Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Kejahatan Perang I Mahkamah Internasional Menyatakan Tak Gentar pada Ancaman AS

AS Ancam Mahkamah Internasional

AS Ancam Mahkamah Internasional

Foto : AFP/Fabrice COFFRINI
Kecam Mahkamah Internasi onal l Penasihat Keamanan Nasional untuk Gedung Putih, John Bolton, saat memberikan pernyataan pers di Jenewa, Swiss, beberapa waktu lalu. Pada Senin (10/9), Bolton, mengecam Mahkamah Internasional yang ingin menuntut waraga negaranya atas kejahatan perang di Afghanistan.
A   A   A   Pengaturan Font

Washington DC keberatan atas penyelidikan Mahkamah Internasional terhadap personel militer dan intelijen AS atas kejahatan perang di Afghanistan.

 

WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) mengancam akan memenjarakan hakim-hakim dan pejabat di Mahkamah Internasional jika tak mencabut tuntutan kejahatan perang bagi personel militer AS yang bertugas di Afghanistan.

“(Tuntutan) Mahkamah Internasional tidak dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar berbahaya bagi AS, Israel, dan sekutu lainnya,” kata Penasihat Keamanan Nasional untuk Gedung Putih, John Bolton, pada Senin (10/9). “Penyelidikan apa pun terhadap anggota militer AS akan menjadi hal yang benar-benar tak berdasar dan tidak dapat dibenarkan,” imbuh dia.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Bolton mengatakan bahwa AS akan memberlakukan sanksi keuangan dan tuntutan hukum bagi pejabat di Mahkamah Internasional jika pengadilan itu melanjutkan tuntutan terhadap setiap warga AS.

“Kami akan melarang hakim dan jaksa penuntut untuk memasuki AS serta akan menuntut mereka dalam sistem peradilan AS. Kami pun akan memberi sanksi aliran dana mereka di sistem keuangan AS. Kami pun akan melakukan tindakan hukum yang sama bagi perusahaan dan negara yang membentu penyidikan Mahkamah Internasional yang menyasar warga AS,” ucap Penasihat Keamanan Nasional untuk Gedung Putih itu.

Pada November 2017, jaksa penuntut di Mahkamah Internasional membuka investigasi terhadap pejabat militer dan intelijen AS yang bertugas di Afghanistan. Adapun investigasi akan menyelidiki tudingan atak tindak kekerasan diluar peri kemanusiaan atas tahanan perang.

Atas ancaman dari AS, pihak Mahkamah Internasional mengatakan bahwa mereka tak gentar. “Mahkamah Internasional adalah sebuah pengadilan hukum yang berlandaskan mandat Statuta Roma dan akan terus melanjutkan tugasnya secara independen dan imparsial, berlandaskan prinsip dan asas-asas hukum,” demikian pernyataan resmi kantor Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, pada Selasa (11/9).

 

Isu Palestina

Selain memprotes langkah penyelidikan di Afghanistan, AS juga merasa keberatan atas permintaan para pemimpin Palestina yang menuntut para pejabat Israel di Mahkamah Internasional atas pelanggaran hak asasi manusia.

Atas tuntutan itu, AS menyatakan siap untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi warga negaranya serta warga negara dari negara sekutu AS dari tuntutan yang timpang dari Mahkamah Internasional.

“Kami tak akan bekerja sama, membantu, maupun bergabung dengan Mahkamah Internasional. Kami akan membiarkan Mahkamah Internasional hancur dengan sendirinya,” kata Bolton.

Dalam penjelasannya, Bolton mengatakan pemerintahan AS pimpinan Presiden Donald Trump tak menerima ide bahwa wewenang Mahkamah Internasional lebih tinggi dari konstitusi dan kedaulatan AS.

“Kami tak mengakui wewenang lebih besar dari Kontitusi AS. Presiden AS tak akan membiarkan warganya diadili oleh para birokrat asing dan ia menegaskan tak mau didikte oleh negara-negara lain terkait bagaimana kami menjalankan langkah untuk pembelaan diri,” pungkas Bolton. 

 

AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment