Bertemu Jokowi, Mantan Petinggi GAM Ingatkan Perjanjian Helsinki | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Perdamaian Aceh

Bertemu Jokowi, Mantan Petinggi GAM Ingatkan Perjanjian Helsinki

Bertemu Jokowi, Mantan Petinggi GAM Ingatkan Perjanjian Helsinki

Foto : ANTARA/SIGID KURNIAWAN
BERTEMU PRESIDEN I Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kiri) bersama mantan petinggi GAM, Malik Mahmud Al Haythar (kanan) dan Muzakir Manaf usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (13/2).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Presiden Joko Widodo bertemu dengan eks pimpinan Ge­rakan Aceh Merdeka (GAM), di an­taranya mantan perdana menteri, Ma­lik Mahmud Al Haythar, dan mantan panglima, Muzakir Manaf (Mualem).

Pertemuan berlangsung tertu­tup di Istana Negara, Jakarta, Kamis (13/2). Kepala Negara didampingi Ke­pala Staf Kepresidenan (KSP) Moel­doko dan Ketua Dewan Pertimbang­an Presiden, Wiranto.

Usai pertemuan, Malik Mahmud mengemukakan pertemuan dengan Presiden Jokowi membahas nota ke­sepahaman perjanjian Indonesia de­ngan GAM atau MoU Helsinki yang ditandatangani di Helsinki, Finland­ia, pada 2005 silam. Di dalam per­janjian perdamaian RI dengan GAM tertuang sejumlah kesepakatan yang masih belum terealisasi.

Malik Mahmud berharap peme­rintah menyelesaikan poin perjanjian tersebut. “Kami beri masukan pada Beliau bahwa perdamaian Aceh su­dah berlalu 15 tahun. Ada beberapa poin MoU belum selesai yang kami harap pemerintah selesaikan semua­nya supaya berjalan dengan baik,” kata Malik.

Dia menyebutkan, beberapa poin yang belum diselesaikan pemerintah adalah masalah tanah yang dijanjikan untuk para kombatan, kemudian ma­salah perekonomian dan investasi.

“Ini yang minta diperhatikan su­paya kita cari jalan sama-sama untuk selesaikan semuanya. Masalah inves­tasi juga gitu karena kadang-kadang ada persepsi regulasi yang tidak seja­lan dengan daerah dan pusat, ini ha­rus diselesaikan,” tuturnya.

Malik menambahkan, Jokowi me­respons baik tentang persoalan ter­sebut dan akan bertolak ke Aceh pada bulan ini. Dia menyebut Jokowi juga menginstruksikan Kepala KSP Moel­doko untuk menyelesaikan hal ter­sebut. “Responsnya bagus. Beliau ini, Pak Moeldoko ada di sini, saya dengar tadi sudah diinstruksikan supaya kita mempelajari, nanti kita akan duduk bersama, mungkin tiga bulan sekali menyelesaikan apa yang harus dise­lesaikan,” ucapnya.

Masalah Persepesi

Sementara itu, Moeldoko yang mendampingi Mahmud mengatakan Jokowi telah meminta KSP untuk me­nyelesaikan berbagai isu-isu ini dalam tiga bulan ke depan. Ia menyebut KSP sudah memiliki formula-formula yang bisa menjadi solusi masalah di Aceh.

“Kami akan bekerja intensif de­ngan tim dari Aceh. Kita bersama-sama untuk membuat langkah-lang­kah,” kata Moeldoko.

Moeldoko mengatakan masalah tak adanya perubahan signifikan di bi­dang pembangunan di Aceh berkaitan dengan persepsi yang telah terbangun oleh para investor. Mereka berpersepsi bahwa situasi di Aceh stagnan. Pa­dahal, situasi di Aceh sesungguhnya aman-aman saja. “Karena ini masa­lah persepsi, maka ada beberapa hal yang perlu dilihat, di antaranya un­dang-undang. Undang-undang lo­kal juga bagaimana, nanti dipikirkan kembali,” kata Moeldoko. fdl/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment