Koran Jakarta | November 22 2017
No Comments

Bertamasya ke Panggung Hiburan Hindia Belanda

Bertamasya ke Panggung Hiburan Hindia Belanda

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Para Penghibur

Penulis : Fandy Hutari

Penerbit : Basabasi

Terbit : 2017

Tebal : 232 Halaman

ISBN : 978-602-61246-3-0

Bagaimana suasana panggung hiburan di zaman yang belum mengenal teknologi sedemikian maju seperti sekarang? Pada era Hindia Belanda, hiburan dinikmati lewat panggung-panggung keliling dan gedung teater yang sangat terbatas. Suasananya seperti layar tancap yang masih bisa ditemui beberapa dekade lalu. Hiburan untuk rakyat. Semua bisa menyaksikan.

Buku Para Penghibur hasil riset peristiwa-peristiwa hiburan zaman Hindia Belanda. Isinya, menjelaskan posisi artis dalam masyarakat, persaingan kelompok-kelompok panggung keliling, hingga konsep go international juga sudah dikenal di zaman itu.

Dunia hiburan modern Indonesia selaras dengan masuknya penjajahan. Dia diperkenalkan, lalu digubah dengan selera pasaran masyarakat Indonesia kala itu. Dunia hiburan terdiri dari film, sandiwara (dulu disebut tonil), serta musik.

Embrio tonil muncul pada 1891. Dia dimulai, seorang Indo-Prancis, August Mahieu, yang menampilkan sebuah pertunjukan opera barat berbahasa Melayu. Mahieu membentuk rombongan sandiwara keliling bernama “Komedi Stamboel” di Surabaya. Cerita-cerita yang dimainkan mengangkat legenda 1001 Malam (hal 70).”

Selain komedi, ada pula Opera Stamboel, Opera Permata Stamboel, Indera Ratoe Wilhelmina, Sinar Bintang Hindia, Indera Bangsawan, dan Opera Bangsawan. Mereka melakukan banyak pementasan dan pertunjukan kesenian. Sebagian diselingi dansa-dansa barat. Narasinya diperkaya dengan cerita-cerita realis yang sedang terjadi, seperti Si Tjonat, Njai Dasima, dan Oie Tam Bah Sia. Kemudian, tontonan bersumber cerita-cerita barat seperti Hamlet, Soeatoe Saoedagar dari Venetie, dan Penganten di Sorga.

Pementasan-pementasan ditokohi 17 artis. Mereka adalah Tan Tjeng Bok, Roekiah, Kartolo, Annie Landouw, Pak Wongso, Fifi Young, Syech Albar, Ratna Asmara, Astaman, Djoemala, Raden Mochtar, Dahlia, Wolly Sutinah, Miss Dja, Miss Riboet, S Abdullah, dan Andjar Asmara. Tujuh belas orang yang ditulis dalam buku ini sering kali berhubungan satu sama lain. Mereka pernah terlibat rombongan tonil atau film yang sama sehingga penuturan satu orang bisa melengkapi kisah yang lain.

Industri hiburan zaman itu merupakan wilayah bisnis yang baru dan sangat menjanjikan. Apalagi jika berhasil bergabung dengan dua kelompok besar bernama Miss Riboet Orion dan Dardanella. Lumrah bagi keduanya saling membajak artis. Bahkan, keduanya juga melibatkan dukun dalam persaingan bisnis. “Menurut Dja, Miss Riboet Orion menyewa dukun Jawa Tengah untuk bisa mengalahkan Dardanella, sedangkan Dardanella kabarnya juga menggunakan jasa dukun dari Cirebon.” (hal 134–135).

Persaingan keduanya juga kelihatan dari tur-tur mereka di mana Dardanella lebih unggul. Rombongan ini menggelar pertunjukan lintas benua pada 1935. Namanya diganti The Royal Bali Dancers. Kemudian diganti lagi menjadi Devi Dja’s Bali-Java Dancers. Pertunjukan Dardanella ke Singapura, India, Burma, Semenanjung Malaya, beberapa negara Eropa, hingga Amerika Serikat. Ini menunjukkan, sejak dulu, konsep go international selalu bergengsi buat pelaku kesenian Tanah Air.

Tulisan buku ini hanyalah sketsa-sketsa singkat dari riwayat 17 artis masa itu. Memang sejarah terbentur sedikitnya buku yang merekam peristiwa-peristiwa keseharian zaman penjajahan. Buku lebih banyak mengenai politik dan pemberontakan. Pijakan riset adalah buku Sejarah Film 1900–1950, Bikin Film di Jawa karya Misbach Yusa Biran dan Katalog Film Indonesia 1926–2005 karya JB Kristanto. 

Diresensi Hilyatus Saadah, mahasiswi di Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment