Koran Jakarta | January 19 2019
No Comments

Bersama Membangun Karakter Anak

Bersama Membangun Karakter Anak

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rumah Belajar Kita menjadi ruang belajar untuk materi-materi non formal. Relawan membantu membentuk character building untuk anak-anak.

Belajar tidak selalu materi formal pelajaran sekolah. Pengetahuan bidang kerja suatu profesi maupun keterampilan menjadi materi yang tidak kalah penting untuk membentuk karakter anak. Rumah Belajar Kita (RBK) memberikan keterampilan keseharian untuk anak-anak, khususnya untuk masyarakat ekonomi bawah, di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Assalamulaikum,” seru sejumlah anak di muka pintu Rumah Belajar Kita Pasar Rebo, Jakarta Timur Minggu (18/11).

Mereka berpamitan dengan kakak-kakak relawan usai mengikuti kelas hari itu. Seruan berbalas terucap dari kakak-kakak relawan pengajar dari dalam ruang belajar.

Hari itu, mereka baru saja usai belajar tentang P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Kotak P3K berwarna putih belum dikembalikan ke tempat penyimpanan. Beberapa perangkat bermain tersimpan dalam ruang tersebut, termasuk karya-karya yang terpajang di sejumlah sisi dinding. RBK menjadi ruang belajar untuk materi-materi non formal.

Karena toh, materi formal telah diajarkan di sekolah. RBK berpandangan bahwa materimateri formal perlu diberikan pada anak-anak untuk membantu membentuk character building. Muhammad Haekal, Ketua RBK tidak menampik bahwa materi-materi formal tersebut dapat diajarkan para orang tua. Namun untuk sebagian masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi bawah, mereka kerap abai dengan kebutuhan pengetahuan anak.

“Nah ini yang menjadi sorotan kita,” ujar Haekal yang ditemui di RBK Pasar Rebo, Jakarta Timur. Pada tingkat masyarakat tersebut, kesadaran pendidikan terhadap anak, khususnya pendidikan non formal, masih kurang. “Sebagai contoh, kalau orang tua berperilaku kasar, anak akan lihat,” ujar dia tentang tindakan kasar yang semestinya tidak dilakukan dihadapan anak-anak.

Jika, anak-anak bertemu dengan anak lain yang memiliki pengalaman sama. Mereka akan beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan para orang tua tersebut benar. Upaya awal dilakukan membangun suasana belajar kondusif, salah satunya adalah mengganti sapaan lo gue untuk orang yang lebih tua dengan sebutan kakak. Hal serupa dilakukan sesama para relawan yang memanggil teman sejawatnya.

Selama kurang lebih dua jam pelajaran, seminggu sekali, anak-anak akan meneriman pelajaran non formal yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya tentang P3K. Materi lain dapat mendatangkan kenalan yang berprofesi sebagai seorang profesional, seperti fotografer maupun chef.

Merekadiminta untuk berbagi pengetahuan pada para peserta yang berusia 5 sampai 15 tahun. Sejauh ini, RBK selalu bekerja sama dengan yayasan maupun komunitas setiap membuka ruang belajar. Langkah tersebut tidak lain supaya tidak ada penolakan di masyarakat .

Dari sejumlah pengalaman, beberapa lingkungan menolak kehadian rumah belajar karena merasa tidak mendapatkan imbalan berupa uang. Di samping itu, kerja sama dengan komunitas tidak lain untuk memenuhi ketersediaan relawan sebagai tenaga kerja pengajar. Karena, RBK yang bergerak sebagai sebuah kegiatan sosial tidak memiliki ikatan kerja komersial pada para relawan mengajarnya. “Kalau loyalis, dia punya jiwa sosial kuat, capek nggak apa-apa,” ujar dia tentang relawan yang kerap datang dan pergi.

Relawan yang mengajar di RBK tidak mendapatkan imbalan. Mereka mengajar setiap akhir pekan berdasarkan suka rela. Haekal mengatakan bahwa dalam setiap titik RBK membutuhkan relawan sebanyak tiga orang. Satu orang memberikan materi sedangkan dua lainnya membantu kurang lebih sebanyak 15 peserta memahami materi. Kesibukkan relawan membuat mereka terkadang tidak dapat meluangkan waktu di RBK. RBK yang berdiri di bawah naungan Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa memberikan sejumlah syarat untuk para relawan yang bergabung.

Mereka antara lain diminta tidak merokok, tidak melakukan seks bebas, tidak minum alkohol, tidak melakukan bullying serta tidak membuang sampah sembarangan. Para relawan yang ingin bergabung diminta untuk ikut kegiatan belajar mengajar sebanyak tiga kali di RBK, setelah itu mereka baru menjadi relawan RBK.

RBK merupakan komunitas pendidikan sosial berdiri pada 13 Januari 2013. Saat ini, RBK memiliki delapan titik rumah belajar di Jakarta dan sekitarnya yang setiap titik ada satu taman baca dan dua taman baca binaan. Melalui kegiatan pendidikan non formal, RBK berharap turut mencerdaskan bangsa. din/E-6

Untuk Sebuah Tantangan dan Pengalaman

Pengalaman maupun tantangan menjadi daya tarik untuk mengajar anak-anak, khususnya dari ekonomi kelas bawah. Terlebih di lingkungan tersebut, anakanak lebih banyak mendapat terpaan kehidupan dewasa dibandingkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak. Ersi Handayani, 24, relawan RBK Pasar Rebo, mengatakan mengajar di rumah belajar dengan siswa anak-anak dari golongan kurang mampu memberikan pengalaman yang berbeda. Wanita yang berprofesi sebagai guru TK sebuah sekolah internasional biasa menghadapi kesempurnaan hidup dari anak didiknya.

”Karena, selama ini Ersi selalu melihat kelas menengah atas terus,” ujar dia tentang kondisi tempat terjanya. Setelah terjun, ia baru menemukan perbedaan suasana belajar mengajar. “Karakter anak-anaknya berbeda,” ujar dia yang tergabung dengan Rumah Belajar Kita pada pertengahan 2017 ini.

Sebagai contoh, siswa di sekolah lebih cenderung cepat responsif saat mendapatkan pertanyaan dari guru. Sementara di rumah belajar, anak-anak akan langsung menunduk dan terkesan malu-malu saat mendapat pertanyaan dari kakak-kakak relawan. “Bisa jadi faktor pendidikan, lingkungan dan ekonomi ikut mempengaruhi,” ujar dia. Anak-anak di sekolah internasional biasanya ikut les, piano maupun ballet, selain belajar di sekolah. Mereka terbiasa berinteraksi dengan orang lain maupun orang yang baru dikumpainya. Kondisi tersebut dimungkinkan menunjang rasa percaya diri anak.

Sedangkan anak-anak di rumah belajar, mereka lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga, mereka sedikit canggung saat bertemu atau berinteraksi dengan orang baru.

Tidak berbeda jauh dengan Ersi, Dian Kartika, 23, pengajar Preschool, mengatakan mengajar di rumah belajar memberikan pengalaman lain selain di sekolah umum. “Aku cari new experience aja sih,” ujar dia yang mengaku diajak Ersi untuk bergabung sebagai tenaga pengajar sukarelawan. Di rumah belajar, Dian lebih banyak mengajar anakanak usia 6 sampai 12tahun.

Berbeda dari Preschool tempat mengajarnya, dimana ia lebih banyak mengajar anak-anak usia 6 bulan sampai 4,5 tahu. Jika Ersi menemukan perbedaan karena status sosial, Dian mendapati perbedaan dari segi usia. “Anak usia 6-12 tahun bisa dikasih tahu bad think dan good think,” ujar dia yang memberikan pangajaran drama tersebut.

Sedangkan, anak usia 6 bulan sampai 4,5 tahun belum dapat diajak memahami sesuatu hal yang baik dan buruk. Sementara, Prihatiningrum, 22, tergerak untuk mempraktekkan ilmu pengajaran yang diperoleh di kampusnya. Ia berpendapat tanpa praktek, ilmu mengajar yang dimilikinya tidak akan pernah terasah.

“Awalnya nggak PD (percaya diri) lalu menjadi PD. Awalnya nggak biasa lalu menjadi terbiasanya,” ujar dia tentang pengalamannya mengajar di rumah belajar yang dimulai pada kisaran 2015. Semakin lama, wanita yang menjadi Koordinator Rumah Belajar Kita Pasar Rebo ini makin dekat dengan anak-anak. Sebelumnya, ia cenderung tidak menyukai anak-anak. “Awalnya apaan sih anak-anak, berisik,” ujar dia. Namun dengan terjun sebagai tenaga pengajar sukarelawan, ia memiliki perspektif lain tentang anakanak. din/E-6

Belajar dalam Suasana Permainan

Materi menjadi salah satu kebutuhan utama para pengajar RBK. Materi-materi yang terkait SARA tidak diajarkan di rumah belajar ini. Selain itu, mereka tengah berupaya membuat Bank Materi untuk mengukur kemampuan para peserta. Muhammad Haekal, 30, Ketua RBK mengatakan Bank Materi merupakan kebutuhan komunitas yang sudah berdiri lebih dari 5 tahun. Bank materi tersebut tidak lain untuk mengukur kemampuan anak dalam menerima pembelajaran. “Walaupun untuk setiap titik dapat dimodifikasi,” ujar dia.

Titik yang dimaksud tidak lain sejumlah RBK yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Nantinya, Bank Materi yang rencananya dibentuk pada 2019 akan mengumpulkan sejumlah materi-materi pembelajaran, seperti pembuatan origami ataupun puisi. Materi-materi tersebut dapat digunakan di sejumlah RBK sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sampai saat ini, Haekal mengatakan bahwa materi pembelajaran yang diberikan merupakan pengetahuan di luar sekolah yang banyak dijumpai disekitar masyarakat. Sebagai batasannya, mereka tidak mengajarkan materi-materi yang terkait dengan SARA.

Prihatiningrum, 22, Koordinator RBK Pasar Rebo mengatakan dalam pemilihan materi pembelajar tidak menutup kemungkinan meminta pendapat peserta didik sebagai bahan pengayakan. “Anak-anak suka ditanya,” ujar dia. Namun, materi lebih banyak ditentukan berdasarkan diskusi para pengajar. Biasanya, mereka akan membicarakan materi ajar setiap minggu terakhir. Materi lebih banyak diambil dari peringatan yang akan terjadi pada bulan depan.

Di satu sisi, materi memiliki nilai literasi dan edukasi. Dari peristiwa tersebut, mereka meramu materi dalam bentuk dalam bentuk permainan yang menyenangkan, misalnya drama pertempuran untuk memperingati Hari Pahlawan. Hanya sampai saat ini, RBK belum pernah memberikan materi pembelajaran tentang pendidkan seksual secara khusus. Materi tersebut diberikan sekedar garis besar, seperti pengenalan organ-organ yang tidak boleh disentuh orang lain.

Sampai saat ini, semua materi pembelajaran lebih banyak diberikan melalui praktek dalam suasana bermain. RBK berpendapat para peserta didik telah mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Sebagai variasi, RBK memberikan materi yang berbeda dari sekolah supaya peserta didik tidak merasa jenuh dan lebih fun. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment