Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Kebijakan Trump

AS Masukkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris Global

AS Masukkan Garda Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris Global

Foto : AFP/ ATTA KENARE
PASUKAN ELIT IRAN - Pasukan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC).
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) segera mengumumkan penetapan pasukan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) sebagai organisasi teroris internasional. Pemerintahan Presiden Donald Trump akan mengumumkan keputusan yang telah lama dipertimbangkan itu pekan depan, atau secepatnya pada Senin (8/4) waktu setempat.

Ini adalah sebuah kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pemerintah AS untuk pertama kalinya memasukkan pasukan militer negara asing dalam daftar teroris internasional. Korps Garda Revolusi Iran dibentuk setelah revolusi Islam tahun 1979 dengan misi untuk melindungi ulama Syiah yang memerintah Iran.

Pasukan Garda Revolusi Iran merupakan organisasi keamanan yang paling berkuasa yang mengendalikan sejumlah sektor perekonomian Iran dan memiliki pengaruh sangat luas dalam sistem politik Iran. Pasukan elite militer Iran itu berjumlah sekitar 125 ribu personel yang ditempatkan di Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Mereka berada di bawah kewenangan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini. IRGC juga bertanggung jawab terhadap program pengembangan rudal Iran. Mereka menyatakan mempunyai peluru kendali dengan jarak jelajah sampai 2.000 kilometer, dan bisa menjangkau Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, merupakan sosok yang mendorong kebijakan keras AS terhadap Iran itu. Namun, ketika dikonfirmasi, baik ke Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, hingga Gedung Putih tidak ada yang mau memberikan tanggapan.

Keputusan AS memasukkan Garda Revolusi Iran dalam daftar organisasi teroris internasional ini bertepatan dengan setahun keputusan Trump menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran tahun 2015. AS pun kemudian menerapkan kembali sanksi-sanksi yang dulunya melumpuhkan perekonomian Iran.

 

Merasa Cemas

 

Sedangkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS yang juga bekas ketua juru runding dengan Iran, Wendy Sherman, menyatakan dia cemas dengan dampak yang akan ditanggung jika AS mengambil langkah itu.

“Menurut sejumlah pendapat, sebab sulit melihat apa kepentingan kami, jika Presiden tidak cuma mencari alasan untuk konflik. IRGC sudah dijatuhi sanksi dan peningkatan ini membahayakan pasukan kami di berbagai kawasan,” kata Sherman.

Sebelumnya pada tahun 2007, Departemen Keuangan AS menetapkan Pasukan Quds, unit dalam Pasukan Garda Revolusi Iran yang melakukan operasi militer di luar negeri, sebagai pendukung organisasi teroris dan pemberontak. Pemerintah Iran menyatakan akan membuat perhitungan jika AS menggolongkan pasukan Garda Revolusi itu sebagai kelompok teroris.

Gertakan itu disampaikan oleh Parlemen Iran. Sebanyak 255 anggota legislatif menyatakan setuju untuk membalas AS jika memasukkan IRGC ke dalam daftar kelompok teroris.

“Kami akan membalas atas setiap tindakan terhadap pasukan ini. Jadi, pemimpin Amerika Serikat, yang merupakan pencipta dan pendukung kelompok teroris di Timur Tengah, akan menyesali tindakan idiot dan tidak perlu ini,” demikian pernyataan Parlemen Iran, Senin (8/4).

Perselisihan antara AS dan Iran kembali mencuat setelah pada 2015, Trump memutuskan membatalkan perjanjian nuklir. Dia juga kembali menerapkan sanksi yang lebih keras terhadap Iran, dengan alasan negara itu tetap melanjutkan program pengembangan rudal jarak jauh. 

 

ang/AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment