Bandara Beda dengan Kantor Polisi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Bandara Beda dengan Kantor Polisi

Bandara Beda dengan Kantor Polisi

Foto : koran jakarta / ones
A   A   A   Pengaturan Font

Bandara, Bandar udara atau airport, berbeda dengan kantor polisi, tentu saja. Juga berbeda dengan hotel atau rumah sakit. Bahkan dengan sesama pelabuhan—pelabuhan laut, “pelabuhan” kereta api, bandara sejak awalnya memiliki perbedaan mencolok.

Kompleks bandara, dari letaknya saja, sedikit di luar kota, sehingga perlu transportasi khusus.

Juga jam keberangkatan ditentukan, kapan check in pun ada jadualnya. Termasuk kapan masuk ruang tunggu pun ada waktu tertentu.


Karena itu pula barang kali bandara selalu berkesan buru-buru, tergesa, walau untuk delay, atau tertunda lama. Antrian dan antrian menyertai.

Mulai dari pintu masuk pun sudah ditanyai dan diperiksa, sampai lobi, masuk ruang tunggu, masuk ke perut pesawat, semua memerlukan kesabaran dan kesadaran.

Bahkan setelah turun pun, kesabaran masih disisakan. Mengantri bagasi,-- yang pasti terasa lama, mencari kereta dorong, sampai dengan mobil jemputan dan atau kendaraan umum.

Jarang melihat penumpang yang bisa nyantai—kecuali beberpa tokoh petinggi republik ini yang tidur di kursi bandara.


Yang terjadie kemarin bukan soal tidur. Melain ada seorang ibu, JW, 46 tahun, di bandara Sam Ratulangi, Manado, tujuan Jakarta. Dengan pesawat pagi.

Dan kalau dilihat antara memasuki ruang pemeriksaan dengan jam keberangkatan pesawat, sudah mepet.

Terjadilah insiden. Ketika calon penumpanmg diingatkan untuik melepas jam tangan, yang merupakan prosedur standar, membuatnya jengkel. Dipuklullah petugas yang mengingatkan.

Petugas lain datang melerai. Malah terkena gampar. Jadi urusan keamanan. Si Ibu melapor ke polisi, demikian juga petugas bagian keamanan yang menjadi korban.


Keributan di bandara “sering” terjadi. Dan menjadi ramai ketika diviralkan. Sehingga lebih banyak yang mengikuti peristiwa itu—dan menyesali. Mungkin juga pelakunya. Justru karena hal seperti itu bisa dihindari.

Tak perlu arogan, tak perlu merasa penting, tak juga sok. Walau memang bepergian dengan pesawat terbang itu “menjengkelkan”, sudah jelas bawa tiket, masih juga dicocokkan dengan kartu tanda penduduk, dan bukan sekali diperiksa ulang.

Seluruh tubuh dideteksi. Jam tangan, sabuk, jaket, kadang juga sepatu harus melalui pemeriksaan x-ray.

Dan memang itulah prosedur. Kalau tak mau dibegitukan, ya jangan naik pesawat terbang. Bahkan naik jet pribadi pun tak bisa sepenuhnya menghindari dari ini.


Bandara memang bukan hotel, yang ketika kita datang disambut dengan senyum, disapa dengan


welcome drink, , juga bukan rumah sakit, yang walau menyuntik tetap penuh keramahan dan bertanya apa kabar, keadaan baik, dan segera ditangani secara personal. Juga bukan kantor polisi yang “siap melayani anda.”


Perlakuan pada penumpang juga sama. Apakah istri jenderal, atau istri kopral, kalau duduknya di pinggir jendela tak bisa seenaknya pindah ke dekat gang. Dan sebaliknya. Juga tak bisa meletakkan barang semaunya. Tak bisa seenaknya ke toilet, misalnya.


Dalam hal tertentu saya merasa diuntungkan. Keseharian saya tidak mengenakan jam tangan, tidak memakai sabuk, jarang mengenakan jaket atau jas, sepatu pun yang mudah dilepas.

Saya memang kezal sekzl-kzlnya kalau ditanyai identitas—padahal kadang petugasnya kenal dengan saya kerena menyapa nama, atau disuruh mundur dan maju lagu.

Saya kesal tapi mengikuti apa yang dikatakan. Itu semua untuk keselamatan, kewaspadaan saya sendiri, juga penumpang lain.

Sebaiknya kita memaklumi tugas yang tak enteng ini, membalas dengan senyum dan bukan menampar.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment