Arsitektur Perkuat Kearifan Lokal | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 11 2020
No Comments

Arsitektur Perkuat Kearifan Lokal

Arsitektur Perkuat Kearifan Lokal

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Rumah Budaya dapat digunakan masyarakat sekitar untuk kegiatan yang terkait dengan kesenian maupun, galeri maupun sebagai tempat tinggal pendatang.

Arsitektur tidak sebatas bangunan megah dengan beragam gaya. Lebih dalam lagi, arsitektur mampu menjaga kehidupan bahkan tanah masyarakat lokal dari ganasnya praktek industrialisasi.

Hal itulah yang dilakukan Rumah Asuh dan Tirto Utomo Foundation beserta Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCaN). Mereka membuat Rumah Budaya dan Gereja Katholik yang dirancang dengan nilai kearifan lokal untuk masyarakat Suku Dayak Iban di Sungai Utik, pedalaman Kalimantan Barat.

Besarnya nilai rumah budaya tidak lain karena rumah budaya dibangunan dengan kearifan lokal bahkan material yang terdapat pada masyarakat tersebut. Saat ini, nilai kearifan tersebut makin tergerus sejalan dengan melajunya arus moderisasi.

Jika tidak dirawat maupun dipelihara, kearifan lokal akan musnah yang berarti kehidupan masyarakat lokal pun ikut lenyap.

Gotong royong menjadi kekuatan untuk membuat bangunan yang tidak berjarak dengan masyarakat sekitar serta tidak merusak alam. Cara tesebut bukan sekedar untuk menghemat pembiayaan.

Gotong royong telah menjadi kearifan lokal dalam membangun rumah maupun bangunan lainnya pada masyarakat lokal.

Yori Antar, pendiri Rumah Asuh dan Han Awal & Partners, sebuah biro arsitek mengatakan gotong royong merupakan budaya yang dimiliki masyarakat dua musim. “Dua musim artinya budaya yang lebih banyak di luar, out door.

Budaya out door menghasilkan manusia yang sangat sosial. Dan kekuatan manusia sosialadalah gotong royong,” ujar dia dalam konferensi pers Mother Earth & Architecture-Dayak Melihat Dunia dalam rangka Bintaro Design District 2019 di kantor Han Awal & Partners, Tangerang Selatan.

Dalam membuat rumah maupun bangunan lainnya, gotong royong mampu menempiskan pembagian kerja yang ketat, seperti mandor maupun arsitektur. Rumah yang dikerjakan hampir seluruh warga kampung tersebut tidak ada pembagian kerja yang ketat, karena semua dilakukan bersama-sama. “Tau-tau jadi bangunan,” ujar dia. Proses pengerjaan bangunan yang tidak dipelajari dalam pendidikan arsitektur tersebut.

Dalam membangun Rumah Budaya untuk Suku Dayak Ibadn di Sungai Utik, pedalaman Kalimantan Barat sebagai rumah untuk masyarakat, Yori melakukannya dalam proses bottom up.

Dengan jembatan YWCaN, ia banyak melakukan diskusi dengan masyarakat setempat tentang Rumah Budaya yang akan dibangun bersama. Upaya tersebut dilakukan supaya bangunan dapat mengakomodasi kebutuhan dan keinganan masyarakat. Sehingga bukan sebagai bangunan proyek yang setelah selesai malah tidak digunakan.

Rumah Budaya yang tengah dalam proses pembangunan dibangun oleh masyarakat dengan desain rumah tradisional masyarakat setempat.

Bangunan yang diperkirakan akan selesai setahun ke depan menggunakan material dari wilayah lokal yang didominasi kayu. Rumah tersebut sekaligus untuk melestarikan pertukangan tradisional.

Nantinya, Rumah Budaya dapat digunakan masyarakat sekitar untuk kegiatan yang terkait dengan kesenian maupun, galeri maupun sebagai tempat tinggal pendatang. Cara tersebut untuk merespon supaya masyarakat lokal dapat berpartisipasi di dunia pariwisata tidak hanya sekedar menjadi penonton.

Sepertihalnya yang terjadi di Rumah Budaya yang dibuat Rumah Asuh di Waerebo, Nusa Tenggara Timur. Keberadaan rumah budaya mampu meningkatkan turis dari 40 orang pertahun menjadi 9 ribu lebih per tahun.

Adapun, Gereja Katolik merupakan bangunan yang lebih moderen dengan mengacu bangunan tradisional. Bangunan yang juga dibangun bersama di desain banyak bukaan di bagian dindingnya. Sehingga, udara alam yang sejuk bebas keluar masuk.

Semula, Yori akan menempatkan kursi sebagai tempat duduk jamaat. Namun, interior tersebut ditiadakan lantaran masyarakat lebih senang duduk beralaskan anyaman rotan, seperti kebiasaannya sehar-hari.

Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik, merupakan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan. Dari pintu perbatasan Serawak dapat ditempuh dalam waktu dua jam. Pada 1990 an, di daerah perbatasan marak terjadi ilegal logging. Masyarakat Sungai Utik merupakan masyarakat yang mempertahankan hutan adatnya.

“Orang Sungai Utik punya prinsip dibandingkan masyarakat adat ditempat lain, dia nggak mau kehilangan tanah,” ujar Raymundus Remang, tokoh adat Sungai Utik. Tanah merupakan simbol kehidupan. Tanah bagaikan ibu yang memberikan air susunya atau pangannya pada anakanaknya. din/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment