Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments
Hubungan Bilateral I Kremlin Sebut Sanksi Baru AS Ilegal dan Langgar Hukum Internasional

AS Beri Sanksi Baru Bagi Russia

AS Beri Sanksi Baru Bagi Russia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Russia. Kali ini sanksi diberikan karena Washington DC yakin Kremlin ada dibalik serangan racun terhadap mantan mata-mata Russia di Inggris.

 

WASHINGTON DC - Washington DC pada Rabu (8/8) menyatakan akan menjatuhkan sanksi baru terhadap Russia setelah Amerika Serikat (AS) memiliki keyakinan bahwa Moskwa menggunakan racun saraf untuk menyerang mantan mata-mata Russia beserta putrinya di Inggris. “Kami telah memberi tahu Kremlin soal sanksi tersebut pada Rabu,” kata pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri AS.

Sergei Skripal, mantan kolonel pada dinas intelijen militer Russia, GRU, dan putrinya, yang beusia 33 tahun, Yulia, ditemukan dalam keadaan tidak sadar di kota Inggris selatan, Salisbury, pada Maret lalu. Mereka terkapar setelah cairan mengandung racun saraf Novichok melekat di pintu depan rumah mereka.

Juru bicara untuk Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert, mengatakan kementeriannya berkeyakinan bahwa Russia menggunakan senjata kimia yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional, atau telah menggunakan senjata kimia atau biologis terhadap warga negaranya sendiri.

“Sanksi AS akan diterapkan pada barang-barang keamanan nasional yang sensitif,” kata seorang pejabat tinggi Kemlu AS kepada para wartawan dalam sebuah telekonferensi. Namun sanksi itu memiliki beberapa pengecualian yang akan diberikan pada kegiatan penerbangan luar angkasa serta sektor-sektor yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan penumpang komersial. “Pengecualian itu akan diterapkan secara kasus per kasus,” imbuh pejabat itu.

Pejabat tersebut mengatakan gelombang kedua sanksi yang lebih kejam akan diterapkan setelah 90 hari, kecuali Russia memberikan jaminan yang bisa dipercaya bahwa negara itu tidak akan lagi menggunakan senjata kimia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa diberi akses untuk melakukan penyelidikan di lapangan.

Sementara itu atas dijatuhkannya lagi sanksi terhadap Russia oleh AS, pemerintah Inggris menyambut keputusan tersebut. “Inggris menyambut tindakan lebih lanjut ini yang dijalankan oleh sekutu kami, AS,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris dalam sebuah pernyataan.

“Tanggapan internasional yang kuat terhadap penggunakan senjata kimia di jalanan Salisbury merupakan pesan tegas kepada Russia agar tidak akan bisa melenggang begitu saja setelah melakukan tindakan yang provokatif dan sembrono itu,” imbuh dia.

Inggris selama ini menuding Russia sebagai dalang di balik serangan itu dan bersama AS serta sejumlah negara sekutu Barat, mengusir puluhan diplomat Russia. Russia selalu membantah tudingan terlibat dalam peracunan itu dan mengusir diplomat Barat sebagai pembalasan.

 

Reaksi Kremlin

Atas rencana AS yang akan menjatuhkan sanksi kembali pada Russia, pihak Kremlin pada Kamis (9/8) menyatakan bahwa pemberlakuan sanksi baru AS terhadap Russia adalah kebijakan ilegal yang melanggar hukum internasional.

“Kami sama sekali tidak bisa menerima tudingan terkait peristiwa ini (penggunaan gas syaraf di Inggris). Sanksi baru yang diterapkan oleh AS adalah kebijakan yang jelas-jelas ilegal dan melanggar hukum internasional,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Berita tentang sanksi tambahan AS sempat membuat nilai mata uang rubel jatuh ke titik terendah sepanjang dua tahun terakhir, dan memicu aksi jual aset. Pelaku pasar khawatir Moskwa tidak akan kuat menahan strategi baru dari Washington DC. Atas guncangan di bidang keuangan itu, Moskwa menegaskan bahwa sistem finansial mereka masih stabil dan tidak terpengaruh oleh sanksi Washington DC.

 

Ant/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment