Koran Jakarta | April 23 2018
No Comments
Stabilitas Nilai Tukar

Bank Sentral Singapura Perketat Kebijakan Moneter

Bank Sentral Singapura Perketat Kebijakan Moneter

Foto : AFP/Roslan RAHMAN
Ambil Uang - Nasabah mengambil uang dari sebuah anjungan tunai mandiri di Singapura, beberapa hari lalu. Otoritas Moneter Singapura mulai melakukan pengetatan moneter.
A   A   A   Pengaturan Font

SINGAPURA - Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) mengeluarkan kebijakan pengetatan moneter untuk pertama kali sejak enam tahun terakhir.

Bank sentral mengungkapkan ekonomi di negara ini harus tetap pada jalur ekspansi yang stabil di 2018 sejalan dengan hadirnya risiko dari kemungkinan eskalasi ketegangan perdagangan ASTiongkok.

MAS pada pekan lalu (13/4) menyatakan akan sedikit memperketat kebijakan moneter terkait dollar Singapura dari nol persen. Perlu diketahui, Bank Sentral Singapura mengatur kebijakan moneter dengan perubahan nilai tukar daripada mengatur suku bunga.

Regulator mengondisikan dollar Singapura bisa menguat atau melemah terhadap mata uang asing yang menjadi mitra dagang utama dengan kebijakan nilai tukar yang dirahasiakan lewat kebijakan Nominal Effective Exchange Rate (NEER) ini.

Kebijakan ini menyesuaikan dengan mengubah tingkat apresiasi, titik tengah, atau kebijakan kisaran rentang nilai tukar dollar Singapura.

Setelah kebijakan itu diumumkan, dollar Singapura sempat naik sebentar sebanyak 0,3 persen, lalu kembali stabil pada 1,3119 per dollar AS di penutupan perdagangan.

Kebijakan pengetatan nilai tukar pernah ditempuh MAS saat krisis keuangan global terjadi selama 18 bulan, yakni pada Oktober 2008 lalu.

Kementerian Perdagangan Singapura melaporkan data awal menunjukkan bahwa ekonomi Singapura tumbuh lebih baik dari yang diperkirakan pada kuartal pertama dibandingkan dengan kuartal sebelumnya secara tahunan, di belakang pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor manufaktur.

“Ekonomi tumbuh 1,4 persen pada periode Januari– Maret secara tahunan dan disesuaikan secara musiman,” ungkap Kementerian Perdagangan dan Industri.

Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura diperkirakan tumbuh 1,0 persen secara tahunan di Januari– Maret dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya. Pada kuartal keempat 2017, PDB tumbuh 2,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan untuk tahun 2017 adalah 3,6 persen, kenaikan terbesar sejak 2014. Kepala Penelitian dan Strategi keuangan di OCBC, Selena Ling, mengatakan keadaan sekarang sesuai dengan kekhawatiran tentang nilai tukar dollar AS yang makin perkasa sebagai dampak dari ketegangan perdagangan global.

“Ketika kita makin dekat dengan hasil rapat FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) bulan Juni, saya menduga beberapa perhatian pasar akan kembali pada kenaikan seperti yang diperkirakan oleh Federal Reserve, 25 basis poin.

Saya kira itu akan meningkatkan tekanan pada SIBOR (Singapore Interbank Offered Rate) domestik,” ujarnya. Sedangkan ekonom senior Mizuho Bank, Vishnu Varathan, mengatakan kemungkinan MAS dalam melonggarkan nilai mata uangnya kembali tetap terbuka. AFP/SB/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment