Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Escherichia coli

Bakteri Usus yang Dapat Memicu Penyakit

Bakteri Usus yang Dapat Memicu Penyakit

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Escherichia coli (dikenal sebagai E. coli) adalah sekelompok bakteri yang biasanya hidup di usus manusia dan hewan dan membantu menjaga usus kita tetap sehat. Namun, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yakni Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, AS, beberapa jenis bakteri, kadang-kadang dapat menyebabkan penyakit parah.

Jenis E. coli yang menyebabkan sebagian besar infeksi berbahaya di AS menghasilkan racun yang disebut Shiga, dan secara tepat disebut E. coli penghasil racun Shiga (Shiga Toxin-producing Escherichia Coli - STEC). Di Amerika Utara, jenis STEC yang paling umum adalah E. coli O157: H7 (sering disingkat menjadi E. coli O145). CDC memperkirakan bahwa 265.000 orang Amerika terinfeksi STEC per tahun, menyebabkan sekitar 3.600 orang di rawat inap dan sekitar 30 kematian.

Di seluruh dunia, STEC diperkirakan menginfeksi setidaknya 280 juta hingga 400 juta anak di bawah usia 5 tahun, terutama di negara-negara berkem­bang. Anak-anak di bawah usia 5 tahun biasanya tidak memiliki kekebalan alami.

Sementara E. coli dapat menyebar dan memasuki tubuh dengan berbagai cara, sekitar 85 persen infeksi berasal dari makanan, menurut University of California San Francisco. Daging men­jadi terkontaminasi ketika bakteri dise­barkan dari saluran usus hewan selama pemotongan atau pemrosesan. Produk segar juga dapat terkontaminasi den­gan bakteri jika memasuki sumber air, seperti kasus wabah E. coli pada selada berjenis Romaine pada 2018.

E. coli pada selada dilaporkan telah menyerang 98 orang di 22 wilayah Amerika Serikat. Bakteri E. coli pada kasus itu menyebarkan zat berbahaya yang dikenal sebagai racun Shiga. Racun ini dapat menyebabkan muntah, kram perut parah, hingga diare berda­rah. Akibat bakteri E. coli pada selada itu, sebanyak 46 orang dilarikan ke rumah sakit dan 10 di antaranya mend­erita gagal ginjal.

Perlu Anda ketahui, strain patogen E. coli mudah dicerna dengan makan­an yang terkontaminasi, seperti daging sapi yang kurang matang, keju lunak yang terbuat dari susu mentah, produk segar, biji-bijian atau bahkan minu­man yang terkontaminasi, termasuk air, susu yang tidak dipasteurisasi dan jus buah.

Paparan bakteri ini juga dengan mudah tersebar melalui tangan yang kotor, jadi hati-hati jika Anda tidak menjaga kebersihan tangan, apa­lagi jika bersen­tuhan dengan hewan (teru­tama ternak), atau orang, atau permu­kaan yang telah terpapar bakteri berbahaya. Berenang di air yang terkontaminasi juga dapat me­nyebabkan infeksi E. coli, terutama jika ada air yang tertelan.

Meskipun E. coli dapat menginfeksi siapa pun, namun ada kelompok yang dianggap paling rentan terpapar bakteri ini, yaitu anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua, karena mer­eka dinilai memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau penurunan kadar asam lambung, menurut Mayo Clinic.

Kenali Gejalanya

Gejala E. coli biasanya muncul sekitar satu hingga delapan hari setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontami­nasi, menurut University of California, San Fran­cisco (UCSF). Kebanyakan orang yang terinfeksi akan mengalami diare dan kram perut, dengan beberapa mengalami mual, muntah dan demam.

Beberapa infeksi dapat menyebabkan sindrom uremik hemolitik (HUS), penyakit yang berpo­tensi mengancam jiwa. HUS menye­babkan sel darah merah hancur dan menyebabkan gagal ginjal. Diperki­rakan 5 hingga 10 persen orang dengan infeksi STEC dapat mengembangkan HUS. Gejalanya meliputi penurunan frekuensi buang air kecil, lesu dan kehilangan warna merah muda di pipi dan kelopak mata bagian dalam. Para ahli sangat menyarankan mencari per­awatan medis segera jika gejala-gejala tersebut muncul.

Berdasarkan penelitian University of California, San Francisco, E. coli juga bertanggung jawab atas sekitar 90 persen infeksi saluran kemih (ISK). Gejala-gejala ISK termasuk keinginan kuat untuk buang air kecil, sensasi terbakar ketika buang air kecil dan urin berwarna atau berbau, menurut Mayo Clinic. Wanita, terutama mereka yang aktif secara seksual, berisiko lebih tinggi terkena ISK karena panjangnya uretra yang lebih pendek dan kedeka­tan uretra dengan anus.

Kemudian infeksi E.coli bi­asanya tidak diobati dengan antibiotik kecuali infeksi tersebut terjadi di luar saluran usus, seperti ISK. “Namun, di dalam saluran usus, antibiotik dapat membunuh bakteri bermanfaat lainnya di usus, sehingga memungkinkan lebih banyak ruang dan nutrisi bagi E. coli untuk tumbuh,” kata Sarah Fankhauser, ahli mikrobiologi di Oxford College of Emory University di Georgia.

Dokter juga merekomendasikan agar tidak minum obat anti diare untuk mengobati gejala infeksi, karena obat ini dapat memperlambat sistem pencer­naan dan mencegah tubuh mengelu­arkan racun yang diproduksi oleh E. coli. Sebaliknya, sebagian besar orang dewasa yang dinyatakan sehat biasanya pulih dari infeksi dalam waktu sekitar satu minggu dengan istirahat dan men­jaga hidrasi secara tepat. ima/R-1

Kembangkan Vaksin

Penyakit diare, termasuk yang disebab­kan oleh E. coli, merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Itu sebabnya, dibutuhkan vaksin yang dapat meredam infeksi, dan pada akhirnya, jumlah kematian, terutama di kalangan anak-anak, yang disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit yang disebabkan bakteri ini.

Dalam sebuah tinjauan pada 2018, yang juga diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Microbiology merangkum bagaimana selama beberapa dekade terakhir, para peneliti telah mencoba berbagai pendekatan untuk mengembangkan vaksin yang efektif untuk E. coli.

Memang sejauh ini, para ilmuwan telah mengembangkan vaksin yang belum sem­purna untuk diare, pada praktiknya vaksin ini tidak terlalu efektif dan hanya bekerja mela­wan beberapa strain tertentu.

Kemudian pada penelitian bidang vaksin lain, diklaim telah memiliki hasil yang berpotensi dapat menjadi awal pengembangan vaksin E. coli yang dipersonalisasi berdasarkan golon­gan darah individu. Sebuah studi pada 2018 yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investiga­tion menemukan bahwa tingkat ‘keparahan’ gejala yang dise­babkan oleh infeksi E. coli ada kaitanya dengan golongan darah seseorang.

Tim peneliti lain di AS dan Eropa terlihat melangkah lebih maju dalam mengem­bangkan vaksin untuk mencegah ISK yang disebabkan oleh E. coli. Studi pendahuluan kelompok 2017, yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases, menun­jukkan bahwa vaksin mereka aman dan efektif mengurangi jumlah ISK pada lebih dari 30 pasien wanita. ima/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment