Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments
Glaukoma

Awas, si Pencuri Penglihatan Mengintai Anda

Awas, si Pencuri Penglihatan Mengintai Anda

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pekan Glaukoma Sedunia menjadi peringatan tahunan yang diperingati setiap Maret. Seluruh dunia memperingati dengan melakukan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan mata secara teratur guna mendeteksi sejak dini berbagai kelainan pada mata, khususnya glaukoma.

Sebuah survei dari Prevent Blindness America Survey menunjukkan bahwa 20 persen populasi mengetahui glaukoma, 50 persen pernah mendengar glau­koma namun masih belum mengeta­huinya dan 30 persen sama sekali tidak mengetahui ataupun dengar mengenai glaukoma. Angka tersebut lumayan be­sar, mengingat data pada 2010 menun­jukkan bahwa angka kebutaan di dunia mencapai 3,2 juta orang akibat glaukoma dan di negara berkembang glaukoma menjadi penyebab nomor dua setelah penyakit katarak.

“Glaukoma tercatat sebagai penye­bab kebutaan kedua terbanyak di du­nia setelah katarak. Namun kebutaan glaukoma adalah permanen atau tidak dapat diperbaiki sama sekali,” kata Emma Rusmayani, dokter subspesi­alis Cataract LASIK Glaucoma JEC @Menteng.

Para penderita umumnya tidak menyadari tanda-tanda awal glau­koma sehingga baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah sangat parah, bahkan sudah mengalami kebutaan. Hal itulah yang membuat glaukoma seringkali disebut sebagai si pencuri penglihatan.

Glaukoma sendiri merupakan pe­nyakit mata akibat kerusakan saraf op­tik yang menyebabkan gangguan pada lapang pandangan yang khas. Lapang pandangan adalah luas penglihatan seseorang tanpa harus menengok ke kanan atau ke kiri.

Pada kasus glaukoma, biasanya lapang pandang seseorang menjadi ter­batas berbeda pada orang normal. Pe­nyebabnya antara lain karena tekanan bola mata yang meninggi akibat adanya hambatan pada pengeluaran cairan bola mata atau humour aquos.

Cairan bola mata itu diperlukan un­tuk memberi makan organ-organ yang ada pada mata, keseimbangan tersebut menciptakan tekanan pada bola mata. Ketika ada yang menghambat pada jaringan trabekulum, tempat cairan bola mata keluar, maka tekanan pada bola mata pun semakin meninggi dan dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf optik.

Selain itu, kerusakan saraf optik juga dapat terjadi karena gangguan suplai darah ke serat saraf optik atau me­mang saraf optik tersebut bermasalah. “Glaukoma ditandai dengan gangguan lapang pandang yang khas atau luas penglihatan. Biasanya orang mampu tajam penglihatannya seperti bisa membaca tulisan-tulisan yang kecil. Tetapi pinggir dari luas pandangannya itu yang hilang dan orang sering tidak sadar,” lanjut Emma.

Jenis-Jenis Glaukoma

Ada beberapa jenis glaukoma yang perlu diketahui, yang memiliki gejala dan penyebab yang berbeda. Yaitu glaukoma primer sudut terbuka, glau­koma primer sudut tertutup, glaukoma kongenital dan glaukoma sekunder.

Pada glaukoma primer sudut terbuka, penyebab terjadinya tekanan bola mata yang meninggi sulit untuk dideteksi atau diketahui sebabnya. Itu karena pada glaukoma jenis ini, sudut bilik mata depan terbuka lebar namun tetap terjadi hambatan pada sistem pengeluaran cairan bola mata, sehingga tekanan bola mata meningkat. “Pada glaukoma ini umumnya tidak bergejala dan tidak diketahui apa penyebabnya,” kata Emma.

Sementara untuk glaukoma primer sudut tertutup, hambatan aliran pengeluaran cairan bola mata terjadi karena sempitnya sudut bilik mata depan. Kondisi ini dapat berisiko se­rangan akut glaukoma, di mana terjadi peningkatan mendadak tekanan bola mata akibat sudut bilik mata depan yang sempit menjadi tertutup secara mendadak.

Berbeda dengan glaukoma primer sudut terbuka, biasanya pasien akan mengeluhkan mata nyeri, buram, merah atau nyeri pada mata yang dapat mengakibatkan rasa mual disertai muntah-muntah. “Biasanya penderi­tanya akan langsung berobat karena mengalami nyeri dan sakit sekali, ber­beda dengan glaukoma primer sudut terbuka” tambah Emma.

Pada glaukoma kongenital primer, glaukoma terjadi pada anak di saat kelahiran sampai usia tiga tahun. Kondisi ini sangat jarang terjadi, dengan perbandingan 1 kasus pada 10ribu anak dan baru dapat terdeteksi pada usia 3 sampai 6 bulan, bahkan di beberapa kasus baru terlihat di usia 3 tahun.

Glaukoma kongenital primer biasan­ya terjadi karena ada masalah pada jaringan trabekulum matanya sehingga mengakibatkan tekanan tinggi pada bola mata.

Menurut Emma, tanda-tanda anak menderita glaukoma dapat diketahui dalam bentuk mata dan warna bola matanya. “Di kasus ini biasanya salah satu matanya tampak lebih besar atau jika sudah parah warna bola matanya abu-abu,” ujarnya.

Glaukoma lainnya namun tidak terlalu banyak diderita orang adalah Glaukoma Sekunder, glaukoma yang memiliki penyebab berbeda dari glaukoma primer lainnya. Glaukoma sekunder dapat diakibatkan dari diabetes, infeksi, katarak yang terlalu matang, pendarahan dalam bola mata, inflamasi bola mata, serta penggunaan obat-obatan kortisteroid seperti obat tetes atau obat minum.

“Katarak yang terlalu matang itu sifatnya menarik air dan pada lensa mata yang keruh akibat katarak, lensa tersebut menyerap air dan semakin menebal, kemudian dapat menghalan­gi aliran humour aquos. Maka dari itu, jika seseorang memiliki katarak harus segera ditangani, jangan sampai terlalu tebal,” ungkapnya.

Selain itu, genetik juga berperan menurunkan penyakit glaukoma meskipun belum dapat dipastikan. Namun berdasarkan statistik, jika satu orang tua memiliki glaukoma, ada presentasi sebesar 20 persen glaukoma tersebut menurun ke anaknya.

Hal itu dikarenakan ada kemung­kinan anaknya memiliki struktur bola mata yang mirip dengan salah satu orangtuanya. Semisalnya orang tua memiliki sudut bilik mata yang sempit, sekitar 20 persen anaknya juga memi­liki sudut bilik mata sempit. gma/R-1

Bagaimana Penanganannya?

Meskipun sama-sama mengakibatkan kebutaan, namun kebutaan akibat glaukoma tidak dapat disembuhkan seperti katarak. Emma mengatakan kalau yang terjadi kerusakan saraf optik yang ada pada mata akibat tekanan tinggi di bola mata, hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memperbaiki hal tersebut. Yang dapat dilakukan penderita glaukoma adalah men­gonsumsi obat-obatan seumur hidup agar mengurangi tekanan pada bola mata itu.

“Sampai saat ini belum ada pengobatan, karena yang bermasalah ada pada saraf optik,” katanya.

Adanya tindakan seperti laser dan operasi pun dapat dilakukan, namun dengan catatan bahwa lapang pandangannya tidak akan seperti semula. Tindakan seperti laser dan op­erasi hanya bertujuan agar tekanan pada bola mata berkurang, seperti melebarkan jaringan trabekulum, menghentikan produksi cairan bola mata atau membuat bypass sehingga cai­ran bola mata bisa keluar melalui tempat lain.

“Jadi, obat-obatan, laser dan operasi itu hanya mempertahankan lapang pandang saat ini agar tidak semakin parah dan mengurangi tekanan bola mata saja. Kalau bisa terkontrol dengan baik tekanan bola matanya, tidak sedikit akan berhenti pada fase itu,” ujarnya.

Jadi, jika melakukan tindakan pada glaukoma namun penglihatan masih belum membaik, bukan berarti dokter tersebut gagal, karena tujuan dari tindakan tersebut agar tidak ada progesivitas lanjutan. gma/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment