Belajar “Coding” Merangsang Penciptaan Teknologi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 7 2020
No Comments

Belajar “Coding” Merangsang Penciptaan Teknologi

Belajar “Coding” Merangsang Penciptaan Teknologi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Memasuki industri 4.0 menuntut generasi muda untuk selalu memperkaya diri keahlian di bidang literasi digital yang berkembang cepat. Salah satunya dengan memperluas akses pembelajaran ilmu komputer yang kini sudah menjadi standar baru kurikulum internasional.

Ilmu komputer menawarkan cara berpikir yang praktis, sistematis, kritis, dan kreatif untuk menjadikan karya digital sebagai sebuah solusi dalam mengatasi masalah sosial di masyarakat. Hal tersebut harus diterapkan sejak usia dini, khususnya untuk generasi alpha.

Coding sebagai ilmu menerjemahkan logika ke dalam bahasa pemrograman komputer menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ilmu komputer. Melalui coding, kita dapat membuat aplikasi apa saja yang dapat membantu pekerjaan, hiburan, bahkan solusi mengatasi masalah sosial.

Coding Bee Academy (CBA), sebuah sekolah coding khusus untuk anak berusia 5–17 tahun, secara resmi membuka cabang pertamanya di Kota Surabaya untuk memenuhi kebutuhan bagi wilayah Indonesia bagian Timur.

“Coding Bee Academy hadir untuk memperkenalkan cara membuat gim dengan bahasa pemrograman yang berlaku secara universal bagi anak-anak usia dini,” ujar Founder Coding Bee Academy, Eko Haripin.

Eko nenambahkan, belajar coding sama halnya seperti belajar bahasa. Namun yang dihasilkan adalah piranti lunak atau aplikasi yang dapat membantu banyak pekerjaan di era digital ini. Dengan belajar coding, anakanak dipicu untuk lebih peka terhadap permasalahan di sekitarnya dan bagaimana aplikasi tersebut menjadi sebuah solusi.

“Anak-anak tidak lagi menjadi konsumen teknologi, tetapi menjadi pencipta teknologi,” CBA adalah partner resmi Code.org, organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk memperkenalkan kurikulum ilmu komputer kepada anak-anak sejak usia dini memulai inisiatifnya dari kota Jakarta. Sekolah tersebut mengaplikasikan K12 CS Frameworks yang merupakan kurikulum ilmu komputer di AS, dengan metode berkonsep menyenangkan (fun) dan menarik (exciting).

Husen Halim salah satu pengelola CBA di Surabaya yang juga orang tua dari siswa CBA di Jakarta mengatakan sebagai orang tua dari generasi millenial, ia harus cermat memilih investasi pendidikan bagi anak-anaknya, terlebih akan banyak profesi baru dimasa depan yang dapat digantikan oleh komputer.

“Ketika kemampuan membuat program atau coding menjadi keahlian dasar pada semua profesi dan industry maka coding akan menjadi game changer dalam mewujudkan ide kreatif dan orisinal dalam menembus industri digital di masa depan,” kata Husen.

Ada tiga tingkatan yang ditawarkan CBA dimulai dari basic, intermediate, dan advance disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Lebih dari 80 sekolah nasional dan internasional di Indonesia sudah bergabung dengan CBA dalam menerapkan coding sebagai materi pembelajaran dalam bentuk ekstrakurikuler, mata pelajaran, maupun workshop.

Beberapa sekolah terkemuka itu, di antaranya adalah Al-Azhar, BPK Penabur, IPEKA, NationalHigh Jakarta School, Raffles Christian School, Singapore Intercultural School, dan lainnya telah menggunakan kurikulum dari CBA, yang kini telah mempunyai lebih dari 2000 murid yang aktif dan lebih dari 20.000 aplikasi maupun software yang sudah dihasilkan.

Untuk memperluas akses pembelajaran computer science, CBA juga mengadakan acara K12 Computer Science Education Fair. K12 Computer Science Education Fair akan dilaksanakan mulai dari 6-8 Maret 2020 di Emporium Pluit Mall, Jakarta.

Tidak hanya menghadirkan Olimpiade Coding untuk anak TK-SMA, acara ini juga menghadirkan Smart Talkshow mengenai pentingnya belajar coding untuk masa depan anak-anak. K12 Computer Science Education Fair didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini. hay/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment