Koran Jakarta | June 25 2017
No Comments

Bersyukur, Doa yang Paling Manjur

Bersyukur, Doa yang Paling Manjur

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Menyelesaikan akhir tahun, yang juga berarti memasuki tahun baru, biasanya dilalui dengan merenung. Merefleksi diri akan apa yang telah dilalui, dilalui dengan baik atau kurang baik, atau juga perencaan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, atau juga tidak dilakukan di tahun depan.

Menyelesaikan akhir tahun, yang juga berarti memasuki tahun baru, biasanya dilalui dengan merenung. Merefleksi diri akan apa yang telah dilalui, dilalui dengan baik atau kurang baik, atau juga perencaan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, atau juga tidak dilakukan di tahun depan.

Bersyukur juga menjadi tema seminar. Minggu lalu ada seminar tentang bersyukur dan dampaknya bagi perusahaan. Ada buku yang membahas itu yang ditulis St Sularto, wartawan senior, berjudul Syukur Tiada Akhir dan Kompas Way. Sebuah tawaran optimisme tawaran menjadi pekerja keras, dan memperkuat komunikasi dalam menyelesaikan masalah. Sebuah tawaran yang menjanjikan, juga menyenangkan ketika situasi secara keseluruhan negeri ini, atau hubungan antarmanusia, antarkelompok, seakan berada dalam tataran saling curiga. Atau saling tidak mensyukuri satu sama lain. Sehingga yang terasa muncul ke permukaan adalah emosi negativfyang tinggi seperti iri, dengki, depresi, atau bahkan sikap memusuhi. Suasana menjadi panas, dan atau nglemeng— istilah panas pada tubuh yang tak turun-turun juga.

Pada kecemasan ini, pendekatan bersyukur bisa menjadi semacam obat, semacam doa yang manjur. Bersyukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan juga ungkapan yang nyata. Ungkapan nyata itu terlihat pada emosi yang terkuasai, atau bahkan nilai moral, serta cara-cara merespon sesuatu, atau ketika bereaksi.

Ini yang muncul ke permukaan komunikasi sosial dengan ajakan boikot misalnya. Atau larangan. Atau negasi. Atau pengemohan. Yang sebelumnya tidak terjadi pada hal yang sama. Sebelumnya.

Apakah kalau kita terbiasa bersyukur, hal-hal yang negatif tak akan terjadi? Jawabannya, secara teori bisa lebih tenang . Karena ketika bersyukur, dalam hal ini mengucap terima kasih atas apa yang dijalani, apa yang diterima, akan menjadi gaya hidup. Menjadi kebiasaan dan ini baik adanya, memberi respon secara seimbang.

Barang kali ini perlu digaris bawahi. Bahwa ekspresi bersyukur antara lain bisa tersenyum, dengan tulus. Dan bukan wajah geram, marah atau dendam—kalau pun harus menyampaikan sesuatu yang tidak disepakati. Juga mengucapkan terima kasih. Sesuatu yang diajarkan ketika generasi saya masih kecil. Terima kasih karena diberi tempat duduk di angkutan umum, karena dibukakan pintu, karena didoakan, karena “satu dan lain hal.” Ucapan sederhana disertai senyuman ini rasa-rasanya menjadi susut, dan dirasa tak mempunyai nilai ekonomis. Hanya menghabiskan energi. Dan lebih buruk lagi, hanya menjadi basa basi yang basi.

Saya ingin menambahi berkah dari bersyukur adalah peduli. Peduli kepada sesama yang sedang dilanda bencana— banjir, tanah longsor, gempa, gunung meletus. Atau menderita karena kurang memperoleh akses , baik pendidikan, kesehatan atau pekerjaan. Atau juga menderita kekurang mampuan phisik di luar kemampuannya. Dan lain sebagainya. Sikap peduli bukan kasihan semata, juga bukan merasa lebih beruntung dibandingkan yang tidak, melainkan bersyukurt karena dimampukan untuk berbuat baik.

Barang kali bersyukur bekal yang nyaman, aman menutup tahun, dan memulai tahun yang baru.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment