| |
| |
Minggu | Geonas |
|
|
| |
|
|
| |
Memiliki Tiga Danau yang Ajaib
Minggu, 09 Agustus 2009
Gunung Kelimutu
Tiga danau yang berada di puncak Gunung Kelimutu itu memang unik. Ya, air di tiga danau yang terletak sekitar 66 km dari Kota Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memiliki warna yang berbeda-beda.
Uniknya lagi, ketiga warna air tersebut selalu berubah-ubah dalam periode tertentu. Keunikan inilah yang mengundang para geolog dan penikmat alam semesta untuk mendalami fenomena tersebut. Selain panoramanya indah dan penuh misteri, hawa di lingkungan danau ini juga sejuk.
Maklum, danau yang terletak di koordinat 8° 77′ Lintang Selatan (LS) dan 121° 82′ Bujur Timur (BT) itu bertengger pada gunung api di Pulau Flores pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Puncak Gunung Kelimutu itu membentang dari barat laut ke tenggara.
Perpaduan hutan cemara (Casuarina equisetifolia), kesambi (Schleichera oleosa), dan bunga abadi edelweiss yang membalut danau tersebut juga semakin melengkapi keelokan alam yang memang tiada duanya. Betapa tidak, cemara-cemara itu laksana permadani hijau yang menempel di lereng-lereng, jurang, dan tebing terjal.
Kita tidak bisa membayangkan jika tanah tersebut tak berselimutkan cemara. Kehadiran hutan khas daerah berdataran tinggi ini selain menambah keelokan alam, juga ikut menjaga keutuhan tanah dari bahaya longsor.
Karena itu, ekosistem cemara harus dijaga jangan sampai dibabat habis. Bukan apa-apa, ketika lahan tersebut gundul maka kita tinggal menunggu bencana demi bencana. Kita tentu berharap kawasan yang sejak 26 Februari 1992 ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Kelimutu itu tetap indah dan lestari.
Ilmiah Vs Mitos
Lalu, mengapa air ketiga danau itu berbeda-beda dan selalu berubah-ubah dalam periode tertentu? Jawabannya tentu saja bervariasi, tergantung argumentasi yang dipakai; bisa diterangkan secara ilmiah, dapat juga berdasarkan mitos yang berkembang di masyarakat selama ini.
Perbedaan dan perubahan warna air danau tersebut jelas unik dan tak ditemukan di tempat lain. Sampai sejauh ini, periode perubahan warna itu juga tak dapat diduga dengan pasti waktunya.
Pada April 2009 lalu misalnya, terjadi perubahan warna di dua danau. Danau Merah atau Tiwu Ata Polo yang dimitoskan sebagai danaunya para arwah orang jahat mengalami perubahan dari warna coklat tua menjadi hijau tua.
Lalu, Danau Biru atau Nua Muri Koo Fai yang dimitoskan sebagai tempat berkumpulnya arwah muda-mudi juga berubah warna dari hijau muda menjadi hijau kebiru-biruan. Sedangkan Danau Tiwu Ata Mbupu atau danau orang tua warna airnya tetap, hijau tua kehitam-hitaman.
Secara ilmiah, perubahan warna air danau disebabkan banyak hal. Di antaranya dipengaruhi oleh kandungan mineral, jenis lumut, dan batu-batuan di dalam kawah tersebut. Selain itu, perubahan warna air danau juga sebagai dampak dari proses unsur kimia tanah. Hal ini merupakan bagian dari aktivitas gunung api.
Menurut pengamatan Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Gatot Soebiantoro, di dua danau yang berubah warna tadi awalnya muncul larutan yang menyebar di beberapa tempat. Di Danau Merah misalnya, berdasarkan riset Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi memiliki kandungan besi yang tinggi.
Sementara itu, di Danau Biru terdapat tekanan gas yang sangat tinggi. Hal ini terkait dengan masih aktifnya Gunung Kelimutu.
Oleh masyarakat setempat, perubahan warna ini memiliki mitos tersendiri. Salah satunya merujuk pada kejadian Mei 1997. Ketika itu, terjadi perubahan warna air di tiga danau sekaligus.
Air di Tiwu Ata Polo yang sebelumnya coklat berubah menjadi merah hati. Lalu, air di Tiwu Ata Mbupu dari coklat tua berubah menjadi hijau kecoklatan. Begitu juga dengan Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai dari yang semulai airnya biru berubah menjadi putih telur asin.
Believe it or not, toh tak lama setelah kasus itu memang terjadi perubahan kepemimpinan nasional. Presiden Soeharto yang telah lama berkuasa dan seolah tak tergoyahkan ternyata tumbang.
Mitos tersebut memang tak selamanya terbukti. Setidaknya, kalau kita mengamati perubahan air danau pada medio 2006. Saat itu, dua dari tiga air danau tersebut juga mengalami perubahan warna. Namun, pada saat yang sama tidak terjadi peristiwa semonumental pada 1997.
Minimnya hubungan antara perubahan air danau dan situasi politis nasional itu juga tercermin pada kasus Mei 2009 lalu. Toh, walaupun terjadi perubahan warna air di danau tersebut, kepemimpinan nasional tak berubah. Oleh rakyat Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono masih diberi kepercayaan untuk meneruskan kepemimpinannya hingga 2014.
Terlepas dari itu semua, fakta membuktikan Danau Kelimutu memang penuh pesona. Tak salah kalau Indonesia pun pernah mengusulkan kawasan ini menjadi salah satu keajaiban dunia.
b siswo
Keajaiban dari Gunung yang Mendidih
Anda ingin melihat keajaiban panorama gunung yang mendidih? Cobalah sekali waktu melancong ke Gunung Kelimutu. Dari kejauhan tampak gunung api itu mengeluarkan kepulan asap pertanda ia masih aktif.
Gumpalan asap itu berasal dari lava panas yang menyembur dari dalam perut bumi melalui kawah gunung berapi. Warna lava itu merah laksana bara api.
Fenomena ini sesuai dengan nama yang diberikan; Kelimuti. Secara harfiah, keli berarti gunung dan mutu artinya mendidih. Jadi, Kelimutu memiliki makna gunung yang mendidih. Lalu, mengapa gunung itu memiliki tiga danau yang unik?
Sejarah mencatat, Gunung Kelimutu pernah meletus hebat pada tahun 1886. Saking dahsyatnya letusan itu menyisakan tiga cekungan yang cukup lebar. Melalui proses geologi dan hidrologi, ketiga cekungan tersebut akhirnya membentuk tiga danau seperti yang bisa kita lihat sekarang ini.
Menurut catatan, luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 m2 dengan volume air mencapai 1.292 juta m3. Batas antardanau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding terjal tersebut memiliki sudut kemiringan 70 derajat dengan ketinggian antara 50 sampai 150 meter.
Dari ketiga danau tersebut, Danau Putih (Tiwu Ata Mbupu) memiliki kawasan yang paling luas. Danau berkedalaman 70 meter ini berukuran panjang sekitar 850 meter dan lebar 700 meter.
Sementara itu, Danau Merah (Tiwu Ata Polo) memiliki luas yang hampir sama dengan Danau Biru (Tiwu Nuwa Muri Koo Fai), yakni berukuran panjang sekitar 600 m dan lebar 400 m. Bedanya terletak pada kedalamannya. Danau Merah berkedalaman 65 meter sedangkan Danau Biru memiliki kedalaman 125 m.
Secara geografis, Danau Merah dan Danau Biru lebih sulit dijangkau karena lokasinya masuk ke dalam tebing. Kedua danau ini memiliki kandungan belerang sangat tinggi. Lagi pula, ombak di danau tersebut tampak beriak
Menurut mitos yang berkembang di masyarakat lokal, Danau Merah dihuni oleh roh jahat. Julukan ini diberikan mengingat danau tersebut beberapa kali menelan korban manusia.
Lain lagi dengan Danau Putih. Ombaknya relatif lebih tenang, tak beriak. Danau ini juga lebih mudah dijangkau. Pengunjung bisa dengan mudah menuruninya. Kalau haus, silakan minum air tawar nan sejuk di mata air yang ada di danau tersebut.
Panoramanya juga terasa pas bagi pecinta hiking. Tempat ini juga bisa menjadi salah satu pilihan kunjungan bagi penikmat kawasan pedesaan bernuansa gunung tropis.
Kalau lagi beruntung, dalam perjalanan menuju danau tersebut, Anda akan disambut dengan berbagai fauna khas. Di antaranya, rusa (Cervus timorensis), babi hutan (Sus sp), ayam hutan (Gallus gallus), dan elang (Elanus sp).
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menikmati keelokan tiga danau tersebut? Usahakan di pagi hari. Bukan apa-apa, di siang hari sampai sore biasanya kabut menyergap pandangan mata. Kalau sudah begini, Anda tak leluasa untuk berkelana menikmati sensasi alamnya.
b siswo
Di Lihat : 331 | Komentar : 0
|
|
| |
|
|
| |
BACA JUGA :
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar
|
|
| |
|
|
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
Dari Ummat Untuk Ummat
Minggu, 05 September 2010
Andai konsep berbagi dalam zakat diterapkan seperti rutinitas, bukan memerlukan pemicu seperti pada ...
Selengkapnya
|
Akhirnya Kami Bisa Mandiri
Minggu, 05 September 2010
Dua tahun yang lalu, melalui seleksi ketat, bersama tujuh temannya, Fauziah mendapat modal usaha seb...
Selengkapnya
|
Anti Lelah
dan Gaya
Minggu, 05 September 2010
Tiga dekade tak cukup meredupkan pamor wedges. Sepatu bertumit ini konon muncul dari pemberontakan t...
Selengkapnya
|
Karakter “Wedges”
Minggu, 05 September 2010
Wedges memiliki dua karakter; Bertumit tinggi sekaligus nyaman saat dikenakan. Bagi yang memakainya ...
Selengkapnya
|
Apa Kata Mereka
Minggu, 05 September 2010
Lantaran tidak memiliki postur yang terlalu tinggi, hanya 160 sentimeter, penyanyi Gita Gutawa, meng...
Selengkapnya
|
Selamat
Pulang
Kampung
Minggu, 05 September 2010
Sejumlah penumpang terlihat membawa tastas besar dan dus sedang menunggu kereta Kerta Jaya jurusan S...
Selengkapnya
|
Resto Jepang
Sesungguhnya
Minggu, 05 September 2010
Banyak restoran Jepang bertebaran di Jakarta, namun hanya satu yang betul-betul bernuansa Jepang, ya...
Selengkapnya
|
| |
|
|
| |
|
|
|
|
|