Koran Jakarta | March 25 2017
No Comments

Belajar Kepemimpinan dari Dunia Pewayangan

Belajar Kepemimpinan dari Dunia Pewayangan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Politik adalah nadi kehidupan yang hadir di keseharian dari obrolan warung kopi, dewan hingga pejabat tinggi. Dunia politik sebenarnya sungguh perlu diperhatikan karena menentukan kehidupan setiap orang (hal 11). Wayang diyakini sebagai epos panjang yang merupakan pengejawantahan dunia manusia.

Judul                  : Jokowi, Sengkuni, Machiavelli

Pengarang       : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit           : Mizan

Hal                      : 216 halaman

Cetakan            : Pertama, September 2016

ISBN                  : 9789794339770

Politik adalah nadi kehidupan yang hadir di keseharian dari obrolan warung kopi, dewan hingga pejabat tinggi. Dunia politik sebenarnya sungguh perlu diperhatikan karena menentukan kehidupan setiap orang (hal 11). Wayang diyakini sebagai epos panjang yang merupakan pengejawantahan dunia manusia. Wayang sebagai mikrokosmos yang mewakili makrokosmos manusia. Tokoh penting dalam Mahabharata yang kerap menjadi simbol politikus licik adalah Sengkuni. Dia digambarkan sebagai pengatur  muslihat agar kekuasaan Hastinapura tak jatuh ke tangan Pandhawa, tapi tetap pada kemenakannya sendiri, Kurawa.

Tetapi ada temuan menarik yang diungkapkan buku,  sejatinya dari semua kelicikan Sengkuni tak banyak yang berhasil. Sebagian besar rencana jahatnya, kecuali perjudian dengan taruhan negara yang menjerumuskan para ksatria itu dalam lakon Pandhawa Dadu, lebih banyak gagal (hal 24).

Buku  memberi kategorisasi pemimpin dewasa ini. Pemimpin elitis, merakyat, dan menanggung. Pemimpin elitis  berpendidikan tinggi, luar negeri dengan referensi jempolan. Latar belakangnya membuat tampil sangat menawan di pentas politik.

Pemimpin merakyat adalah antitesis elitis. Pemimpin seperti ini mengandalkan ‘musyawarah mufakat’ ketimbang voting. Artinya mencerminkan penanaman sistem nilai tradisional dalam berorganisasi (hal 28). Jokowi mewakili jenis pemimpin merakyat. Yang buruk ialah pemimpin nanggung berada di tengah keduanya dan lebih mengedepankan citra diri.

Politik selalu berangkat dari motivasi. Sebagai contoh Gandari, istri Destrarasta, ibu Kurawa secara motivasi sudah keliru sejak awal. Gandhari menolak dinikahi Destrarasta bukan karena cinta mati pada Pandhu, tapi  inginkan kekuasaan. “Aku tidak sudi menjadi istri seorang buta yang tidak bakal menjadi raja,” (hal 115). Ini menjadikan Gandari berada di belakang banyak tindakan culas Sengkuni, kakaknya, dan para Kurawa.

Sikap kenegarawan politikus tampak dalam menghadapi kekalahan. Ada istilah menang, tanpa ngasorake (mengalahkan). Ada empat tokoh wayang cara menghadapi kekalahan.

Sumantri: kekalahan yang direlakan. Kekalahan Sumantri justru diidamkan karena memiliki kesempatan mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu. Mungkin kekalahan Sumantri inilah yang disebut Mao Zedong sebagai mundur selangkah untuk maju beberapa langkah.

Yudhistira: kekalahan konyol karena tidak boleh ditiru. Kalah tanpa analisis kekuatan lawan dan harus menanggung malu karena konyol. Suyudana: kekalahan segalanya karena paling tidak heroik. Seorang ksatria yang kalah justru tidak saat berperang.

Dia menafikan ideologi, melepas jubah ksatria, bahkan mengkhianati kewajiban. Ada kekalahn terutuk yang dialami Aswatama saat melihat Durna (bapaknya) mati dan kekalahan Kurawa yang menyusun siasat terlicik. Pada suatu malam, diam-diam Asmawatam masuk ke tenda Pandhawa dan membunuh satu demi satu.

Pilkada serentak 2017 menjadi momen politik yang harusnya mendewasakan politik bangsa. Bakal calon Gubernur DKI Jakarta telah membuat banyak orang yang tak paham politik sekalipun, ikut berkomentar. Politik memang mengatur segala sendi kehidupan. Meskipun demikian, jangan sampai politik merusak kemanusiaan. Dia menjadi  permainan demi kemenangan-kemenangan.

 

Diresensi Teguh Afandi, lulusan UGM

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment