Koran Jakarta | June 20 2019
No Comments

Berjumpa Tuhan lewat Doa “Examen Ignasian”

Berjumpa Tuhan lewat Doa “Examen Ignasian”
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berdoa Examen IgnasianPenulis : Skolastik SJ Pulo Nangka

Penerbit : Obor

Cetakan : Mei 2019

Tebal : 115 halaman

ISBN : 978-979- 565-849-8

Kompetisi hidup yang makin ketat membuat kesibukan meningkat. Bahkan lambat laun kesibukan juga dapat dipan­dang sebagai ukuran kualitas hidup seseorang. Orang sibuk bisa diartikan sebagai hidup penuh keberhasilan dan pencapaian. Kondisi sibuk sehari-hari yang dialami manusia pada umumnya memang memacu produktivitas dan perkembangan.

Namun, kesibukan juga bisa mem­buat kehidupan rohani menjadi kering dan tidak bermakna, sehingga makin sulit menyadari kehadiran Allah da­lam hidup. Akibatnya, berbagai pilih­an hidup bisa jadi tidak selaras dengan kehendak-Nya. Apakah di tengah kesi­bukan, kita masih dapat membangun relasi dengan Allah?

Santo Ignatius Loyola, lewat buku ini, memberi jawaban atas pertanyaan itu. Menimba dari kekayaan buku Latihan Rohani-nya terdapat sebu­ah model doa yang dapat membantu dan melatih kita untuk semakin peka menemukan Tuhan dalam kesehari­an. Doa itu dikenal dengan nama Examen. “Doa ini dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu kita menghindari efek-efek buruk kesibuk­an dan menumbuhkan relasi personal dengan Allah,” tulis buku ini (hlm xxiii).

Examen adalah sebuah doa singkat, 15 menit, di mana kita diajak me­nemukan dan meneliti gerak roh di dalam hidup harian. Melalui peme­riksaan batin, kita mencoba menarik keluar pengalaman atau peristiwa yang kita alami untuk melihat kehadir­an Allah. Aktivitas ini dapat dilakukan di mana saja.

Bersyukur merupakan langkah per­tama Examen. Apa pun yang kita alami merupakan rahmat yang patut disyu­kuri. Ketika berusia 26 tahun, Santo Ignatius adalah seorang tentara yang berusaha mempertahankan benteng Pamlona milik Spanyol dari serangan tentara Prancis. Saat itu kaki Ignatius terkena peluru meriam sehingga ter­luka. Dia bertobat dan mempersem­bahkan hidupnya bagi Kristus.

Selama pemulihan dan setelahnya dia mengalami rahmat Tuhan. Me­nurutnya, rahmat Tuhan tidak hanya terbatas pada hal-hal rohani seperti ketenangan batin dalam doa, tetapi juga ketika bersyukur atas realitas yang dialami dalam peziarahan hidupnya. Mengenali rahmat dan kasih Tuhan de­ngan bersyukur adalah inti keseluruhan hubungan kita dengan Tuhan (hlm 9).

Langkah kedua Examen adalah memohon rahmat. Usaha manusiawi, tanpa rahmat Tuhan dapat mengu­rangi rasa dalam mencecap buah pengalaman harian. Kita memohon rahmat pemahaman yang membuka jalan mencapai rahmat kebebasan dan pemahaman mendalam akan karya Tuhan yang konkret.

Buku ini mengisahkan Stella, seorang mahasiswi, yang imannya kepada Kristus sangat kuat. Ia telah mempraktikkan Examen sejak 6 bulan lalu. Baginya Examen sebagai cara baru menemukan Tuhan dalam kes­ehariannya. Stella teringat akan kisah si buta Bartimeus. Ia berdoa berkali-kali dalam hatinya menggunakan kata-kata yang diserukan Bartimeus, “Yesus, Anak Daud. Kasihanilah aku!” Dengan menggunakan doa itu, Stella merasakan rahmat Tuhan ketika meli­hat kembali harinya (hlm 16).

Langkah Examen berikutnya memohon rahmat pengampunan Allah atas segala kesalahan. Kita perlu melakukan ini dengan kepekaan hati. Sebab Examen sangat tergantung pada cara kita memahami dan merasakan pengampunan Allah. “Kita baru bisa menerima dan mengampuni orang lain, ketika merasa diterima dan di­ampuni Allah - pengalaman personal yang sangat mendalam - pengakuan bahwa kita dicintai Allah meskipun jatuh terus menerus,” kata Jean Vanier (hlm 36).

Fokus perhatian ketika menjalani doa Examen bukanlah pada baik bu­ruk atau benar salah tindakan kita. Na­mun, lebih pada cara Allah menyapa, menyentuh, serta menggerakkan kita dari kedalaman relung batin dan ke­sadaran kita. Di tengah aktivitas hidup yang makin padat, buku ini membantu kita tetap bisa berjumpa Tuhan lewat praktik doa Examen. Ini salah satu bagian penting buku Latihan Rohani Ignatius Loyola dan buku klasik olah rohani yang sudah teruji selama lima abad. Diresensi Faiz, Staf Lembaga Pendi­dikan An-Najah Karduluk, Sumenep, Jatim

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment