Koran Jakarta | May 21 2018
No Comments
Mata Uang - Bank Sentral Jangan Terlalu Andalkan Devisa

BI Mesti Naikkan Bunga untuk Perbaiki Rupiah

BI Mesti Naikkan Bunga untuk Perbaiki Rupiah

Foto : Sumber: Bloomberg – Litbang KJ/and/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>BI jangan alergi menaikkan suku bunga karena ini bagian dari taktik jangka pendek.

>>Kenaikan inflasi tahunan pada April 2018 turut menekan posisi mata uang RI.

 

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai sudah semestinya menaikkan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, dari level 4,25 persen saat ini untuk meredam tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah.

Sementara itu, pada perdagangan Rabu (2/5), kurs rupiah kembali melemah terhadap dollar AS. Bloomberg mencatat rupiah di pasar spot melemah 0,25 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya, menjadi 13.948 rupiah per dollar AS.

Kurs tengah BI juga mencatat pelemahan rupiah sebesar 0,42 persen menjadi 13.936 rupiah per dollar AS.

Pelaku pasar menyebutkan menguatnya dollar AS terhadap rupiah dan mata uang Asia lainnya dipicu oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury yang mencapai level tertinggi sejak September 2008 di 2,5 persen.

Dari dalam negeri, data ekonomi domestik juga turut menekan posisi mata uang RI tersebut. Terkait kebijakan BI, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menilai penyesuaian suku bunga acuan BI sudah semestinya dilakukan untuk meredam penguatan dollar AS. “Pilihannya antara kurs dengan tingkat bunga.

Jadi, kalau tekanan kursnya berjalan terus, pasti adjustment-nya di tingkat bunga,” kata Darmin, di Jakarta, Rabu. “Artinya, itu satu cara yang biasanya berpengaruh kepada meredam atau memperlambat, kalau bisa menghentikan,” lanjut dia.

Beberapa waktu lalu, BI menyatakan tidak menutup kemungkinan penyesuaian suku bunga acuan jika pelemahan rupiah mengancam stabilitas sistem keuangan.

Sebelumnya, pengamat ekonomi UGM, Tony Prasetiantono, mengatakan kenaikan suku bunga acuan BI bisa menjadi upaya jangka pendek yang dilakukan bank sentral untuk menekan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang hampir menyentuh level psikologis 14 ribu rupiah per dollar AS.

“Jangan alergi dengan menaikkan suku bunga karena ini bagian dari taktik jangka pendek,” kata Tony.

Menurut dia, kenaikan suku bunga acuan dari posisi saat ini sebesar 4,25 persen bisa menjadi alternatif bank sentral untuk menjaga fluktuasi kurs rupiah agar tidak sepenuhnya bergantung dari cadangan devisa.

“Kalau naik setidaknya 25 basis poin, mudah-mudahan rupiah masih terselamatkan,” kata Tony. Dia meyakini dengan kenaikan suku bunga acuan tersebut maka pergerakan kurs rupiah terhadap dollar AS dapat lebih terkendali.

Sementara itu, apabila tekanan depresiasi rupiah terus berlanjut maka akan memicu inflasi. Namun, menurut Darmin, inflasi pada April 2018 yang sebesar 0,10 persen masih sejalan dengan target pemerintah.

Meski begitu, pelaku pasar uang mengatakan inflasi tahunan April 2018 sebesar 3,41 persen atau naik dibandingkan bulan yang sama tahun lalu sebesar 3,40 persen, berdampak negatif terhadap pergerakan rupiah. Angka inflasi itulah yang menjadi salah satu faktor domestik yang menekan rupiah.

Intervensi BI

Terkait intervensi BI, pelaku pasar memperkirakan BI kemungkinan masuk ke pasar untuk menahan pelemahan rupiah yang lebih dalam, misalnya sampai menembus 14 ribu rupiah per dollar AS.

Sebab, di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), kurs rupiah untuk tenor overnight diperdagangkan pada 14.045 rupiah per dollar AS, dan untuk tenor satu bulan mencapai 14.060–14.080 rupiah per dollar AS.

Tanpa intervensi BI, rupiah bisa terkoreksi lebih tajam. Sementara itu, Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengungkapkan jumlah cadangan devisa hingga akhir April 2018 masih mencukupi untuk menahan gejolak nilai tukar rupiah, meskipun tekanan arus modal keluar cukup kencang dipicu sentimen dari dinamika perekonomian AS.

“Indonesia tidak panik. Kita yakinkan kita punya devisa yang cukup untuk jaga ekonomi kita,” kata Agus, di Semarang, Rabu. Hingga akhir Maret 2018, cadangan devisa Indonesia mencapai 126 miliar dollar AS atau turun 2,06 miliar dollar AS dari posisi Februari 2018.

Salah satu penyebab penurunan devisa itu untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di pasar. Gubernur BI kembali menekankan arah kebijakan moneter BI

saat ini adalah membuka peluang untuk penyesuaian suku bunga acuan jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan mengganggu stabilitas sistem keuangan. ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment