Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
WAWANCARA

Azwar Maas

Azwar Maas

Foto : Koran Jakarta/Wachyu AP
A   A   A   Pengaturan Font
Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 menghanguskan sekitar 2,1 juta hektare. Dari jumlah itu, 35 persen atau sekitar 660 hektare adalah lahan gambut. Kebakaran di tanah mineral hanya terbakar di permukaan. Namun, di lahan gambut di atas terbakar maka apinya menjalar dan membakar di bagian bawah. Untuk merestorasinya, hanya bisa dilakukan pasca kebakaran.

Kebakaran lahan gambut bila sudah meluas sangat sulit dipadamkan. Di lahan gambut, dibutuhkan 500 ton air untuk memadamkan lahan seluas 1 hektare. Bisa dibayangkan kalau kebakarannya mencapai ratusan, bahkan ribuan hektare. Untuk itu, perlu pemadaman dini. Saat api masih dalam tataran hitungan meter persegi harus segera dipadamkan.

Peringatan dini merupakan suatu keharusan bersama dengan kesiapan sarana pemadaman dan personil yang terlatih. Perencanaan restorasi tidak boleh keluar dari aturan. Dibutuhkan pemetaan gambut, topografi rinci, penetapan zona lindung dan budidaya. Setelah rencana rinci dibuat, perlu ditetapkan siapa berbuat apa, berikut alokasi dana dan waktunya.

Untuk mengetahui lebih jauh permasalahan dan restorasi lahan gambut, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto berkesempatan mewawancarai Ketua Kelompok Ahli Badan Restorasi Gambut, Prof Dr Azwar Maas MSc, di Jakarta, Kamis (15/12). Berikut petikan selengkapnya.

Bisa diceritakan proses terbentuknya lahan gambut?

Lahan gambut di kita, yang tropis itu berbeda dengan yang ada di daerah beriklim dingin. Lahan gambut di tropis ini bahan dasarnya dari kayu yang tumbuh di hutan rawa. Sedangkan lahan gambut di kawasan beriklim dingin berasal dari tumbuhan air yang kita sebut spagnum. Nah, kita juga punya yang disebut spagnum itu, yang berasal dari kaldera di Dieng, Wonosobo.

Nah, gambut tropis itu adalah tumbuhan-tumbuhan kayu, hutan alami yang ada di rawa. Jadi, induk atau bahan penyusun gambut itu adalah pohon yang tumbang karena sudah tua, masuk ke dalam air. Ketika masuk dalam air, proses pelapukannya terhambat. Berbeda dengan pohon tumbang di daratan, lama-lama habis terdekomposisi sebagian besar. Sebagian kecil menjadi bahan organik tanah. Proses penumpukan pohon-pohon tumbang, lebih cepat dari proses dekomposisinya, sehingga lama-lama menumpuk. Itu yang kita sebut gambut yang membentuk kubah.

Kalau sudah menjadi cembung, tidak lagi dipengaruhi oleh air sungai, susunannya hanya terdiri atas bahan organik saja. Hal itu kita sebut gambut berkubah atau ombrogen. Nah, ketika masih dipengaruhi oleh ayunan pasang surut, air laut maupun derasnya dari atas, itu yang kita sebut gambut topogen. Disebut tanah gambut bila tebal lapisan gambut ini minimal 50 cm.

Biasanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi gambut berkubah?

Berdasarkan pengukuran umur, umumnya itu kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Waktu itu, kirakira 8.000 tahun yang lalu, ada peningkatan permukaan air laut, sampai hampir 20 meter. Sekarang Palangkaraya, dari laut itu jaraknya sekitar 140 km, tapi 20 km dari Palangkaraya itu ada piritnya. Artinya, 8.000 - 9.000 tahun yang lalu, di sana ada laut. Sekarang dia surut lagi, di situlah gambut terbentuk. Kalau sudah jutaan tahun dan itu tersimpan di bawah permukaan bumi, maka namanya batubara.

Apa perbedaan yang paling menohok antara lahan gambut beriklim tropis dan beriklim dingin? Apa kelebihan masingmasing?

Kalau di kita, sebetulnya kelebihannya gambut di kita bisa membentuk kubah. Kubah ini mampu sebagai penyimpan air. Jadi, karena dia sangat porus maka volume satu meter kubik gambut, misalnya, 900 liter air dan mengalirkan air pelanpelan melalui bawah permukaan ketika musim kemarau datang.

Fungsinya, memegang air, mencegah banjir dan kekeringan. Sekarang kawasan itu sudah dipotong-potong, saluran drainase dibuat sehingga fungsi kubah penyimpanan air sangat berkurang. Ketika musim hujan datang, banjir di bawah. Sebaliknya, ketika musim kemarau datang, sudah menjadi kering dan terbakar.

Berdasarkan penelitian dan pengamatan Anda, seberapa banyak lahan gambut kita dulu dan sekarang?

Secara natural, dulu kita memunyai lahan gambut seluas 15 juta hektare. Tersimpan di sejumlah pulau, Sumatera, paling banyak di Riau, sekitar 5 juta hektare. Kalimantan Tengah sekitar 3 juta hektare, Kalimantan Selatan sedikit, Kalimantan Barat cukup banyak, dan daerah Papua. Masalahnya dulu diberikan hak untuk HPH, hak untuk mengambil kayu. Ketika HPH atau kayu-kayunya sudah habis, maka relatif terbengkalai. Sayangnya, jenis tanaman industri ini bukan hutan yang adaptif terhadap rawa.

Menurut Anda mereka tidak mematuhi aturan karena tidak paham atau tahu tapi bebal?

Kalau kita secara sains mengatakan mungkin karena ketidakpahaman, mungkin pura-pura tidak paham, mungkin tidak mengindahkan aturan. Kita sudah menyusun aturan pada tahun 1996 - 2000, sehingga muncul Peraturan Pemerintah No 150 tahun 2000. Sebelumnya tahun 1990, ada aturan yang mengatakan gambut yang lebih dari 3 meter merupakan kawasan lindung.

Itu namanya Perpres dulu yang umumnya diperuntukkan bagi kegiatan budidaya pertanian. Dulu dikenal dengan pemisahan lahan kehutanan dikuasai dan diurus oleh Kementerian Kehutanan yang disebut Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Di luar hutan diurus oleh instansi yang bukan di Kehutanan (areal peruntukan lain/ APL). Jadi ketentuan perundangan 3 meter tidak boleh dimanfaatkan kiranya tidak diberlakukan untuk areal kehutanan. Padahal, sebetulnya aturan 3 meter itu berlaku untuk semua.

Belakangan ini muncul aturan yang semakin ketat. Untuk tanaman industri ada 2,5-3 juta hektare dari lahan gambut. Kemudian kelapa sawit, itu sekitar 1-1,2 juta hektare. Ada juga lahan-lahan gambut terlantar. Makanya dikatakan 5-6,5 juta hektare itu bermasalah. Nah, yang masih utuh pun, sudah ada hak-haknya. Untungnya sekarang itu ada aturan, itu tidak memperbolehkan lagi. Sisanya yang utuh tinggal setengah, di Irian masih utuh, dan itu juga sudah mulai dimanfaatkan.

Artinya, lahan gambut semakin berkurang karena dimanfaatkan. Kalau gambut itu sudah dibuka maka dia tidak akan kembali seperti semula, kecuali digenangi kembali, ditanami lagi dengan tanaman adaptif rawa/basah atau dibiarkan suksesi alam. Ini membutuhkan waktu lama sekali sampai ribuan tahun. Artinya, kita hanya bisa membasahi dan memperpanjang pemanfaatan, mengurangi penipisan gambut.

Lantas, bagaimana cara merestorasinya?

Kembalikan airnya. Naikkan airnya, biarkan dia basah, biarkan dia tidak terbakar. Kembalikan lahan gambut sebagai fungsi penyimpan. Itu sebabnya peraturan yang ada sekarang mensyaratkan restored, mengembalikan fungsinya. Yang masih ada kubahnya, harus kita selamatkan. Misalkan ada kubah yang tebalnya lebih dari 3 meter, maka ada ketentuan bahwa ini harus diselamatkan.

Kalau kita selamatkan maka sudah menyimpan air sebanyak satu tahun hujan dengan perhitungan 300 cm atau 3.000 mm, di mana 90 persennya adalah air. Jadi 2.700 mm air, sama dengan satu tahun hujan. Kalau misalnya, dari 15 juta hektare tadi, kalau kita mengambil 30 persen, itu akan ada sekitar 4,5 juta hektare, dikalikan 3 meter saja yang diambil, maka luar biasa. Dan itu adalah konserveasi air permukaan, banyak sekali air yang tersimpan. Hasilnya akan sangat besar. Itu cadangan air melebihi cadangan air yang kita konsep sekarang di permukaan.

Badan Restorasi Gambut ini ada berapa orang? Targetnya apa?

Kepala, sekretaris, dan empat deputi. Bidangnya adalah deputi perencanaan dan kerjasama, deputi bidang konstruksi, operasi dan pemeliharaan, deputi bidang edukasi, sosialisasi, partisipasi dan kemitraan serta deputi bidang penelitian dan pengembangan. Ini menurut aturan yang ada di Perpres 1 tahun 2016. Disamping itu ada kelompok ahli. Saya ketua kelompok ahli. Kelompok ahli ini ada 24 orang. Kelompok ahli ini dari perwakilan tujuh provinsi, perguruan tinggi yang memang aktif mengadakan penelitian dan pengalaman di lahan gambut, NGO, pakar hukum, dan beberapa kementerian.

Mulai dibentuk hingga sekarang bagaimana kinerjanya? Apa yang sudah dilakukan?

Langkah-langkah dalam perencanaan, ada syaratnya. Jadi kita harus memotret kondisi aktual sekarang ini, tebal gambutnya sekarang berapa. Kemudian topografinya seperti apa. Kemudian apa yang ada di permukaan ini, salurannya seperti apa, tanamannya apa. Kemudian akan didesain, apakah akan dikembalikan ke fungsi lindung atau airnya harus diperbaiki. Siapa saja yang ada di situ. Kalau perusahaan ada di situ maka perusahaan yang harus memperbaiki. Kalau itu masyarakat maka negara yang akan memperbaiki. Kalau perusahaan itu HTI, orang kehutanan, kalau HGU (Hak Guna Usaha), itu pertanian.

Apa tantangan yang paling krusial yang Anda hadapi?

Kebakaran tahun 2015 yang menimpa 2,1 juta hektare hutan dan lahan. Dari jumlah itu, 35 persen atau sekitar 660 hektare adalah lahan gambut. Kebakaran di tanah mineral hanya terbakar di atas permukaan tanah. Namun, di lahan gambut di atas terbakar, api menjalar dan membakar bagian bawah. Untuk merestorasinya, hanya bisa dilakukan pasca kebakaran. Pemadaman kebakaran bila sudah meluas sangat sulit untuk dipadamkan.

Perencanaan restorasi tidak boleh keluar dari aturan perundangan, perlu pemetaan gambut, perlu topografi rinci, perlu penetapan zona lindung dan budidaya. Setelah rencana rinci dibuat, perlu ditetapkan siapa berbuat apa, berikut alokasi dana dan waktunya. Saat ini belum sampai pada tahap restorasi, masih tahap pengumpulan data.

Apakah bisa pulih kembali seperti dulu lagi?

Tidak bisa. Dengan kebersamaan dan ketaatan terhadap hukum atau hukum dijalankan dengan sanksi yang cukup berat maka lahan gambut dapat kembali basah. Tanaman harus menyesuaikan diri dengan kondisi basah atau lembab ini. Jadi air harus berbagi dalam sayu satuan bentang lahan atau satuan hidrologi gambut.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment