Koran Jakarta | November 20 2018
No Comments
Ekspansi Bisnis - BTN Berinovasi Mengembangkan Produk “Low-cost Fund”

BBTN Segera Akuisisi Manajemen Investasi

BBTN Segera Akuisisi Manajemen Investasi

Foto : Koran Jakarta/M.Fachri
Usulan Dividen BTN - Dirut PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, Maryono (kiri) bersama Dirut PT Sarinah, Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa, dan sejumlah direksi BUMN pada Rapat Panja Deviden 2018 Komisi VI DPR, di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (11/7). Bank BTN mengajukan besaran dividen untuk tahun buku 2018 sebesar 20 persen sesuai dengan rasio selama empat tahun terakhir guna tetap menjaga permodalan Program Satu Juta Rumah.
A   A   A   Pengaturan Font
Bank BTN mendirikan perusahaan manajemen investasi agar pengelolaan dana Tapera bisa profesional dan komersial.

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) akan mengakuisisi sebuah perusahaan manajemen investasi untuk menggarap potensi pendanaan jangka panjang usai beroperasinya Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).

Direktur Utama Bank BTN, Maryono, mengatakan dalam payung hukum terkait Tapera, entitas bank diberikan dua opsi pilihan untuk mengelola dana tersebut, yakni sebagai bank kustodian atau manajemen investasi. “Dari hasil kajian bisnis, Perseroan memutuskan untuk mengambil opsi kedua, yakni memiliki manajemen investasi.

Nantinya, entitas manajemen investasi tersebut untuk mengelola dana Tapera secara profesional dan komersial,” kata Maryono di sela-sela acara Nonton Bareng Piala Dunia 2018 bersama Direksi BTN, di Jakarta, Rabu (11/7). Dia menambahkan, pada September tahun ini, akan membeli anak usaha dalam bentuk manajemen investasi.

“Ini sebagai salah satu langkah kami mengamankan sumber pembiayaan jangka menengah panjang termasuk yang bersumber dari Tapera,” ujarnya. Langkah strategis tersebut juga dilakukan melihat prospek yang semakin cerah usai relaksasi loan-to-value (LTV) di sektor perumahan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI).

“Kebijakan tersebut menjadi keuntungan bagi Bank BTN dengan core business pembiayaan perumahan,” jelas Maryono. Maryono juga meyakini dengan adanya relaksasi dari pemerintah tersebut, Perseroan akan mampu mencapai target pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini. Apalagi mulai paruh kedua tahun ini, Bank BTN sudah bisa menggunakan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Skema FLPP pada tahun ini pun dipandang akan menguntungkan posisi Bank BTN. Pada skema baru tersebut, sebanyak 75 persen dananya berasal dari pemerintah, sedangkan 25 persen dan sisanya bersumber dari PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF. Dengan penambahan fasilitas tersebut juga bisa menggunakan dua sumber pembiayaan yakni Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan FLPP.

 

Pengembangan Produk

 

Emiten perbankan pelat merah ini juga terus berinovasi mengembangkan produk-produk low-cost fund untuk memperkokoh sumber pembiayaan. Perseroan juga telah menyiapkan program menarik untuk produk tabungan dan giro. “Kami telah menyiapkan program low-cost fund yang menarik untuk mendukung rencana pembiayaan kami yang ekspansif.

Semua langkah tersebut kami siapkan agar Bank BTN tetap menjadi leader di bidang perumahan dan kami optimistis target bisnis pada tahun ini akan tercapai,” tukas dia. Untuk diketahui, hingga Mei 2018, Bank BTN telah menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai 187,61 triliun rupiah.

Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat naik 17,15 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 160,14 triliun rupiah pada periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan simpanan masyarakat di Bank BTN tersebut terpantau masih berada di atas rata-rata posisi kenaikan DPK di industri perbankan nasional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan DPK secara industri hanya naik di level 8 persen yoy pada April 2018. Sementara itu, dari sisi penyaluran kredit dan pembiayaan pun, Bank BTN mencatatkan laju kenaikan di atas rata-rata industri perbankan di Tanah Air.

Per Mei 2018, Bank BTN telah menyalurkan fungsi intermediasi senilai 209,23 triliun rupiah atau tumbuh 20,58 persen yoy dari 173,52 triliun rupiah. Sebaliknya, data OJK menyebutkan kredit perbankan secara nasional hanya tumbuh sebesar 9 persen yoy per April 2018.

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment