Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Krisis Timur Tengah I Iran Secara Resmi Hentikan Sebagian Isi Kesepakatan Nuklir 2015

AS Tarik Diplomat dari Baghdad

AS Tarik Diplomat dari Baghdad

Foto : AFP/MANDEL NGAN
Tarik Diplomat l Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memberikan keterangan pers setelah secara mendadak pergi ke Irak pada 8 Mei lalu. Pada Rabu (15/5), Kementerian Luar Negeri AS menginstruksikan agar seebagian staf diplomatik AS di Irak ditarik sebagai antisipasi atas ancaman keamanan sehubungan makin memanasnya hubungan AS-Iran.
A   A   A   Pengaturan Font

Menyikapi ketegangan di kawasan Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri AS mengambil keputusan untuk menarik sebagian staf diplomatiknya di Irak.

WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (15/5) menginstruksikan agar sebagian staf diplomatnya untuk meninggalkan pos mereka di kantor Kedutaan Besar di Baghdad dan konsulat di Arbil, Irak.

Perintah ini diambil berkenaan dengan semakin memanasnya keterangan antara AS dengan negara tetangga Irak, Iran, setelah Presiden AS, Donald Trump, pada Mei tahun lalu keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015.

“Sebagian fungsi kedutaan yang tak terlalu penting, ditutup karena ada peringatan ancaman dari teroris dan kelompok pembangkang yang ada di Irak, termasuk yang datang dari milisi anti-AS yang telah menyuarakan ancaman terhadap warga AS dan perusahaan-perusahaan Barat di seluruh Irak,” demikian peringatan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri AS.

Saat ini AS terus melakukan tekanan pada Tehran setelah menuding Iran merencanakan serangan-serangan di kawasan Teluk.

Ancaman itu direspons oleh AS dengan pengerahan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah. Tahun lalu, AS menutup kantor konsulatnya di Kota Basra, Irak, setelah terjadi aksi protes yang ditunggangi oleh pasukan Iran.

Keselamatan anggota diplomatik AS adalah agenda prioritas bagi AS dan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. Saat masih jadi anggota Kongres, Pompeo kerap menyerang Menlu AS saat itu, Hillary Clinton, terkait serangan mematikan terhadap kantor Konsulat AS di Benghazi, Libia.

Sementara itu menyikapi hubungan bilateral yang kian memanas, Menlu Pompeo dan pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa ketegangan antara AS dan Iran tak akan menyulut konflik peperangan.

“Kami tak ingin berperang dengan Iran,” kata Menlu Pompeo, saat berada di Sochi, Russia, Selasa (14/5).

Sementara Khamenei dalam taklimat dihadapan petinggi di Iran menyatakan ketegangan tak akan melibatkan militer dan tak akan terjadi peperangan.

“Kami pun tak ingin berperang dengan AS. Pihak AS pun tahu itu bukan tujuan kita,” kata Khamenei.

Hentikan Sebagian 

Pada saat bersamaan dilaporkan bahwa Iran secara resmi menghentikan sebagian kesepakatan nuklir 2015. Hal itu ditegaskan pejabat Badan Energi Atom Internasional yang mengatakan Iran tidak memiliki batasan mulai sekarang untuk produksi uranium yang diperkaya maupun air berat.

“Iran secara resmi menghentikan beberapa komitmen berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 dengan negara kekuatan dunia setelah perintah keluar dari dewan keamanan nasional Iran,” demikian dilaporkan kantor berita ISNA, Rabu.

Pekan lalu, Iran memberi tahu Tiongkok, Prancis, Jerman, Russia, dan Inggris, mengenai keputusannya untuk menghentikan beberapa komitmen berdasarkan perjanjian nuklir, setahun setelah AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian itu dan menerapkan kembali sanksi.

Di bawah kesepakatan nuklir, Teheran diizinkan untuk memproduksi uranium yang diperkaya dan air berat secara terbatas. Namun kini, batasan produksi itu bisa dilampaui.  ang/AFP/AlJazeera/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment