Koran Jakarta | November 18 2018
No Comments

Arakan Bugil dari Cikupa

Arakan Bugil dari Cikupa

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Hari Sabtu, seminggu lalu, malam hari M, 20 tahun, perempuan, merasa lapar. Ia minta pacarnya, R,28 tahun, membelikan makan. Keduanya, agaknya pekerja siang hari, sehingga baru bisa merencanakan makan bersama, pukul 22.00.

R pun datang membawa makan malam, dua bungkus untuk menikmati “dinner time”. Kemesraan makan bersama dari nasi bungkus terganggu karena gedoran di pintu oleh G, yang adalah ketua RT di desa Sukamulya, Cikupa, provinsi Banten.

Yang datang bersama beberapa orang yntuk menggerebk—bukan menyambangi, seperti bahasa yang sekarang diperhalus kalau konotasinya terjadfi penangkapan. Lalu selanjutnya adalah kisah horor.

Pasangan ini dipaksa mengaku berbuat asusila, lalu ditelanjangi, juga dipukuli—terbukti dari hasil visum kemudian, dilecehkan, dan ditelanjangi. Mula-mula R, kemudian M.

Sampai di sini R masih mencoba melindungi kekasihnya, namun malah menambah permusuhan dan kebencian yang dituangkan ke arahnya oleh Pak RT yang kemudian dianggap provokator. Karena menyuruh warga memotret, atau melecehkan, ketika diarak dalam keadaan bugil ke rumah Pak RW.

Video arakan bugil itu diunggah, dan menyebar dan viral. Pasangan Cikupa ini sempat tak melakukan aktivitas apapun, karena malu, karena merasa hina.

Sampai kemudian polisi menanyakan kebenarannya. Untunglah aparat kepolisian sigap, karena viralnya video arakan bugil meresahkan masyarakat. Dan bahkan sudah menetapkan 6 tersangka— termasuk di antaranya Pak Rt dan Pak RW. Arakan bugil untuk pelaku tindak asusila bukan sekali ini terjadi.

Di Sukorejo, Jawa Tengah juga terjadi tahun lalu. Hanya di sini prianya yang dibugili. Di Riau tiga tahun lalu juga terberitakan kasus yang sama. Kadang juga aneh, kisah gadis pencuri sandal juga dipaksa dibugili.

Ada sesuatu yang ganas, yang bisa telengas, sebagai tindakan kejam atas perbuatan asusila. Dengan menelanjangi, mengarak, mentertawakan, mungkin juga meludahi. Kejijikan yang dimuntahkan dengan penuh kebencian.

Yang bahkan kalau pun pasangan yang melakukan, hukuman itu tidak pantas. Ada tata krama, ada tata nilai untuk memastikan perbuatan asusila, dan tentu saja sangksisanksi apapun yang menyertai.

Kita tak tahu apa yang ada di pikiran Pak RT—atau Pak RW, atau yang ikutan merundung dengan brutal— atau kenapa begitu “nafsunya” melampiaskan dengan keji—untuk sasaran yang belum pasti bersalah.

Ada sesuatu yang busuk yang berkecamuk dalam sikapnya, atau itu gambaran nilai yang dianggap benar dan wajar. Dan orang seperti itu, sangat mungkin sekali masih ada. Bukan hanya di Sukamulya, tetapi bisa di mana saja, Riau, Samarinda, Sragen Juga di luar negeri—setidaknya dari berita yang termuat di media.

Sisa-sisa pikiran untuk main hakim sendiri sesegera mungkin, keinginan menghukum sebrutal mungkin dengan menghina dan atau menelanjangi. Kunci jawaban ini adalah tegaknya hukum.

Aparat kepolisian di sini bergerak cepat, lugas, dan berhasil memetakan persoalan. Mana yang korban, mana yang memprovokasi kekerasan, bagaimana kronologi kejadian, dengan data dengan fakta.

Dengan begitu peristiwa tidak meluas menjadi masalah yang terkaitkan dengan SARA, bahkan mungkin pilkada, atau apa saja. Kepolisian bertindak pas. Juga misalnya ketika urusan di pengadilan.

Menjadi jelas, nyata, terukur, dan masyarakat bisa belajar dari arak-arakan bugil yang menjijikan ini.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment