Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
Direktut Utama PT Jakarta Propertindo, Dwi Wahyu Daryoto, soal Program Kerja

Arahannya Ubah Pola Pikir di Perusahaan

Arahannya Ubah Pola Pikir di Perusahaan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melalui Badan Pembinaan BUMD (BP-BUMD) DKI Jakarta telah melakukan pergantian jajaran direksi dan komisaris PT Jakarta Propertindo (Jakpro) pada Rapat Umum Pemegang Saham Liar Biasa (RUPSLB) PT Jakpro. Anies menempatkan Dwi Wahyu Daryoto, mantan direktur PT Pertamina, sebagai Direktur Utama PT Jakpro menggantikan Satya Heragandhi.

Untuk mengetahui lebih jauh rencana Dwi Wahyu Daryoto dalam menjalankan roda bisnis PT Jakpro, wartawan Koran Jakarta, Peri Irawan, mewawancarainya, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (11/7). Berikut petikannya.

Apa poin utama yang disampaikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI saat menunjuk Anda jadi Dirut PT Jakpro?

Pertama, tetap menjalankan program-program strategis Pemerintah Daerah (Pemda). Kedua meneruskan apa yang sudah ditetapkan oleh Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), yang sudah disetujui pemegang saham. Teorinya itu 3 bottom line flash, jadi fokus pada finansial, sosial, lingkungan dan development. Pokoknya untuk masyarakat Jakarta yang lebih baik. Dan ketiga memang harus melakukan percepatan untuk program-program prioritas yang perlu dipercepat.

Contoh program yang perlu percepatan?

Contohnya, mengenai pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter. Karena saya yakin, kalau ITF Sunter itu jalan, maka lima lokasi lainnya akan mengikuti. Kita sudah melakukan progres yang sudah cukup bagus, berdiskusi dengan partner, bikin joint venture, kemudian financial close dan melakukan pembiayaan. Karena proyek ITF ini tidak akan dibebankan pada APBD.

Skemanya seperti apa jika tanpa APBD?

Kita buat perusahaan patungan saja atau joint venture. Nanti equity Jakpro sekian persen dan partner berapa persen.

Skema pembiayaan lain yang ditawarkan ke Gubernur?

Salah satunya untuk ITF itu tadi. Juga ada lagi untuk pertamanan. Aset taman-taman ini kan diimbrengkan ke Jakpro. Semua taman itu aset Jakpro. Biaya pemeliharaan taman itu cukup besar, sampai 300-400 juta rupiah per bulan. Kita harus koordinasi dengan Dinas Pertamanan. Karena itu aset tidak bisa dioptimalkan oleh Jakpro. Kalau biaya ini dibebankan kepada Dinas Pertamanan, ya tidak bisa. Karena itu aset Jakpro. Makanya, harus dikoordinasikan. Skenarionya apakah kita kembalikan ke Dinas Pertamanan atau bagaimana.

Sebentar lagi Asian Games, arahan seperti apa untuk percepatan proyek-proyek Jakpro?

Itu salah satu arahan pemegang saham. Yang jelas Vellodrome dan equistrian sudah selesai. Insya Allah pas Asian Games bisa digunakan. Dan LRT sudah hampir 85 persen sehingga nanti bisa dimanfaatkan. Sekarang masalahnya menghubungkan penumpang dari Kelapa Gading ke Vellodrome yang mau melanjutkan misalnya ke Dukuh Atas. Ini harus kerja sama dengan Transjakarta. Karena nanti penumpang LRT-nya bisa kurang (karena jaraknya masih dekat). Makanya nanti akan dimasukkan ke program OK Otrip

Gagasan apa yang Anda tawarkan saat seleksi direksi Jakpro kemarin?

Sebetulnya, background saya akuntan. Kedua, saya master di Human Capital. Di Pertamina, saya cukup berhasil mengubah mindset, budaya perusahaan. Saya Direktorat manajemen aset. Ini similar dengan Jakpro, bagaimana mengutilisasi, mengoptimalkan aset-aset tanah, dan segala macam. Bisa bekerja sama dengan pihak lain dan sebagainya. Saya sih, prinsipnya bekerja sesuai nilai-nilai perusahaan. Nilai perusahaan di Jakpro ini sangat cocok dengan saya.

Seperti apa?

Nilainya itu kan JAKPRO (Jujur, Aksi, Kompeten, Profesional, Respect, dan Open atau transparan). Saya sih belum memetakan. Tapi berdasarkan pengalaman saya, perubahan budaya secara berkelanjutan harus diterapkan pada korporasi. Karena yang mengelola perusahaan kan manusia, aset sebesar apapun kalau yang mengelolanya begitu. Lalu, kompetensi teman-teman Jakpro akan saya dorong untuk sertifikasi. Baik propertinya, IT-nya, infrastruktur. Apakah di Jakpro ada ahli wise management. Itu memang basic.

Kabarnya Anda cukup dekat dengan pak Anies saat Gerakan Indonesia Mengajar?

Saya dekat dengan siapa saja. Tapi saya bisa membedakan antara teman dan profesional. Waktu di Pansel saya jelaskan, saya profesional. Teman adalah teman. Networking itu boleh, karena saya aktif di sosial, di gerakan Indonesia Mengajar. Bahkan auditor Indonesia Mengajar itu dari kantor saya. Pak Sandi saya kenal saat mengaudit Saratoga, Adaro. Jadi, pertemanan profesional. Saya yakin, Pak Anies dan Pak Sandi mempunyai value yang sama.

Konsep Anda untuk pengembangan LRT Fase II seperti apa?

Nggaklah. Nanti akan dibahas secara khusus bersama tim. Ada penjelasannya kok itu. Semua ada hitungannya, dilakukan oleh konsultan profesional. Nanti ada penjelasannya secara khusus.

 

P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment