Koran Jakarta | August 20 2019
No Comments

Arsitektur Menyatukan Keberagaman

Arsitektur Menyatukan Keberagaman

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Arsitektur tidak sekedar membuat bangunan dengan bentuk terkini. Arsitektur yang mampu menjembatani keberagaman masyakat tak kalah penting. Lantaran, bangunan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar.

Hal tersebutlah yang ditunjukan pada sejumlah bangunan di dunia. Edificio di UDEP (University of Piura) sebuah universitas privat di Peru merupakan salah satunya.

Edificio mencerminkan kebijakan nasional Peru untuk mendorong siswa pedesaan yang berpenghasilan rendah bersekolah di sekolah mahal serta program inklusi sosial universitas melalui pendidikan.

Untuk menjembataninya keberagaman mahasiswa, arsitektur universitas dibuat untuk menciptakan lingkungan non hirarkis yang mendorong pertemuan antara siswa dari berbagai latar belakang dan guru mereka.

Bangunan yang didirikan pada Maret 2016 terletak di wilayah padang pasir dan hutan kering di dekat khatulistiwa. Rasa kebersamaan dihadirkan dengan membuat bangunan terbuka nan luas. Selain itu, ruangan tersebut menjadi ruang yang cukup sejuk lantaran angin sepoi-sepoi bebas keluar masuk.

New Artist Residency In Senegal merupakan bangunan lainnya. Bangunan tersebut berada di daerah terpencil dekat dengan Mali. Bangunan yang disebut Thread menjadi pusat komunitas untuk jaringan desa-desa terpencil. Bangunan menjadi pusat kebudayaan yang menawarkan ruang untuk seniman, pertunjukkan, perpustakaan umum dan pelatihan pertanian.

Thread mengadaptasi bahan bangunan tradisional dan atap lokal yang dirancang untuk mengumpulkan air hujan. Air hujan menjadi sumber air penduduk setempat selama musim kemarau yang berlangsung selama delapan bulan.

Seluruhnya, bahan bangunan menggunakan bahan-bahan lokal termasuk bambu dan blok tanah yang dikompres. Karya rancangan Toshiko Mori, seorang arsitek dari Jepaang ini telah meningkatkan kohesi sosial dan memberikan stabilitas di komunitas dari berbagai etnis tersebut.

Bangunan lain yang dirancang tidak terpisah dengan lingkungannya adalah tempat ibadah, Kuil Baha’i di Afrika Selatan. Bangunan dirancang menjadi tempat yang bermakna untuk semua orang. Bangunan yang telah dibuka pada musim gugur pada 2016 telah dikunjungi sebanyak 1,4 juta penduduk.

Kuil terdiri dari sembilan sayap kaca dan marme terlihat tanpa bobot. Bangunan yang berada di tepi pegunungan Andes dibangun untuk menahan iklim yang keras dan zona gempa bumi. Bangunan terealisasi setelah 14 tahun dibangun dengan bantuan ratusan relawan lokal dan global, termasuk pabrikasi dari Kanada dan Jerman. Untuk marmernya didatangkan dari tambang Portugis dan pedagang Chili.

Bangunan yang mengedepankan kebersamaan di tengah keragaman menjadi kandidat peraih RAIC Internasional Award 2019. Penghargaan tersebut menyoroti arsitektur transformatif di seluruh dunia.

“Kami melihat gedung-gedung yang luar biasanya ini dapat memperkuat komunitas, menyatukan beragam orang, mengangkat semangat dan hidup selaras dengan lingkungan,” ujar Michael Cox, President RAIC seperti dilansir dari laman archdaily. Masing-masing proyek menawarkan pembelajaran yang dapat diterapkan di tempat lain. Ia berharap dapat menginspirasi arsitek di seluruh dunia karena mereka merancang untuk kesehateraan manusia. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment