Koran Jakarta | December 17 2018
No Comments

Berkunjung ke ”Studio Hollywood” di Sleman

Berkunjung ke ”Studio Hollywood” di Sleman

Foto : koran jakarta/eko s putro
A   A   A   Pengaturan Font

Menonton film di bioskop merupakan salah satu bentuk wisata di tempat gelap. Tapi, bagaimana film itu dibuat adalah wisata yang lain, wisata terang yang akan membawa pengalaman lain.

Pengalaman pergi ke studio pembuatan film seperti Universal Studio Hollywood jadi yang terbaik di dunia, sebagaimana film-filmnya yang didistribusikan di seluruh dunia. Namun, sesuatu yang baik juga dapat dimulai dari yang sederhana dan kecil.

Nah, di sudut barat Kota Yogya tepatnya sekitar 15 kilometer dari pusat kota, ada studio alam di Dusun Gamplong, Desa Sumber Rahayu Godean, Kabupaten Sleman, yang belum lama berselang dijadikan sebagai lokasi syuting film terbaru besutan Hanung Bramantyo, berjudul Sultan Agung The Untold Love Story.

Mengambil seting abad ke- 16–17, lahan yang semula tanah kas milik desa ini disulap sepenuhnya seperti masa lalu.

Sebentar lagi, Studio Gamplong juga akan digunakan untuk syuting Bumi Manusia yang disutradari Hanung dan tokoh utama Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.

Kepala Desa Sumber Rahayu kepada Koran Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan Gamplong Studio Alam kini telah dihibahkan kepada desa oleh pendirinya yakni Mooryati Soedibyo. Meski studio ini akan terus digunakan untuk lokasi syuting bernuansa masa lalu, namun pengelolaan wisatanya diserahkan kepada warga.

“Ini luasnya dua hektare dan sekarang sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan dari dalam Jogja maupun luar Yogya. Apalagi kan mau digunakan untuk syuting Bumi Manusia, pasti akan lebih ramai,” katanya.

Siang itu, tampak puluhan wisatawan yang berfoto-foto di setiap set bangunan yang digunakan untuk syuting Sultan Agung. Sedangkan di beberapa tempat tampak pekerja masih mengejar tenggat penyelesaian bangunan yang akan digunakan untuk syuting Bumi Manusia. Salah satunya adalah rumah yang akan ditinggali Annelis, karakter perempuan utama di film itu. “Agustus sudah mau syuting. Jadi akhir bulan ini harus selesai,” kata salah satu pekerja.

Bangunan paling megah yang ada di Studio Gamplong setidaknya ada dua buah. Yang pertama adalah Kraton Mataram era Sultan Agung dengan bangunan Joglo dan benteng Belanda lengkap dengan jembatan kuno, sungai buatan, dan kereta mini. Di depan benteng Belanda dan jembatan itulah yang sering digunakan untuk spot foto para pengunjung.

Sayangnya, pengunjung kini tidak bisa memasuki perkampungan VOC di dalam benteng karena insiden rusaknya beberapa fasilitas di sana oleh tangan pengunjung.

Di Gamplong, para pengunjung bisa membayangkan betapa jeniusnya para pembuat film menghadirkan dunia nyata dari sebuah set buatan yang sekilas tampak biasa-biasa saja.

Nah, agar lebih seru, sebaiknya Anda datang saat studio Gamplong digunakan untuk proses syuting film Bumi Manusia yang kabarnya akan dilakukan pada Agustus ini.

Saran untuk pengunjung, jika datang pada siang hari, jangan lupa siapkan topi dan lengan panjang karena hamparan lapangan di sana sangatlah panas. Andai tidak membawa topi, bisa menyewa payung dengan harga murah sekali, tiga ribu rupiah saja. Datang pada sore pukul 3 sore adalah waktu yang paling tepat. YK/E-3

Warisan Budaya dan Sejarah

Pembangunan Studio Alam Gamplong, Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, menjadi salah satu upaya pendiri Mustika Ratu, Mooryati Sudibyo, dalam menyampaikan pesan amanah pahlawan-pahlawan nasional untuk mewariskan kekayaan budaya bangsa dan sejarah Indonesia kepada generasi masa kini.

Kawasan yang di dalamnya terdapat bangunan set film sejarah Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta, pada 15 Juli 2018 secara resmi dihibahkan oleh Mooryati Soedibyo kepada masyarakat Indonesia. Penyerahan disaksikan Presiden Joko Widodo yang didampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Bupati Sleman, Sri Purnomo.

“Studio ini semoga menjadi destinasi wisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan. Mampu menggerakkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya, misalnya munculnya warung menjual makanan, buah-buahan, hasil keterampilan dan membangun kemajuan kreasi-kreasi desa,’’ kata Mooryati Soedibyo.

Presiden Jokowi berharap Studio Alam bisa dimanfaatkan untuk wisata. Saat ini, kata Presiden, banyak orang ingin mencari pengalaman, bukan hanya semata-mata melihat sesuatu atau membeli oleh-oleh.

“Sehingga, nantinya kalau sudah ke sini pakai handphone bisa diunggah di Instagram, Facebook. Serunya anak-anak zaman sekarang seperti itu. Jadi, kalau lihat studio yang ada di Gamplong ini dapat menjadi terkenal dan roda perekenomian dapat hidup,” tutur Presiden. Presiden Jokowi juga berharap masyarakat bisa berbondong-bondong menonton film Sultan Agung yang sangat kolosal yang pembuatannya dilakukan di Studio Alam Gamplong.

Presiden menyebutkan bahwa film tersebut menceritakan kepemimpinan, cita-cita, romantisme, dan juga action. Kepemimpinan Sultan Agung dapat menjadi contoh untuk kita semua.

Pusat Kebudayaan

Hanung Bramantyo sebagai sutradara film Sultan Agung mengaku mencita-citakan Studio Alam Gamplong sebagai pusat kebudayaan seperti festival gamelan, festival film, dan pentas teater.

“Itu semua menjadi cinta-cita saya bersama kepala desa,” kata dia.

Saat ditanya dipilihnya Gamplong, Hanung mengatakan antara lain karena ingin membuang kesan keterpencilan Gamplong yang berada di ujung barat Jogja. Hanung menginginkan tempat ini menjadi ramai dan akhirnya menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi desa.

“Orang yang datang ke sini dan ramai, kemudian muncul warung-warung makan dan kuliner. Karena kekuatan Jogja di samping wisata, kan kuliner. Di samping itu, produksi tenun juga akan ada tempatnya untuk mereka memasarkan,” pungkas Hanung. YK/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment