Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments

Atasi Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Atasi Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Foto : istimewa
Emil Elestianto Dardak
A   A   A   Pengaturan Font

Ketimpangan ekonomi merupakan masalah yang sering terjadi aki­bat akselerasi pembangunan yang tidak berimbang. Di satu sisi, daerah dengan kapasitas dan sumber daya ekonomi mapan dengan mudah men­catat pertumbuhan, sementara daerah yang minim sumber ekonomi sulit membuat pertumbuhan yang positif. Hal itu juga terjadi di Jawa Timur (Jatim).

Tantangan terbesar dalam pembangunan di wilayah dengan jumlah penduduk hampir 39 juta jiwa ini adalah meningkatkan kesejahteraan dan mengatasi kesenjangan. Meski tercatat banyak kema­juan, tetapi masih diperlukan upaya menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan. Bagian selatan Jatim, diiden­tifikasi sebagai kawasan yang mengalami ketimpangan, dibandingkan kawasan utara yang memiliki aksesbilitas le­bih baik.

Untuk mengetahui upaya yang akan dilakukan jajaran Pemerintah Provinsi (Pem­prov) Jatim mengatasi ket­impangan tersebut, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawanca­rai Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, di Suraba­ya, pekan lalu. Berikut petikan selengkapnya.

Bisa dijelaskan tujuan roadshow ke daerah sisi sela­tan Jatim?

Kami ke Trenggalek seka­ligus menemui tiga kepala daerah, yakni Bupati Tulunga­gung, Bupati Kediri, dan Wali Kota Kediri. Kedatangan ini untuk menyampaikan pesan khusus ke warga Trenggalek dalam percepatan wilayah se­tempat. Ini sekaligus meru­pakan tanggung jawab moril saya sebagai mantan Bupati Trenggalek untuk berpamitan dengan warga Trenggalek serta menyampaikan pesan khusus Ibu Khofifah.

Seberapa besar tekad Pemprov mengatasi ketimpa­ngan ekonomi?

Ibu Khofifah ingin mene­gaskan komitmen pemerintah saat ini yang akan memastikan Jatim dibangun secara adil, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan perekonomian di Jatim. Diharapkan dengan berbagai program yang disiap­kan akan melahirkan jalur-jalur baru di kawasan selatan Pulau Jawa.

Upaya apa yang akan dilakukan?

Salah satunya di Treng­galek, pembangunan pelabu­han perintis niaga di kawasan Teluk Prigi untuk mendorong geliat perdagangan di jalur selatan Jatim. Kehadiran pelabuhan ini akan men­jadi spesial bagi Treng­galek dan Jatim karena di Indonesia hanya ada dua pelabuhan niaga di pesisir selatan Jawa. Belum lagi fakta bahwa ada proses pem­bangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) antara Trenggalek dan Tulungagung yang didanai Islamic Development Bank.

Proyek tersebut tengah memasuki tahap prakualifikasi yang mau rampung. Kami ter­us mengawal beberapa proyek pembangunan strategis nasi­onal yang tengah dikerjakan di Trenggalek, seperti proyek Bendungan Tugu, Bendungan Bagong, serta pemanfaatan anjungan cerdas. Perlakuan aset saat ini tengah dibahas dengan Kementerian PU ter­hadap ajungan tersebut yang potensi menjadi inkubator ekonomi di kawasan selingkar Wilis.

Apa materi pembahasan dengan para kepala daerah?

Kami mem­bahas beberapa proyek pem­bangunan di wilayah Mata­raman yang mengemuka. Salah satu dari sekian ren­cana pemba­ngunan adalah soal komitmen untuk mendorong pembangunan berbasis ke wilayahan, bukan sekadar sektoral. Maka pen­ingkatan peranan bakorwil segera dilakukan untuk men­jadi sebuah pembangunan kue ekonomi yang lebih efektif dengan kepala daerah di wila­yah eks Karesidenan Madiun dan Kediri.

Selanjutnya dibahas upaya mewujudkan poros utama lingkar Wilis maupun sirip-siripnya demi mewujudkan bersatunya ekonomi masyara­kat di enam kabupaten yakni Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, dan Kediri. Kawasan lingkar Gunung Wilis ini memiliki po­tensi yang cukup besar untuk dikembangan menjadi sebuah kawasan ekonomi baru wila­yah Mataraman.

Dibicarakan soal pe­ngembangan pariwisata terpadu antara Kawasan Popoh dan Pantai Prigi, serta potensi peman­faatan Pelabuhan Niaga untuk mengembangkan industri yang saat ini mulai bergeliat. Terkait produk unggulan di Tu­lungagung, seperti konve­ksi maupun marmer yang berpotensi dikirim ke Pulau Bali melalui pelayaran jalur selatan.

Bagaimana dengan JLS?

JLS Trenggalek nantinya menghubungkan Kabupaten Pacitan dan Tulungagung. Setelah JLS di Pulau Jawa tersambung, Trenggalek akan menjadi kota penghubung antara Yogyakarta dan Malang. Nanti tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang itu.

Proyek infrastruktur lain?

Bersama Wali Kota Kediri, kami membahas potensi besar yang dimiliki Kediri sebagai lo­kasi yang akan terkoneksi den­gan Jalan Tol Kertosono–Kediri, dan pembangunan bandara. Disampaikan rencana pemba­ngunan SMA Taruna sep­erti SMA Taruna Nusantara di Magelang dengan lahan sekitar 2,5 hektare dan membutuhkan kawasan di bawah lingkungan Perhutani, yang ada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dibahas banyak hal seperti online single submission yang dikhawatirkan tidak memper­hatikan yang menjadi perha­tian kepala daerah. Sebagai contoh, menjaga keandalan arus lalu lintas dan ketersedi­aan lahan parkir. Seperti ada pembangunan suatu mal, di­bangun bioskop jaringan besar di Kota Kediri dikhawatirkan menimbulkan kemacetan jika tidak disertai dengan keterse­diaan lahan parkir, dan mana­jemen rekayasa lalu lintas yang memadai. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment