Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Saat Ini, Momentum Tepat Perkecil Defisit Perdagangan

Awas, RI Bakal Jadi Target Pasar Baru

Awas, RI Bakal Jadi Target Pasar Baru

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Dorong lebih banyak realisasi investasi, baik domestik maupun asing, agar industri di semua sektor mendapatkan suntikan modal dan roda produksi bergerak lebih kencang

JAKARTA – Indonesia mesti mengantisipasi dampak dari meningkatnya tensi sengketa perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terhadap perekonomian Indonesia. Sebab, perang tarif antara dua mitra dagang utama Indonesia itu selain menyusutkan kinerja ekspor-impor AS dan Tiongkok, juga bakal melemahkan perdagangan dan ekonomi dunia.

Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi, mengingatkan antisipasi pemerintah mutlak dibutuhkan karena Tiongkok maupun AS akan mencari sasaran pasar baru untuk menampung limpahan produk ekspor mereka. Hal ini akan membuat pasar Indonesia makin kebanjiran produk impor.

“Untuk mengganti penurunan pendapatan akibat pasar mereka yang menyusut atau bahkan hilang, Tiongkok dan AS akan mencari pasar-pasar baru. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar akan menjadi sasaran empuk. Kita akan kebanjiran impor,” ungkap dia, ketika dihubungi, Selasa (14/5).

Terkait dengan banjir impor, Dirjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mengungkapkan saat ini pakaian impor dari Tiongkok banyak beredar di Indonesia, khususnya saat Ramadan. “Tapi, in total kalau data impor bisa lihat di BPS. Nah, ini mempengaruhi, pasti mempengaruhi industri dalam negeri,” kata dia, Selasa.

Guna mengantisipasi merebaknya barang impor, Imron meminta pemerintah mesti segera membuat kebijakan pelonggaran bagi industri domestik. Pertama, memberi insentif besar pada produk dalam negeri, bisa dalam bentuk kredit murah, kemudahan perizinan, hingga kenaikan tarif impor untuk melindungi industri lokal.

Kedua, pemerintah bisa menggunakan hambatan masuk atau barrier to entry nontarif. Meskipun hal ini dilarang, tapi ada sejumlah terobosan yang bisa digunakan. “Misalnya dengan undangundang kehalalan, harus lolos sertifikasi halal. Ini dapat menjadi penghambat,” jelas Imron. Ketiga, perlu meningkatkan nilai tambah pada produk ekspor bahan baku Indonesia melalui hilirisasi industri.

Komoditas mentah yang selama ini langsung diekspor mesti diolah lebih dahulu menjadi barang jadi. Menurut Imron, hiliriasasi industri juga akan meningkatkan daya saing produk RI sehingga mampu bersaing dengan produk impor. Dukungan insentif dari pemerintah akan membuat biaya produksi lebih murah.

“Selain itu, insentif-insentif yang diberikan dan reformasi birokrasi akan berdampak positif pada sisi investasi,” imbuh dia. Sementara itu, Menko Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengemukakan pemerintah sudah mulai membaca dan memproyeksi dampak yang mungkin terjadi.

“Artinya, kami mengantisipasi pelemahan ekonomi dunia. Kami ingin ekonomi kita tetap relatif baik, malah sedikit lebih baik dari tahun-tahun yang lalu,” ujar dia, Selasa. Darmin menambahkan, pemerintah harus segera mendorong lebih banyak realisasi investasi, baik domestik maupun asing. Tujuannya, agar industri di semua sektor bisa mendapat suntikan modal dan roda produksi bergerak lebih kencang, khususnya, industri berbasis ekspor, agrobisnis, dan pariwisata.

 

Peluang Ekspor

 

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan akan mengambil peluang ekspor ke AS dan Tiongkok di tengah-tengah ketegangan tensi perang dagang. Saat ini dinilai merupakan momentum yang tepat untuk memperkecil defisit neraca perdagangan Indonesia.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Arlinda, mengatakan perang dagang akan berpengaruh pada ekspor Indonesia ke Tiongkok. Sebab, selama ini ekspor Indonesia ke Tiongkok berupa komoditas, yang akan diolah lagi oleh industri Tiongkok.

Jika Tiongkok kehilangan pangsa ekspornya, ada kemungkinan permintaan impor dari Indonesia akan berkurang, sehingga kinerja ekspor Indonesia bisa tertekan. Ini tentu berpeluang memperlebar defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada kuartal I-2019 defisit perdagangan RI-Tiongkok sebesar 5,18 miliar dollar AS, atau naik dibandingkan periode sama tahun lalu, yakni 3,82 miliar dollar AS. 

 

SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment