Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Mata Uang - Waspadai Hasil Lelang SUN yang Jauh di Bawah Target

BI Buka Ruang Naikkan Suku Bunga Acuan

BI Buka Ruang Naikkan Suku Bunga Acuan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Penaikan bunga acuan akan dilakukan secara terukur dan mengacu pada data.

>>Kenaikan harga minyak global berpotensi memperburuk defisit transaksi berjalan.

 

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan tidak menutup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, dari posisi saat ini di 4,25 persen.

Kebijakan itu akan diterapkan apabila tekanan depresiasi rupiah terus berlanjut dan berpotensi menghambat pencapain target inflasi, serta mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.

“BI tidak akan ragu untuk melakukan penyesuaian BI 7-Day Reverse Repo Rate, tapi dengan kondisi bahwa perkembangan daripada nilai tukar yang dalam banyak hal adalah pengaruh kondisi global,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Jakarta, Kamis (26/4).

Dia menegaskan penaikan suku bunga acuan akan dilakukan secara hati-hati, terukur, dan mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan kondisi perekonomian ke depan.

Pada perdagangan di pasar spot, Kamis, rupiah menguat 0,22 persen dibandingkan posis i hari sebelumnya, menjadi 13.891 rupiah per dollar AS. Sebaliknya, kurs tengah BI mencatat rupiah melemah 0,3 persen ke level 13.930 rupiah per dollar AS.

Menurut Gubernur BI, depresiasi rupiah kali ini bersifat musiman karena meningkatnya permintaan valas dari dalam negeri pada triwulan II-2018, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri, pembiayaan, impor, dan juga pembayaran dividen.

“Penguatan dollar AS ini adalah dampak dari berlanjutnya kenaikan imbal hasil US Treasury atau suku bunga obligasi pemerintah AS hingga mencapai 3,03 persen. Ini tertinggi sejak 2013,” imbuh Agus.

Sebelumnya, ekonom Universitas Islam Indonesia (UII), Suharto, menilai BI tengah menghadapi situasi “maju kena mundur kena” terkait kebijakan bunga acuan untuk meredam tekanan pada rupiah.

Sebab, apabila menaikkan bunga acuan maka bunga kredit akan ikut naik sehingga meningkatkan risiko kredit macet perbankan. “Jangan salahkan faktor eksternal melulu.

Bagaimana dengan jor-joran kredit properti hingga mencapai 800 triliun rupiah. Ini sangat tidak produktif, rentan macet akibat bubble property,” ungkap dia, Rabu (25/4).

Di sisi lain, lanjut Suharto, jika bunga acuan tetap dipertahankan maka rupiah berpotensi terus tertekan akibat pelarian modal atau capital outflow bakal makin deras karena negara-negara lain telah lebih dulu memperketat kebijakan moneter untuk merespons kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

Persepsi Asing

Gubernur BI juga menilai fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik dan kuat. Indikatornya, inflasi, neraca transaksi berjalan, dan stabilitas sistem keuangan yang kuat.

“Inflasi sesuai kisaran yakni 3,5 persen plus-minus 1 persen. Kemudian CAD (defisit transaksi berjalan) lebih rendah dari batas aman 3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

Kepercayaan asing juga terus membaik dari upgrade rating,” papar Agus. Meski begitu, satu pengelola dana yang berbasis di Inggris, Janus Henderson, menyarankan investor untuk sementara menghindari pasar India, Indonesia, dan Filipina.

Sebab, ketiga negara Asia itu dinilai paling rentan terhadap dampak rencana kenaikan suku bunga AS. Manager Portofolio Janus Henderson, Sat Duhra, mengemukakan bahwa mencermati posisi defisit transaksi berjalan,

ketiga negara itu bakal terpukul keras sehingga investor lebih baik menarik dana mereka untuk dialihkan ke negara yang menyajikan keuntungan lebih baik, seperti AS.

Pemerintah ketiga negara itu meningkatkan belanja dalam cara yang “sedikit mengkhawatirkan” menjelang pemilihan umum, kata Duhra kepada CNBC, Kamis.

“Saya menilai disiplin fiskal telah diabaikan di negara-negara itu, terutama di India. Makanya, saya pikir ketiga negara itu mesti benar-benar dihindari untuk saat ini,” ungkap dia.

Menurut Duhra, faktor yang memperburuk situasi di India, Indonesia, dan Filipina adalah kenaikan harga minyak belakangan ini. Sebab, ketiga negara tersebut merupakan net importir minyak dan ini akan memperburuk defisit transaksi berjalan.

Sementara itu, gejolak keuangan global telah berdampak pada penerbitan surat utang negara (SUN). Hasil lelang lima seri SUN, Selasa (24/4), jauh dari harapan, Bahkan realisasinya, sebesar 6,1 triliun rupiah, tidak mencapai separuh target yakni 17 triliun rupiah. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment