Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments

Bahan Nontoksin Kimiawi dari Pengembangan Bioteknologi

Bahan Nontoksin Kimiawi dari Pengembangan Bioteknologi
A   A   A   Pengaturan Font

Seorang ilmuwan berhasil me­nemukan sebuah metode de­ngan menggunakan salah satu sumber daya alam paling berlimpah di dunia sebagai pengganti bahan kimia buatan manusia. Bahan ter­sebut biasa digunakan dalam sabun dan ribuan produk rumah tangga lainnya.

Sebuah proyek penelitian ino­vatif, yang dipimpin oleh University of Portsmouth telah menunjukkan bahwa jerami dapat menciptakan ‘biosurfacant’, yang menyediakan bahan alternatif non-toksik dalam berbagai macam produksi yang biasanya mencakup bahan sintetis. Yang seringnya berbasis minyak bumi.

Proyek bioteknologi ini bertujuan untuk memecahkan salah satu ma­salah lingkungan paling mendesak di planet ini dan mencari cara untuk mengurangi jumlah bahan kimia buatan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini berada dalam pengawasan bersama antara Pusat Inovasi Enzim Universitas Portsmouth dan juga bekerja ber­sama dengan Universitas Amity di India dan Institut Teknologi India.

Penelitian ini mencari peng­ganti alami untuk surfaktan kimia, bahan aktif utama dalam produksi produk pembersih, obat-obatan, suncream, make-up dan insektisida. Surfaktan menahan minyak dan air bersama-sama, membantu menu­runkan tegangan permukaan cairan, membantu daya pembersihan dan penetrasi produk.

Dr Pattanathu Rahman, ahli bio­teknologi mikroba dari University of Portsmouth dan Direktur TeeGene, bekerja dengan beberapa ilmuan sejak 2015 untuk membuat biosurfa­cant dengan menyeduh jerami padi dengan enzim. Para ilmuwan percaya metode ramah lingkungan ini meng­hasilkan bahan berkualitas tinggi yang dibutuhkan industri manufaktur.

Dr Rahman mengatakan: “Surfaktan ada di mana-mana, ter­masuk deterjen, pelembut kain, lem insektisida, sampo, pasta gigi, cat, pencahar dan make up. Bayangkan jika kita bisa membuat dan mem­produksi biosurfacant dalam jumlah yang cukup untuk digunakan seba­gai pengganti surfaktan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kini kita sudah selangkah lebih dekat untuk memanfaatkan penggunaan limbah pertanian yang persediaannya ber­limpah, “ kata Rahman.

Para ilmuwan percaya bahwa penggunaan biosurfaktan yang dibuat dari jerami padi atau limbah pertanian lainnya dapat memiliki efek ekologis positif. Saat ini Ada ke­khawatiran yang tinggi tentang dam­pak surfaktan kimia yang digunakan dalam produk rumah tangga, yang sebagian besar berakhir di lautan. Sementara itu Jerami padi adalah produk sampingan alami dari panen padi, dengan jutaan ton di seluruh dunia setiap tahunnya.

Petani sering membakar limbah yang menghasilkan emisi lingkung­an yang berbahaya. Menggunakan­nya untuk membuat produk lain bisa menjadi proses daur ulang yang efisien dan bermanfaat. Selain itu mungkin saja ada keuntungan eko­nomi untuk menggunakan biosur­facant yang dihasilkan dari limbah pertanian.

Dr Rahman menjelaskan: “Ting­kat kemurnian yang dibutuhkan un­tuk biosurfaktan di industri di mana mereka digunakan sangat tinggi. Karena itu, mereka bisa sangat mahal. Namun, metode yang kami miliki untuk menghasilkan mereka membuatnya jauh lebih ekonomis dan hemat biaya. Ini teknologi yang sangat menarik dengan potensi luar biasa untuk aplikasi di berbagai industri” kata Rahman.

Studi ini menunjukkan bahwa biosurfaktan dapat menjadi alterna­tif potensial untuk molekul surfak­tan sintetis, dengan nilai pasar $ AS2, 8 miliar pada tahun 2023. Minat yang besar pada biosurfaktan dalam beberapa tahun terakhir juga karena toksisitas rendah.

Sifat biodegradable dan spesifisi­tas, yang akan membantu mereka memenuhi kebijakan Surfaktan Eropa. Dr Rahman mengatakan proses memproduksi biosurfacants membutuhkan cara baru terhadap produk sabun dan pembersih.

“Kebanyakan orang menganggap sabun sebagai cara yang efektif un­tuk menghilangkan bakteri dari kulit mereka. Namun, kami telah memba­lik konsep ini dengan menemukan cara untuk membuat sabun dari bakteri. Mereka memiliki sifat anti-mikroba yang cocok untuk produk kosmetik dan bioterapi. Pendekatan ini akan menghasilkan sebagian besar solusi pengelolaan limbah dan dapat menciptakan peluang kerja baru,” tambah Rahman. nik/berbagai sumber/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment