Berharap Berita Ampli Itu “Hoax” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 24 2017
No Comments

Berharap Berita Ampli Itu “Hoax”

Berharap Berita Ampli Itu “Hoax”

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Sungguh, saya berharap berita ampli itu hoax, atau tabong, berita bohong, atau dusta. Karena terkesan sadis, mencengkam. Berita mengenai ampli, kependekan dari amplifier, alat untuk penguat suara.

Lokasi kejadian di Kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Suatu sore, Selasa lalu, ada seseorang yang diduga mencuri amplifier masjid. Orang nahas tersebut dikeroyok,dipukuli, lari, dikejar, kemudian sekali dibakar. Tubuhnya hangus, nyawanya melayang.


Baru kemudian setelah korban jatuh, diketahui seseorang itu bukanlah pencuri. Bukan mencuri ampli. Dia membawa ampli ke dalam karena takut kalau ditinggal di motor akan dicuri orang. Seseorang yang tak perlu disebutkan inisialnya ini bekerja sebagai montir televisi. Waktu ashar datang, ia menyempatkan diri salat. Dan keganasan terjadi.


Saya berharap berita itu hoax adanya. Karena terlalu banyak pertanyaan—yang menakutkan yang muncul, dan serentak dengan itu ada jawaban—yang mungkin lebih mencemaskan.

Misalnya pertanyaan umum: apakah di daerah kejadian itu masyarakat demikian ganasnya membasmi “kejahatan”. Apakah ada pengalaman traumatis yang dirasakan bersama terhadap pencurian? Kalau benar begitu, apa yang menyebabkan itu? Belum lagi bagaimana bisa terjadi pengeroyokan massa, pemukulan, dan berakhir dengan membakar manusia hidup-hidup.

Apakah ini bagian dari keberingasan, bagian dari kebencian, bagian dari nafsu membunuh dulu, urusan belakangan? Apakah main hakim sendiri dan menuntaskan merupakan jalan pemuas ?


Saya berharap berita ampli ini hoax adanya. Bahkan kalau hoax pun, bisa menjadi pelajaran agar tidak gegabah menghakimi, tidak “sumbu pendek” dalam bereaksi, tidak ikut larut dalam aksi massa.

Karena setelah peristiwa terjadi, penyesalan saja tak cukup untuk menghidupkan yang tak bersalah. Tak cukup menjawab bagaimana dengan istri, atau anak-anaknya, atau masa depan mereka, atau tentang harga nyawa itu sendiri. Dan penyesalan tak cukup meringankan tragedi yang sungguh ngeri, di negeri ini.


Kemarahan di media sosial bisa dibaca sebagai pertanda menyayangkan peristiwa pembakaran manusia, sebagai upaya menjaga kewaspadaan, kewarasan dalam bertindak, dan kehati-hatian.

Bukan hanya dalam kasus yang menenggelamkan rasa kemanusiaan, melainkan juga pada peristiwa lain. Yang bisa saja sangat sepele—hanya prasangka, hanya curiga sebagai awal mula, — dan berakhir di luar yang tak terbayangkan sendiri.

Kegeraman yang tersuarakan di media sosial menjadi penting dimaknai sebagai adanya kesadaran sosial akan hal-hal yang dianggap kelewat batas.

Berprasangka akan kejahatan seseorang dan membakarnya adalah di luar batas normal. Dan teriakan memunculkan ini adalah bagian mengembalikan kesadaran bersama.


Pada saat yang sama, kita belajar bagaimana menyikapi kabar demikian itu. Turut meng-like atau meneruskan, tapi mem-blur gambar yang ada. Dan tetap bersikap hati-hati, waspada, dan mungkin lebih bisa menahan diri dalam gerakan yang melibatkan massa.


Saya berharap berita ampli itu hoax, walau barang kali berita hoax tak semenakutkan seperti yang betul-betul terjadi.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment