Belanja Negara Rp1.700 Triliun Digenjot pada Semester II-2020 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
Akselerasi Perekonomian

Belanja Negara Rp1.700 Triliun Digenjot pada Semester II-2020

Belanja Negara Rp1.700 Triliun Digenjot pada Semester II-2020

Foto : ANTARA/AHMAD SUBAIDI
SIRKUIT MANDALIKA I Petugas mengecek material lapisan pondasi atas saat pemadatan lintasan Sirkuit Mandalika di KEK Mandalika, Praya, Lombok Tengah, NTB, Rabu (12/8).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Pemerintah terus memacu penyerapan belanja negara termasuk pro­gram Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada semes­ter II-2020 atau dua triwu­lan berturut-turut. Upaya memacu belanja tersebut agar menjadi daya ungkit bagi perekonomian sehingga tidak terkontraksi dalam seperti di negara-negara lain.

Menteri Koordinator Per­ekonomian, Airlangga Har­tarto, dalam keterangan ter­tulisnya usai mengikuti rapat kerja dan konsultasi nasional Asosiasi Pengusaha Indone­sia (Rakerkonas Apindo) 2020 secara daring, di Jakarta, Rabu (12/8), mengatakan angga­ran yang disiapkan mencapai 1.700 triliun rupiah pada pa­ruh kedua ini.

“Pada triwulan III ini penentuan bagi kita. Dari 2.700 triliun rupiah anggaran yang disiapkan, termasuk anggaran PEN, sampai Juni pemerintah sudah membe­lanjakan 1.000 triliun rupiah. Di triwulan III–IV kita ha­rapkan bisa membelanjakan 1.700 triliun rupiah, 700 trili­un rupiah di triwulan III dan 1.000 triliun rupiah di triwu­lan IV,” kata Airlangga.

Upaya memacu belanja negara itu dilakukan sesuai arahan Presiden Jokowi, terutama di jajaran kementerian dan lembaga serta pemerin­tah daerah agar perekono­mian kembali ke jalur positif setelah negatif 5,32 persen pada triwulan II.

Lebih lanjut, Airlangga me­nyatakan meskipun ekonomi Indonesia dari sisi pengeluar­an berkontraksi baik dari kon­sumsi, belanja pemerintah, investasi dan ekspor serta im­por, namun dari sisi lapangan usaha, ada beberapa sektor yang tumbuh positif.

Pertumbuhan positif ma­sih tercatat dari sektor infor­masi dan telekomunikasi, utilitas air, jasa kesehatan, real estat, pertanian, jasa pendidikan serta jasa keuangan. Sementara itu, sektor yang paling terpukul yakni akomo­dasi, makanan dan minuman, serta transportasi darat, laut dan udara.

“Sektor akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi inilah yang jadi perhatian pemerintah, kare­na Ketua Apindo juga adalah Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indone­sia), mungkin kita perlu ba­has stimulan yang perlu di­lakukan di sektor ini, karena spending-nya juga di dalam negeri, maka harus didorong,” kata Airlangga.

Lebih Dalam

Lebih lanjut, dia mengatakan Indonesia meru­pakan satu dari sedikit negara yang masih tumbuh positif pada triwulan I 2020 yakni 2,97 persen.

Pada triwulan II, negara lain turun cukup dalam, misalnya Inggris yang minus 19 persen, Jerman minus 11 persen, Prancis minus 19, dan Jepang yang minus 8 persen, Korea Selatan minus 2,9 persen, dan India minus 18 persen.

“Kalau kita lihat beberapa negara yang melaksanakan lockdown, ekonominya ter­dampak lebih dalam,” katanya.

Dari berbagai proyeksi di 2021, hampir berbagai insti­tusi memprediksi ekonomi Indonesia berada dalam jalur hijau atau positif sehingga sangat berharap para pemang­ku kepentingan memberi dukungan khususnya dunia usaha. n uyo/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment