Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Beragama secara Sehat dan Matang

Beragama secara Sehat dan Matang
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Islam Jalan Tengah

Penulis : Yusuf Qardhawi

Penerbit : Mizan

Tahun : I, Oktober 2017

Tebal : 252 halaman

ISBN : 978-602-414-034-6

 

Kita patut prihatin atas tragedi yang menimpa Meiliana. Karena permohonannya agar pengeras suara untuk azan dikecilkan, dia dianggap menista agama. Vonis 18 bulan terhadap perempuan, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara, itu melengkapi deretan korban pasal penistaan agama yang telah diberlakukan semenjak tahun 2004.

Dalam konteks tersebut, sepatutnya kita cermati sebuah artikel Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul Islam Kaset dan Kebisingannya (20/02/1982). Secara garis besar, Gus Dur mengingatkan pentingnya toleransi terkait pengeras suara di malam hari terhadap orang-orang yang tak terkena kewajiban shalat. Sebut saja orang jompo yang memerlukan istirahat, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena wajib sembahyang. Tetapi, mengapa mereka harus diganggu? Juga anak-anak. Dan, Meiliana termasuk yang tak kena kewajiban salat karena dia nonmuslim.

Buku Islam Jalan Tengah karya Yusuf Qardhawi ini bisa menjelaskan lebih jernih alasan sikap berlebihan terhadap agama kerap kali terjadi. Kita tak punya hak untuk memaksa seseorang baik menjauhkan diri dari pendapat yang dianut atau mengikuti cara-cara yang bertentangan dengan keyakinannya. Kita hanya bisa menyampaikan ajaran benar dengan penuh kebijaksanaan, mengajak berdialog secara baik-baik, serta memuaskan setiap orang dengan dalil-dalil yang tepat (hlm 38).

Buku ini berhasil menyingkap tanda-tanda berlebihan beragama, di antaranya 1) fanatik pada suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat orang lain. 2) Mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah atas mereka. 3) Memperberat yang tidak pada tempatnya. 4) Sikap kasar dan keras. 5) Berburuk sangka terhadap manusia. 6) Terjerumus ke dalam jurang pengafiran.

Sikap berlebihan terhadap agama acap kali terjadi karena lemahnya pengetahuan hakikat agama. Juga, minimnya pengetahuan tentang fiqih (hukum) serta absennya pengkajian secara mendalam atas rahasia-rahasia yang meliputi pemahaman inti tujuan agama adalah salah satu pemicu utamanya.

Selain itu, pengetahuan setengah-setengah mengakibatkan pemeluk agama merasa merupakan golongan paling berpengetahuan sempurna. Begitu pula pengetahuan sepotong-sepotong lebih mementingkan bungkus daripada substansi.

Implikasinya, mayoritas pemeluk agama tidak mengetahui yang saling bertentangan ataupun yang perlu diprioritaskan. Maka tak heran, jika yang terjadi kemudian ketidakmampuan mengambil keputusan secara tepat dengan memperhatikan seluruh alasan dan motif yang menjadi latar belakang suatu persoalan (hlm 62–63).

Dalam banyak kasus, kerap pula terjadi ketergesaan memutuskan hukum, melakukan generalisasi, dan menetapkannya sebagai keputusan final, tanpa hak naik banding atau pemeriksaan ulang. Bahkan, kita terkadang tak mau mendengarkan pembelaan para tertuduh atau argumen dari pihak lain. Padahal sikap seperti itu sesungguhnya bertentangan dengan keadilan (hlm 141).

Di tengah kemajemukan keyakinan di negara ini, fenomena ekstremisme tentu tak boleh dianggap remeh. Buku ini menawarkan solusi, perlunya meneguhkan kembali nilai-nilai inti ajaran Islam demi terwujudnya harmoni kehidupan bersama.

Islam adalah agama yang senantiasa menempuh dialog jalan tengah, toleran, moderat dan adil sehingga bisa menjadi rahmat bagi semesta alam. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur niscaya umat Islam akan mampu beragama secara sehat dan matang di tengah perbedaan.

Yusuf Qardhawi merupakan ulama terkemuka abad ke-21 yang pendapat-pendapatnya sering menjadi rujukan umat Islam di berbagai belahan dunia. Dia menutup bukunya dengan epilog “Daripada mengutuk kegelapan, nyalakan sebatang lilin untuk menerangi jalan.”

 


Diresensi Ahmad Jauhari, Staf di Yayasan Tarbiyatul Wathon, Gresik

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment