Koran Jakarta | April 18 2019
No Comments

Audrey, Setop Budaya Kekerasan

Audrey, Setop Budaya Kekerasan

Foto : koran jakarta/ones
Selain guru, pengelola media, khususnya televisi adalah pihak yang juga harus ikut bertanggung jawab atas semakin merajalelanya kekerasan di kalangan anak-anak. Tidak ada yang bisa membantah bahwa stasiun-stasiun televisi sarat tayangantayangan kekerasan.
A   A   A   Pengaturan Font
Oleh Irma Suryani

 

Kekerasan ter­hadap anak-anak negeri ini bukan saja di­lakukan orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak itu sendiri. Guru, orang tua, serta media, khususnya televisi, perlu terus berupaya untuk selalu mem­beri contoh-contoh perilaku nonkekerasan, sehingga anak-anak tidak semakin akrab de­ngan budaya tersebut.

Aksi pengeroyokan yang di­alami Audrey, murid salah satu SMP di Pontianak, Kaliman­tan Barat, baru-baru ini, telah mengundang keprihatinan dan kegeraman publik. Tak kurang dari Presiden Joko Widodo mengungkapkan keprihatinan­nya. “Ya, kita semuanya sedih. Kita semuanya berduka atas peristiwa itu. Tapi, yang jelas, ini pasti ada sesuatu masalah yang berkaitan dengan pola interaksi sosial di antara ma­syarakat yang sudah berubah lewat media sosial,” demikian ungkap Presiden Joko Widodo.

Sebagaimana luas diberi­takan media, kasus kekerasan terhadap Audrey berawal dari masalah asmara remaja dan adu komentar di jejaring media sosial. Tindak kekerasan di­lakukan sekelompok siswi SMA yang juga disaksikan beberapa siswi lainnya. Awalnya, korban berupaya menutupi kekerasan yang dialami karena mendapat ancaman dari para pelaku.

amun, akhirnya kasus ini terekspos ke publik setelah salah seroang kawan korban memviralkan peristiwa ke­kerasan tersebut. Buntutnya, muncul petisi online dengan tagar #JusticeForAudrey dan sekaligus menjadi trending topic nomor satu di time line Twitter seluruh dunia.

Yang menimpa Audrey menambah panjang kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak. Sebelumnya, di Jakarta Pusat, sempat pula ter­jadi kasus seorang siswa SMP Thamrin City, Tanah Abang, dianiaya sejumlah siswa. Yang lebih tragis, di Jakarta Timur, seorang siswa kelas V SD akhir­nya tewas setelah dikeroyok teman-teman sekelas.

Berdasar catatan Ko­misi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), la­poran terkait kekerasan anak terus meningkat. Menurut KPAI, jumlah anak yang menjadi korban kekerasan pada tahun 2018 lalu mencapai 766. Angka ini naik dari tahun sebelumnya berjum­lah 552. Dari jumlah tersebut, ada 107 anak yang harus berha­dapan dengan hukum sebagai pelaku kekerasan fisik berupa penganiayaan, pengeroyokan, dan perkelahian.

Tentu, ini membuat prihatin. Anak-anak kini malah menjadi pelaku utama kekerasan yang memang bisa dilakukan siapa saja. Namun, kekerasan yang di­lakukan anak-anak yang meru­pakan calon penerus bangsa, tentu sangat mencemaskan. Akan seperti apa jadinya bangsa ini apabila generasi penerusnya akrab dengan kekerasan. Buda­ya kekerasan semestinya dijauh­kan dari anak-anak. Kekerasan, sekecil apa pun, akan berdam­pak psikologis dan kemungkinan besar bakal ikut memenga­rungi sikap dan perilaku hingga mereka dewasa.

Pihak yang paling bertang­gung jawab yang menyebabkan anak-anak semakin akrab de­ngan budaya kekerasan adalah orangtua, guru, dan pengelola media. Tidak bisa dimungkiri, hingga sekarang masih banyak guru secara sadar atau tidak menanamkan benih-benih kekerasan kepada anak-anak. Hal itu antara lain berupa ke­kerasan verbal dan fisik. Tidak sedikit guru masih suka meng­umbar bentakan, makian, atau hardikan kepada siswa-siswa.

Tidak sedikit juga guru yang masih memilih untuk mem­beri hukuman fisik dengan da­lih menegakkan disiplin serta aturan sekolah. Padahal, di se­jumlah negara, hukuman fisik telah lama dihilangkan dari se­kolah. Para guru dilarang sama sekali memberikan hukuman fisik, apa pun alasannya, ke­pada para siswanya. Karena, bagaimanapun, tugas sekolah dan para guru bukan untuk menghukum anak, tetapi jus­tru untuk mendidik. Mendidik tidak harus dengan hukuman.

Bertanggung Jawab

Kajian selama 30 tahun yang dilakukan antara lain oleh Murray Straus dari Universi­tas New Hamspshire dan Joan Durrant serta Susan Wingert dari Universitas Manitoba, Amerika Serikat, atas penera­pan hukuman fisik kepada siswa menghasilkan kesim­pulan, hukuman fisik justru kian meningkatkan tindakan agresif. Anak-anak menjadi berperilaku antisosial.

Selain guru, pengelola me­dia, khususnya televisi ada­lah pihak yang juga harus ikut bertanggung jawab atas sema­kin merajalelanya kekerasan di kalangan anak-anak. Tidak ada yang bisa membantah bahwa stasiun-stasiun televisi sarat tayangan-tayangan keke­rasan. Tentu saja, tayangan-ta­yangan itu berpengaruh besar terhadap pembentukan kara­kter dan perilaku anak-anak. Anak-anak sangat mudah meniru yang dilihat dan den­gar. Maka, tayangan-tayangan televisi yang berisi adegan-ad­egan kekerasan bakal dengan mudah pula diimitasi dan dipraktikkan anak-anak dalam dunia nyata.

Yang juga ikut semakin memudahkan menyebarnya virus kekerasan di kalangan anak yaitu kecenderungan makin sibuknya para ibu. Hidup di se­karang yang hampir semuanya diukur kecukupan materi, telah membuat tidak sedikit kaum ibu lebih sibuk ikut mengejar dan ikut mengurusi kebutuhan materi keluarga. Salah satunya dengan bekerja di luar rumah. Akibatnya, mereka tidak punya cukup waktu mengasuh dan mendidik anak-anak sendiri di usia emas.

Pengasuhan dan pendidi­kan anak di rentang usia emas lantas cukup diserahkan ke­pada pihak lain. Akibatnya, anak pun kehilangan panutan ideal yang mampu memberi teladan berperilaku. Anak ke­mudian lebih cenderung men­gambil contoh dan teladan dari pihak-pihak lain. Di antaranya, tetangga, pembantu, kawan bermain, atau tayangan-tay­angan televisi. Celakanya, ke­banyakan anak meniru contoh buruk dan tidak benar.

Sudah barang tentu, semua tidak berharap sama sekali anak-anak semakin akrab de­ngan kultur kekerasan. Maka dari itu, guru, pengelola me­dia, dan orangtua harus se­lalu memberi teladan perilaku nonkekerasan. Khusus untuk para orangtua, terutama kaum ibu, diharapkan lebih telaten mengasuh dan mendidik anak-anak ketimbang menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak kepada pihak lain.

Anak-anak adalah harapan bangsa. Di pundak merekalah baik dan buruknya nasib bangsa dan negara bakal dipertaruh­kan. Maka, guru, pengelola me­dia, dan orangtua senantiasa memberi teladan terbaik.

Penulis pendidik

di Yayasan Alfath Sukabumi

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment