Bea dan Cukai Banyuwangi Melepasliarkan 850 Tukik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments

Bea dan Cukai Banyuwangi Melepasliarkan 850 Tukik

Bea dan Cukai Banyuwangi Melepasliarkan 850 Tukik
A   A   A   Pengaturan Font

BANYUWANGI – Kantor Bea dan Cukai (BC) Banyuwangi melepasliarkan 850 ekor tukik di Pantai Boom, Banyuwangi, Selasa (11/8). Pelepasan dipimpin Kepala Kantor Bea Cukai Banyuwangi, R Evy Suhartantyo.

“Kami melepaskan sekitar 850 jenis tukik lekang,” kata Evy. Menurutnya, langkah tersebut sebagai upaya melestarikan  dan peduli penyu. Pelaksanaannya, BC bekerja sama dengan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF).

Penyu adalah satwa dilindungi karena populasinya semakin menurun dewasa ini. Dari 7 jenis di dunia, 6 di antaranya ada di Indonesia. Kabupaten Banyuwangi sendiri memiliki 4 jenis penyu.

“Kegiatan bertemakan Tukik Merdeka, Lestari Alam Kita ini dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75,” tambah Evy. Setelah melepaskan tukik, kegiatan dilanjutkan bersih-bersih pantai. Para pegawai BC mengumpulkan sampah yang berserakan di sepanjang Pantai Boom.

Evy menegaskan, sudah menjadi tugas BC untuk mengawasi, agar tidak penyelundupan hewan-hewan dilindungi. Sementara itu, Ketua BSTF Wiyanto mengapresiasi langkah BC Banyuwangi ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bea dan Cukai Banyuwangi yang peduli pada kelestarian penyu. Masih jarang orang peduli kelestarian penyu,” tandasnya. Penyu yang dilepaskan merupakan hasil penangkaran BSTF. Telur-telur dari masyarakat yang lalu ditangkarkan oleh BSTF.

Dia memperkirakan, 20 tahun lagi, tukik-tukik ini akan menjadi dewasa. Mereka akan kembali ke pantai Boom ini untuk bertelur.

 

Tahun 1990 an telur-telur penyu masih banyak diperdagangkan di pasar-pasar untuk dikonsumsi. Hal ini menyebabkan penurunan tajam populasi penyu. Hal inilah yang mendorong pendirian BSTF tahun 2011.

“Sekarang hampir tidak ada lagi perdagangan telur-telur penyu. Masyarakat sudah semakin peduli, penyu merupakan hewan dilindungi,” ujarnya. wid/G-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment