Antisipasi Pelemahan Tiongkok, Dorong Industri Pengolahan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2020
No Comments
Implikasi Wabah Korona I Para Menteri Diperintahkan Cermati Ekonomi Tiongkok

Antisipasi Pelemahan Tiongkok, Dorong Industri Pengolahan

Antisipasi Pelemahan Tiongkok, Dorong Industri Pengolahan

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
Total Ekspor Indonesia sepanjang 2019 mencapai 167,5 miliar dollar AS.
A   A   A   Pengaturan Font
>> Perlu ada strategi jangka pendek, menengah, dan panjang agar penurunan ekonomi Tiongkok tidak benar-benar memberi dampak buruk terhadap ekonomi Indonesia.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan ber­harap pada pemerintah untuk segera mewaspadai penurunan ekonomi Tiongkok akibat terus berkembangnya wabah virus korona. Untuk itu, peme­rintah mesti membuat sejumlah antisi­pasi agar terhindar dari dampak buruk perlambatan ekonomi Tiongkok.

Ekonom Indef, Berly Martawardaya, mengatakan pemerintah mesti mewas­padai penurunan ekonomi Tiongkok. “Kalau ekonomi Tiongkok melambat maka Indonesia akan terpengaruh. Sa­lah satunya, ekspor kita ke Tiongkok yang menurun,” kata Berly, di Jakarta, Selasa (4/2).

Diketahui, kontribusi ekspor ke Tiongkok sebesar 16,7 persen atau se­kitar 25,9 miliar dollar AS dari total eks­por Indonesia pada akhir 2019 (lihat infografis). Nilai ekspor ke Tiongkok itu menduduki peringkat pertama dari ne­gara-negara tujuan ekspor Indonesia.

Sebelumnya, dilaporkan akibat wa­bah korona tingkat pertumbuhan Tiong­kok diprediksi turun 2 persen pada kuar­tal pertama tahun 2020. Skala itu sama dengan kehilangan 62 miliar dollar AS atau sekitar 868 triliun rupiah. Hal ini didukung dengan meningkatnya utang dan dampak perang dagang dengan AS yang membuat pertumbuhan Tiongkok tahun lalu menurun.

Otoritas Tiongkok telah berjanji akan menggunakan berbagai kebijakan mo­neter untuk memastikan likuiditas cu­kup memadai. Bank Sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBOC) te­lah menyiapkan dana likuiditas senilai 1,2 triliun yuan atau 173,8 miliar dollar AS atau setara 2.363 triliun rupiah (kurs 13.600 per dollar AS) untuk mendukung perusahaan yang terkena dampak epi­demi virus.

Dijelaskan Berly, apabila Produk Do­mestik Bruto (PDB) Tiongkok melambat maka konsumsi dan impor dari semua negara juga akan berkurang. Artinya, ekonomi RI sebagai pemasok aneka je­nis bahan baku ke Tiongkok bakal ter­ganggu. “Kalau ekspor Indonesia berku­rang akan merembet ke indikator lain, terutama cadangan devisa. Padahal, ekspor Indonesia ke Tiongkok sebesar 16,7 persen dari total ekspor alias terbe­sar. Kalau PDB Tiongkok melambat dan impor dari Indonesia turun 20 persen maka total ekspor Indonesia akan turun sekitar 3,3 persen,” jelasnya.

Menurut Berly, pemerintah mesti melakukan antisipasi dini menghadapi perlambatan ekonomi Tiongkok. Perlu ada strategi jangka pendek, menengah, dan panjang agar kondisi itu tidak be­nar-benar memberi dampak buruk terhadap ekonomi Indonesia. “Salah satunya dengan mendorong industri pengolahan dalam negeri. Dengan itu, kita tidak lagi bergantung pada ekspor bahan baku, tetapi dalam bentuk barang jadi. Tujuannya agar gangguan di pasar global atau yang terjadi pada negara-ne­gara mitra tidak ikut menyeret pereko­nomian RI,” ujar Berly.

Kalkulasi Cermat

Sementara itu, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya melakukan kalku­lasi secara cermat terkait dampak ada­nya virus korona asal Tiongkok terhadap perekonomian Indonesia.

“Dikalkulasi secara cermat dampak dari kebijakan ini, baik dari sektor per­dagangan, investasi, dan pariwisata,” kata Jokowi saat rapat terbatas di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa.

Jokowi mengatakan di sektor perda­gangan, Tiongkok merupakan tujuan ekspor pertama dengan pangsa pasar sangat besar yakni 16,6 persen dari total ekspor Indonesia. Selain tujuan ekspor, Tiongkok merupakan negara asal impor terbesar Indonesia.

“Karena itu, betul-betul harus dian­tisipasi dampak dari virus korona dan perlambatan ekonomi di Tiongkok ter­hadap produk ekspor kita,” tuturnya.

Jokowi mengatakan ada peluang di tengah kondisi saat ini, yaitu me­manfaatkan ceruk pasar ekspor di ne­gara-negara lain. “Saya juga melihat hal ini memberikan momentum bagi indus­tri substitusi impor di dalam negeri un­tuk meningkatkan produksi yang sebe­lumnya diimpor Tiongkok,” ujarnya.

Jokowi juga minta disiapkan langkah-langkah kontingensi, terutama untuk wi­layah pariwisata Bali dan Sulawesi Utara. “Dua daerah yang selama ini banyak di­kunjungi oleh wisatawan dari Tiongkok. Dan dalam jangka pendek, juga saya minta dimanfaatkan peluang untuk me­nyasar ceruk pasar wisman yang sedang cari alternatif untuk destinasi wisata karena batal berkunjung ke Tiongkok,” pungkasnya. ers/fdl/SB/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment