BI Lakukan “Triple Intervention” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
Stabilisasi Rupiah - Akhir Pekan Lalu, Kurs Rupiah Tertekan ke Level Terlemah sejak 20 Juni 2019

BI Lakukan “Triple Intervention”

BI Lakukan “Triple Intervention”

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah akibat kekhawatiran memanasnya tensi perang dagang akhir pekan lalu, BI menaikkan “dosis” intervensinya ke pasar.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan sudah melakukan tiga intervensi atau triple intervention di pasar spot, pasar obligasi dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) atau pasar berjangka valas.

Langkah itu dimaksudkan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang tertekan cukup dalam setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penaikan kembali tarif perdagangan dengan Tiongkok. “Kami sudah intervensi di spot, pasar obligasi dan DNDF,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, saat dihubungi Antara, di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Pernyataan Nanang tersebut menanggapi upaya bank sentral mengantisipasi depresiasi rupiah pada perdagangan akhir pekan lalu. Pada pembukaan pasar di Jumat pekan lalu, nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak melemah hingga 91 poin atau 0,65 persen menjadi 14.209 rupiah per dollar AS. Bahkan, dalam kurs tengah BI, nilai tukar rupiah tertekan hingga 14.203 rupiah per dollar AS atau level terlemah sejak 20 Juni 2019.

Meski demikian, Nanang menyebutkan pelemahan rupiah ini hanya sementara karena sentimen pelaku pasar menyikapi pernyataan Presiden Trump. “Depresiasi timbul di pasar, tapi ini hanya sementara, setelah rencana Trump memberlakukan tarif baru dalam perdagangan dengan Tiongkok,” tambahnya.

Sebelumnya, Trump melontarkan cuitan di media sosial Twitter bahwa pihaknya akan memberlakukan tarif baru pada impor barang-barang Tiongkok, yang dia sebut sebagai upaya melindungi ekonomi AS dari risiko kebijakan perdagangan global.

Ancaman tersebut cukup mengejutkan karena delegasi pemerintah AS baru saja kembali dari negosiasi dagang di Shanghai, Tiongkok, yang dinilai pasar sebagai perundingan yang disebut cukup konstruktif. Namun, pernyataan Trump membuat tensi konflik dagang kembali meningkat.

Dalam serangkaian cuitannya Trump mengatakan ia akan mengenakkan tarif 10 persen pada 300 miliar dollar AS impor Tiongkok mulai 1 September 2019. Dia merasa tidak puas dengan proses negosiasi perdagangan antara kedua negara adidaya yang selama ini dipandang pasar akan menghasilkan dampak positif.

 

Cadangan Devisa

 

Apabila upaya stabilisasi rupiah tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan bisa menggerus cadangan devisa. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2019 tercatat sebesar 123,8 miliar dollar AS atau meningkat dibandingkan posisi pada akhir Mei 2019 yang tercatat sebesar 120,3 miliar dollar AS.

Peningkatan cadangan devisa pada Juni 2019, terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan valas lainnya, serta penarikan utang luar negeri pemerintah.

Dalam keterangan, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, di Jakarta, beberapa waktu lalu menyebutkan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. 

 

bud/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment