BI Prediksi CAD 2019 Turun Jadi 2,7% | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Kinerja Ekonomi - Jangan Selalu Salahkan Faktor Eksternal

BI Prediksi CAD 2019 Turun Jadi 2,7%

BI Prediksi CAD 2019 Turun Jadi 2,7%

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Membaiknya prospek defisit transaksi berjalan didukung oleh sejumlah faktor, antara lain program B20 yang akan memangkas impor BBM.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan menyusut jadi sekitar 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini. Pada 2018, CAD mencapai 2,9 persen dari PDB.

“Secara keseluruhan 2019 (defisit transaksi berjalan) akan lebih baik, akan di bawah tiga persen (dari PDB) atau sekitar 2,7 persen,” papar Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Endy Dwi Tjahjono, dalam Pelatihan Wartawan BI di Manggarai Barat, NTT, Senin (9/12).

Perbaikan CAD, lanjut dia, membuat neraca pembayaran Indonesia bakal surplus 1,5 miliar dollar AS sepanjang tahun ini. Angka tersebut membaik dibandingkan yang dicatat tahun sebelumnya yang defisit 7,1 miliar dollar AS. Menurut Endy, membaiknya prospek defisit transaksi berjalan didukung oleh sejumlah faktor, antara lain program campuran biodiesel pada minyak solar sebesar 20 persen (B20).

Bank sentral optimistis program itu mampu menekan impor minyak solar. “Kalau dari minyak kelapa sawit mentah (CPO) bisa diubah menjadi B100 maka biodiesel tidak perlu diekspor lagi. Kita gunakan untuk menggantikan impor BBM (bahan bakar minyak),” imbuh dia.

Indonesia dinilai juga bisa meningkatkan kinerja transaksi berjalan jika bisa menjadi sentra produksi baterai mobil listrik hingga mobil listrik global. Sebab, Indonesia kaya akan bahan baku baterai mobil listrik, seperti nikel dan cobalt.

Sebagaimana dikabarkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan membereskan defisit transaksi berjalan dalam 3–4 tahun ke depan. Sebab, masalah struktural ekonomi RI itu selalu membuat nilai tukar rupiah berfluktuasi. “Kita tahu sudah berapa tahun defisit perdagangan kita, CAD kita, selalu mengganggu volatilitas rupiah. Sehingga perlu kita selesaikan,” tegas Presiden Jokowi, belum lama ini.

Kepala Negara juga mengatakan pemerintah terus mengembangkan B20, yang nantinya akan masuk B50 dan seterusnya. Dengan demikian, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan jadi bisa lebih baik.

Selain melalui program B20 dan hilirisasi industri, perbaikan neraca transaksi berjalan juga dilakukan melalui pengembangan kawasan destinasi wisata baru yang disebut “Bali Baru”, yaitu Mandalika, Borobudur, Manado, Danau Toba, dan Labuan Bajo. Pengembangan dilakukan untuk menambah aliran devisa dari sektor pariwisata.

 

Sumber Ketidakpastian

 

Sementara itu, terkait dengan perkembangan ekonomi global, BI berharap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, segera lengser. Sebab, Trump dinilai menjadi sumber dari ketidakpastian ekonomi global. “Mudahmudahan Trump diganti. Ia sumber utama kondisi global yang tidak kondusif,” ujar Endy.

Kebijakan Trump yang menjadi perhatian dunia adalah sikap proteksionisme yang memantik perang dagang dengan Tiongkok sejak tahun lalu. Perang dagang antara kedua raksasa ekonomi dunia itu menjadi salah satu faktor pengganjal pertumbuhan ekonomi global.

Menurut ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Achmad Ma’ruf, semestinya pejabat negara jangan selalu menyalahkan faktor eksternal sebagai penyebab melemahnya kinerja ekonomi dalam negeri, lebih baik memperbaiki diri bila ada masalah. “BI ini lembaga keuangan terpenting, tidak semestinya mengeluarkan statemen yang bisa menjadi bahan tertawaan dunia,” kata Ma’ruf.

Secara umum, dia mengingatkan agar pemilihan pejabat negara selalu mengedepankan pertimbangan prestasi, bukan hal-hal lain. Hal senada dikemukakan peneliti Indef, Bhima Yudhistira. Dia menyayangkan BI menyalahkan faktor eksternal yang jelas-jelas merupakan faktor yang tidak bisa dikendalikan.

Menurut Bhima, BI harus fokus benahi masalah dalam negeri yang menjadi tanggung jawabnya. “Misalnya, kenapa transmisi penurunan suku bunga BI lambat ke bunga kredit? Kenapa likuiditas bank mengetat, apa terjadi perebutan dana antara pemerintah dan perbankan khususnya ketika pemerintah sibuk terbitkan SBN (Surat Berharga Negara)?” papar Bhima.

Kebijakan BI, menurut dia, jarang direspons oleh perbankan secara cepat, salah satunya karena struktur bank di Tanah Air yang tidak sehat. 

 

bud/YK/SB/ers/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment