Koran Jakarta | December 15 2018
No Comments

Berburu Uang Baru untuk Mendulang Rezeki

Berburu Uang Baru untuk Mendulang Rezeki

Foto : Koran Jakarta/perri irawan
penukaran uang l Warga berbondong-bondong menukarkan uang pecahan baru di kas keliling, Jakarta Pusat, Jumat (25/5).
A   A   A   Pengaturan Font

Sejak pagi buta, ratusan orang rela mengantre di selasar Lenggang Jakarta, lapangan IRTI, Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Panjangnya mencapai puluhan meter. Mereka antre untuk mendapatkan nomor urut penukaran uang pecahan baru.

Di sebelah Lenggang Jakarta itu, tepatnya di tempat bekas parkir sepeda motor, ada 13 mobil kas keliling beragam Bank terparkir rapi. Mobil kas keliling ini disiapkan untuk melayani penukaran uang pecahan baru yang dibutuhkan masyarakat.

Tidak sedikit warga Ibu Kota menunggu pembukaan kas keliling itu sejak pukul 06.00 WIB. Mereka langsung bergegas setelah melaksanakan sahur. Padahal, kas keliling ini mulai operasi pada 08.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Apalagi ini hari terakhir. Karena, layanan penukaran uang ini dibuka pada 21-25 Mei 2018.

“Sejak pukul 06.00 WIB saya sudah menunggu disini untuk menukarkan uang. Lumayan panjang juga antreannya, karena ini hari terakhir mungkin. Ini sudah jam 10, baru bisa mendapat giliran penukaran,” ujar Neta Silalahi, 42 tahun, di lokasi, Jum’at (25/5).

Warga asal Medan, Sumatera Utara ini biasa mengantri lama untuk mendapatkan keuntungan dari uang pecahan baru. Perempuan bertopi ini, biasa melakukan jual beli uang pecahan baru di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Dalam layanan penukaran uang di Monas ini, Neta telah dua kali melakukan penukaran hingga 7,4 juta rupiah. Setiap penukaran, dia selalu menukarkan uang dalam satu paket maksimal. Yakni, pecahan 20 ribu, pecahan 10 ribu, pecahan 5 ribu, dan pecahan 2 ribu. Masing-masing pecahan sebanyak 100 lembar.

“Maksimalnya kan 3,7 juta rupiah. Kalau lebih dari itu, saya mau tukar lagi. Karena saya kan buat jual lagi. Setiap penukaran, saya kenakan uang jasa 10 persen. Kalau tukar 1 juta rupiah, ya jadi 1,1 juta rupiah. Biasanya kan banyak yang butuh untuk mudik di kampung,” katanya.

Dalam sehari, Neta mampu meraup untung 200 ribu- 500 ribu rupiah. Jika sepi, dia pun hanya mematok sebesar 5 persen uang jasa penukaran itu. Diakuinya, jasa penukaran uang itu terjadi juga di Monas. Sebab, tak sedikit warga Jakarta malas untuk mengantri. Terlebih, durasi penukaran uang itu sangat mepet, hanya 5 hari.

Padahal, syaratnya cukup mudah. Hanya menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) masing-masing untuk didata oleh petugas. KTP ini perlu ditunjukkan untuk menghindari warga yang berulang kali datang. Nantinya, warga yang sudah antre akan diberikan karcis yang berisi nomor antrean.

Saat penukaran uang, warga bisa menukarnya hanya beberapa pecahan mata uang saja yang diperlukan. Atau bisa juga satu paket maksimal sebesar 3,7 juta rupiah. Seperti dituturkan Budi, 50 tahun. Karyawan koperasi salah satu instansi pemerintah ini telah menukarkan uangnya hanya 1,7 juta rupiah saja. Uang pecahan baru yang didapatnya, akan digunakan sebagai hadiah bagi saudara-saudaranya yang masih kecil.


peri irawan/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment