Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Perdagangan Global - AS-Tiongkok Mulai Terapkan Tarif Impor Tambahan

Antisipasi Meluasnya Perang Dagang AS ke Indonesia

Antisipasi Meluasnya Perang Dagang AS ke Indonesia

Foto : koran jakarta /ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Trump akan mencabut sejumlah perlakukan khusus yang saat ini diberikan ke Indonesia.

>>Pasar Indonesia yang luas akan menjadi sasaran pengalihan impor barang dari Tiongkok.

 

JAKARTA - Indonesia harus mempersiapkan berbagai strategi, misalnya langkah balasan, jika perang dagang yang digaungkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meluas sampai ke Indonesia.

Kementerian Perdagangan Negara Paman Sam dikabarkan tengah mengevaluasi 124 produk asal Indonesia guna menentukan apakah produk-produk itu masih layak diberikan perlakuan khusus semacam fasilitas bea masuk.

Fasilitas tersebut disebut dengan generalized system of preference (GSP). GSP adalah sebuah sistem tarif preferensial yang membolehkan satu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Pakar Hubungan Internasional dari Unair Surabaya, Joko Susanto, mengatakan kajian yang dilakukan pemerintah AS itu harus ditanggapi secara serius oleh Indonesia.

Pasalnya, pemerintahan Trump tidak akan pandang bulu dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Sekutu AS seperti Uni Eropa saja terkena, apalagi Indonesia.

“Biasanya langkah-langkah yang kontroversial semacam ini dilakukan karena terkait isu-isu tertentu seperti politik dan semacamnya. Namun kali ini memang murni, AS ingin menekan defisit neraca perdagangannya,” kata dia, ketika dihubungi, Jumat (6/7).

Menurut Joko, pemerintah perlu mulai memikirkan langkah balasan atau counter measure, dan mulai mendata produk-produk AS yang layak dikenai tarif serupa.

Namun, konsekuensi langkah ini bisa membuat situasi memburuk. “Jadi ini dijalankan semata sebagai bargaining, sambil di sisi lain menyiapkan tim lobi. Bagaimanapun komunikasi perlu dilakukan.

Meskipun gaya Trump sangat agresif, tapi sesungguhnya dia seperti institusi bisnis, selalu ada ruang untuk negosiasi,” ungkap dia.

Sebelumnya, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi, mengungkapkan Trump akan mencabut sejumlah perlakukan khusus yang saat ini diberikan ke Indonesia.

“Trump sudah kasih warning ke kita karena kita surplus, beberapa special treatment yang dia beri ke kita mau dia cabut, terutama untuk tekstil,” ungkap dia, Kamis (5/7).

Menanggapi hal itu, Presiden Joko Widodo, pada Senin (9/7), akan membahas meluasnya ancaman perang dagang yang ditabuh Presiden Trump.

Kepala Negara mengatakan hal itu usai meninjau pameran dan forum Indo Livestock 2018, di Jakarta, Jumat. “Saya kira hari Senin kita akan bicara secara khusus tentang itu,” kata Presiden.

Sementara itu, ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menilai proteksionisme yang digaungkan Presiden Trump kemungkinan besar juga akan menyasar Indonesia, dan akan berdampak signifikan.

Bhima menjelaskan perang dagang membuat permintaan ekspor industri asal Indonesia melambat karena AS dan Tiongkok berkontribusi sekitar 25 persen dari total ekspor Indonesia.

Sektor yang terkena dampak langsung mulai dari sawit, karet, tekstil, alas kaki dan otomotif. “Sementara pasar Indonesia yang luas akan menjadi sasaran pengalihan impor barang dari Tiongkok.

Banjir impor akan membuat industri dalam negeri kalah bersaing. Pertumbuhan industri diperkirakan hanya mencapai 4,3 persen atau stagnan dibandingkan 2017,” papar dia.

Resmi Berlaku

Sementara itu, AS dan Tiongkok secara resmi mulai saling menerapkan tarif impor tambahan, Jumat (6/7). Tindakan itu mengawali apa yang disebut Beijing sebagai perang dagang terbesar dalam sejarah antara dua negara ekonomi terkuat di dunia tersebut.

Pada tengah malam waktu Washington, AS memberlakukan tarif impor 25 persen atau sekitar 34 miliar dollar AS, pada produk mesin, elektronik, dan peralatan berteknologi tinggi, termasuk otomotif, perangkat komputer, serta LED dari Tiongkok.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok melalui kantor berita Xinhua, mengatakan tindakan pembalasan segera berlaku dengan besar tarif yang sama, yakni 25 persen, pada jumlah produk yang sama. ahm/SB/YK/AFP/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment