Koran Jakarta | April 19 2018
No Comments
Divestasi Saham - Potensi Bisnis Asuransi di Indonesia Sangat Besar

Batasi Kepemilikan Asing Melalui IPO

Batasi Kepemilikan Asing Melalui IPO

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Terdapat sekitar 18 perusahaan asuransi asing yang berpotensi melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia.

JAKARTA – Pembatasan kepemilikan asing pada perusahaan asuransi dapat dilakukan melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering/ IPO).

Direktur PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengatakan pengurangan kepemilikan asing dalam perusahaan asuransi melalui skema IPO akan berdampak sangat positif bagi pasar efek Indonesia. “Selama ini perusahaan asuransi menguntungkan jadi kebijakan pembatasan kepemilikan asing cukup bagus bagi pasar modal dan industri keuangan kita,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, Selasa (10/1).

Hans mengatakan, ketika kepemilikan asing di dalam perusahaan asuransi cukup besar pada saatnya nanti harus melakukan divestasi atau mencari mitra strategis untuk mengambil porsi 20 persen saham domestik. Sementara untuk mencari mitra strategis tidaklah mudah apalagi yang memiliki satu visi. Selain itu, tidak mudah juga mencari orang yang punya dana cukup besar untuk menyuntikkan ke perusahaan asuransi guna mengambil kepemilikan domestik 20 persen.

“Dari situ kalau kebijakan divestasi mencari tender offer atau kebijakan strategic partner untuk mengurangi kepemilikan tentu butuh waktu dan cukup sulit. Artinya bagi perusahaan asuransi mencari 20 persen investasi orang untuk masuk agak sulit, ditambah lagi orang tersebut akankah satu visi atau tidak dengan perusahaan,” papar Hans.

Langkah IPO, imbuh Hans, menjadi keuntungan bagi perusahaan asuransi ketika go public ketimbang mencari mitra strategis yang prosesnya memakan waktu lebih lama, dan harus memiliki kecocokan satu sama lain. Bagaimanapun dalam mendirikan perusahaan itu berdasarkan pada pemikiran sederhana yakni ingin menyejahterakan pemegang saham. “Bagi pemegang saham ketika perusahaan untung maka tidak akan menjual porsi kepemilikannya,” katanya.

Menurut Hans, industri asuransi diminati asing karena mengacu pada jumlah penduduk Indonesia cukup besar 250 juta jiwa. Lalu, kelas menengah terus tumbuh ditambah lagi Indonesia adalah negara yang baru berkembang, sehingga baru sadar asuransi dan melek keuangan.

“Ada tiga hal yang harus orang tahu. Pertama, proteksi atas kekayaan melalui asuransi. Kedua, membuat well growing agar mengembangkan kekayaan lewat pasar modal atau investasi. Ketiga, well distribution, yakni pensiun dan warisan. Dari ketiga hal tersebut bagi Indonesia maka investor akan masuk pada dua hal itu, proteksi dan well growing,” pungkasnya.

 

Sosialisasi Pembatasan

 

Di tempat terpisah, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Samsul Hidayat, mengatakan pihaknya sudah mengundang asuransi asing untuk IPO dan menyosialisasikan peraturan pemerintah mengenai batas kepemilikan asuransi asing di Indonesia. “Mereka pun tengah bersiap-siap untuk mengetahui lebih rinci aturan tersebut. Kita sudah mendatangi dan memberitahu mereka mengenai aturan itu,” ujarnya.

Menurut Samsul, dari situ pihak asuransi asing yang ada di Indonesia bisa menjajaki diri masuk ke pasar modal dengan melakukan IPO sebagai kewajiban melakukan divestasi. Saat ini total perusahaan asuransi asing yang berada di Indonesia sekitar 18 perusahaan. Kendati demikian mekanismenya akan seperti apa masih menunggu keputusan pemerintah mengenai spesifikasinya akan seperti apa. “Kita undang mereka untuk sosialisasikan aturan itu. Asuransi yang sudah datang pun ada 12 perusahaan,” imbuhnya.

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment