Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

Berwisata Sambil Belajar Sejarah di Lawang Sewu

Berwisata Sambil Belajar Sejarah di Lawang Sewu

Foto : KORAN JAKARTA / HENRI PELUPESSY
sangat menarik - Sejumlah pemudik menyempatkan mengunjungi wisata sejarah Lawang Sewu di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (13/6). Pesona arsitektur Eropa di zamannya begitu indah, yang tidak hanya untuk di foto, sejarah arsitekturnya pun sangat menarik.
A   A   A   Pengaturan Font

Pemandu wisata Abdul Hadi (50 tahun) de­ngan penuh sema­ngat dan sangat detail bercerita tentang kehebat­an kolonial Belanda dalam membangun gedung Lawang Sewu di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Hal itu bisa dilihat dari tidak ada satu pun dinding yang retak, padahal gedung ini sudah berusia ra­tusan tahun.

Hal itu Abdul ceritakan saat memandu sekitar 10 pengun­jung yang berasal dari luar Jateng. Dengan membayar sebesar 70 ribu rupiah sebagai jasa untuk satu kali pemand­uan yang berlangsung sekitar satu jam, pengunjung yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa itu dengan penuh perhatian mengikuti penje­lasan Abdul.

Abdul tampak sudah hafal di luar kepala soal gedung bersejarah itu. Untuk lebih meyakinkan pengunjung yang dipandunya, Abdul terlebih dahulu memperlihatkan kartu anggota Himpunan Pramu­wisata Indonesia Cabang Semarang. Kartu dan lisensi sebagai pemandu diper­olehnya setelah mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pariwisata Jateng.

“Pemandu wisata di kawasan Lawang Sewu ini harus mem­punyai lisensi agar pengunjung benar-benar mendapatkan informasi yang benar dan aku­rat. Tidak sedikut pemandu abal-abal yang asal memandu supaya dapat uang,” kata Abdul yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni profesinya.

Abdul adalah satu dari 31 pemandu wisata yang bertugas di Lawang Sewu, gedung ber­sejarah di pusat Kota Semarang yang merupakan peninggalan Belanda. Pada awalnya, gedung itu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api yang disebut Nederlands-In­dische Spoorweg Maatschappij atau disingkat NIS.

Sore itu, Selasa (12/6), seki­tar 100 pengunjung tampak me­ngagumi keindahan arsitektur Lawang Sewu. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak muda yang datang berpasangan atau rombongan keluarga. Oleh karena kebetulan bulan Rama­dan, para pengunjung meman­faatkan kegiatan tersebut untuk ngabuburit sekalian belajar sejarah.

Sebagian besar pengunjung, terutama pasangan muda, me­nurut Abdul, tidak banyak yang tertarik menggunakan jasa pemandu. “Mereka datang ha­nya untuk ber-selfie ria dengan latar belakang bangunan yang indah. Tidak banyak pengun­jung, terutama anak muda yang tertarik untuk mengetahui se­cara detail sejarah gedung ini. Padahal pengetahuan sejarah itu penting,” kata Abdul me­nambahkan.

Digemari Anak Muda

Gaya arsitektur Lawang Sewu yang merupakan perpaduan ar­sitektur daerah tropis dan Eropa itu memang memiliki pesona yang berbeda sehingga menjadi sangat instagramable dan dige­mari anak muda sebagai latar belakang foto. Lawang Sewu yang berarti gedung dengan se­ribu pintu, adalah gedung yang berlokasi di bundaran Tugu Muda, Kota Semarang, mulai dibangun pada 1904 dan selesai tiga tahun kemudian.

Jumlah pintu gedung ter­sebut sebenarnya tidak persis seribu buah, tetapi lebih tepat­nya 429 pintu saja dengan se­kitar 1.200 daun pintu. Sampai 1994, Lawang Sewu masih digu­nakan oleh pemerintah sebagai Kantor Kereta Api Indonesia, tetapi pada 2009 dilakukan restorasi dan perbaikan tanpa mengubah bentuk aslinya.

Pada 2011, gedung tersebut dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata sejarah dan men­jadi salah satu tujuan wisata andalan di Kota Semarang dan Jateng. Sebagai sebuah bangunan kuno, Lawang Sewu juga menyimpan banyak cerita mistik yang membuat bulu kuduk merinding.

Gedung berlantai dua yang luas itu hanya berupa ruang kosong dan di lantai bawah tanah terdapat lorong bak pe­nampungan air dan menurut cerita pernah digunakan sebagai tempat penyiksaan. Menurut pe­nuturan Abdul, gedung tersebut menjadi tempat bersemayam banyak makhluk gaib. Tapi ketenangan para “penghuni” ge­dung menjadi terusik gara-gara sebuah acara stasiun televisi swasta yang memanggil mereka dengan sesajen.

Acara televisi tersebut dika­takan ibarat membangunkan orang yang sedang tidur dalam kedamaian, sehingga kemu­dian berkeliaran dan menam­pakkan diri kepada pengun­jung. “Karena dibangunkan, makhluk halus tersebut kemu­dian meminta sesajen lagi dan kalau tidak mendapatkannya, mereka akan mengganggu pengunjung lain,” kata Abdul dengan mimik wajah serius.

Pada sebuah kesempatan saat memandu, seorang wisatawan kepada Abdul me­ngaku melihat seorang noni Belanda dengan pakaian serba putih berdiri di pojok ruangan. Ada juga pengunjung wanita yang diyakini “dimasuki” oleh roh gaib, tiba-tiba melakukan gerakan tari balet di salah satu lorong. Padahal dalam kese­hariannya wanita tersebut sama sekali tidak memiliki bakat menari, apalagi tari balet.

SM/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment