Koran Jakarta | October 20 2017
No Comments
Operasi Moneter - BI 7-day RR Rate Dipertahankan di Level 4,75 Persen

BI Pertahankan “Stance” Kebijakan

BI Pertahankan “Stance” Kebijakan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
BI meyakini kondisi saat ini dengan tingkat suku bunga acuan tetap mampu mencapai sasaran inflasi di kisaran 3–5 persen.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang berasal dari global maupun domestik. Karena itu, bank sentral terus berupaya memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara, mengungkapkan dari sisi global terdapat indikasi perbaikan prospek perekonomian negara maju. Namun, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, terutama wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan faktor geopolitik.

“Sedangkan dari domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian,” kata Tirta saat pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, Kamis (20/4).

Kondisi tersebut membuat BI mempertahankan operasi moneternya. RDG BI pada 18 dan 20 April 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) di level 4,75 persen. Demikian juga dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen efektif 21 April 2017.

Tirta memaparkan keputusan tersebut konsisten dengan upaya bank sentral menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Lebih lanjut, Tirta mengatakan prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan terus membaik meskipun masih terdapat risiko yang perlu dicermati.

Prospek ekonomi dunia yang meningkat antara lain ditopang oleh ekonomi AS yang terus menguat disertai dengan membaiknya ekonomi Eropa dan Tiongkok.

 

Kinerja Pertumbuhan

 

Dari dalam negeri, lanjut Tirta, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2017 diperkirakan tetap stabil meskipun di bawah perkiraan semula. Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama dipengaruhi oleh investasi yang membaik dan kinerja ekspor yang tetap positif.

Investasi pada triwulan I 2017 yang membaik didukung oleh investasi bangunan dan nonbangunan. Perbaikan investasi nonbangunan didukung oleh kenaikan harga komoditas seperti terlihat pada penjualan alat berat untuk pertambangan dan perkebunan yang meningkat. Kenaikan harga komoditas juga mendorong kinerja ekspor yang tumbuh positif.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2017 berpotensi sedikit melambat tecermin dari pertumbuhan penjualan eceran dan motor yang menurun, dipengaruhi oleh proses konsolidasi korporasi yang masih berlanjut. “Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat pada triwulan II 2017 ditopang oleh perbaikan investasi dan ekspor, sedangkan konsumsi diperkirakan relatif stabil,” katanya.

Perbaikan harga komoditas dan penguatan permintaan terkait pemulihan ekonomi global diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja ekspor dan investasi. Ke depan, peran stimulus fiskal diharapkan dapat tetap terjaga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Kepala Departemen Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, mengatakan stance kebijakan moneter BI tetap netral.

Artinya, kondisi saat ini dengan tingkat suku bunga acuan diyakini mampu mencapai sasaran inflasi di kisaran 3–5 persen. “Jadi, untuk sekarang tidak ada risiko untuk kita melakukan perubahan suku bunga acuan,” katanya. 

 

ahm/bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment