Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Arti Penting Menjadi Murid Yesus Kristus

Arti Penting Menjadi Murid Yesus Kristus

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Discipleship
Penulis : AW Tozer
Penerbit : Katalis
Cetakan : April 2019
Tebal : 146 halaman
ISBN : 978–602-5362-81-1

Murid adalah seorang pembelajar yang mengikuti ajaran sang guru lalau menyebarkannya. Tetapi, menjadi murid Kristus lebih dari sekadar itu. Ia harus menjadi pengikut-Nya, pergi ke mana Dia memimpin. Dia melakukan apa pun yang diperintahkan, tak peduli harga atau risiko yang harus ditanggung. Kemuridan merupakan sebuah cara hidup. Menjadi seorang murid menyangkut penyerahan diri total kepada Kristus sendiri. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan setengah hati atau paruh waktu.


“Dalam Perjanjian Baru, keselamatan dan pemuridan atau kemuridan berkaitan erat, sampai tak dapat dipisahkan. Keselamatan dan kemuridan mirip anak kembar siam. Keduanya dihubungkan oleh suatu ikatan yang hanya dapat dipisahkan kematian,” (hlm 9).


Menjadi murid Yesus adalah cara terbaik meraih kebenaran. Tidak ada orang yang dapat mengetahui kebenaran, selain yang menaati kebenaran itu sendiri. Hafal ayat Alkitab tidak menjamin mengetahui kebenaran. Kebenaran bukanlah sebuah ayat. Kebenaran ada dalam ayat, tetapi diperlukan Roh Kudus untuk membawa kebenaran ke dalam jiwa manusia.


Kebenaran harus dipahami sebagai pencerahan dari dalam. Setelah itu barulah orang bisa mengetahui kebenaran. Pencerahan tersebut disebabkan ketetapan hati untuk terus mengikuti ajaran Yesus yang akan memberikan kemerdekaan dari dosa. Satu-satunya larutan yang dapat melepaskan manusia dari dosa adalah darah Yesus Kristus. Dia mengasihi umat manusia dan melepaskan dari dosa-dosa dengan darah-Nya sendiri. Pendidikan dan perbaikan lainnya tidak akan berhasil melakukannya (hlm 109).


Ciri murid Yesus lainnya, memiliki kepekaan moral tinggi. Banyak orang tak acuh masalah hati dan nurani, sehingga tak dapat diselamatkan. Murid Yesus juga merasakan kelaparan rohani yang besar. Agama, percakapan, atau perbuatan yang saleh tidak identik dengan kelaparan rohani sejati. Ini berkaitan erat dengan kondisi hati yang sepenuhnya digerakkan Allah. Yohanes 15:16 menegaskan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu,” (hlm 15).


Murid memandang kekristenan sebagai komitmen seluruh aspek hidupnya dan mencapai titik “kemustahilan kembali” dalam pengalaman Kristen. Orang demikian dapat diandalkan dalam kesetiaannya kepada Kristus dan untuk tinggal dalam Firman Allah.


Buku ini juga menjabarkan murid palsu yang bersikap setengah-tengah yang menaati Tuhan hanya dalam aspek hidup tertentu. Orang seperti ini tidak sepenuhnya menyakini Yesus sebagai Tuhan. Seorang pengkhotbah Inggris senior berkata, “Jika Kristus tidak dapat menjadi Tuhan atas segalanya, Dia tidak akan menjadi Tuhan sama sekali,” (hlm 24).


Murid palsu juga seperti bunglon yang berubah warna mengikuti lingkungan. Saat bersama pemikir liberal, dia menjadi liberal. Saat bersama orang Injili, ia bersuara Injili. Murid Kristus menjadi berlian di mana pun dan kapan pun, bukan bunglon. Buku ini mendorong gairah pembaca untuk mengikuti Yesus, konsisten memuliakan-Nya, dan menyerahkan hidup kepada-Nya secara utuh. Diresensi Faiz, Staf Lembaga Pendidikan An-Najah Karduluk, Sumenep

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment