Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments
Desain Gedung

Antara Citra dan Kenyamanan

Antara Citra dan Kenyamanan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Para pekerja milenialyang hidup di era teknologi membutuhkan tempat-tempat kerja yang tidak selalu berada di kantor.

Sebuah perusahaan modern akan menjadikan ikon gedung atau bangunan sebagai citra perusahaan. Artinya, membangun gedung akan disertai dengan filosofi bangunan yang akan melandasi karyawan di dalamnya.

Bagi perusahaan seperti itu, maka rancang bangunan tak sekadar ruang kerja semata. Keberadaan arsitektur turut menjadi bagian pencitraan perusahaan. Pemilik gedung akan memilih seorang arsitek yang memiliki wawasan modern terkait bangunan.

Dengan tren seperti ini, seorang arsitek akan tertantang membangun gedung atau bangunan yang bersinergi antara kenyamanan kerja dan desain pencitraan.

Ya, konsep gedung sebagai image dan citra perusahaan telah menjadi tren. Sehingga adakalanya rancangan bangunan sebagai pencitraan dan ruang kerja memiliki makna yang berbeda. Hal tersebut tidak lain, ada sedikit perbedaan arti diantaranya keduanya. Bangunan pencitraan lebih menitik beratkan pada nilai perusahaan. Sedangkan ruang kerja lebih menitik beratkan kenyaman ruang untuk melakukan aktifitas. Sejumlah perusahaan besar di dunia mengalami perbedaan makna pada bangunan yang dimilikinya.

Seperti dilansir dari archdaily.com, Kampus Apple merupakan salah satunya. Kampus milik perusahaan teknologi raksasa tersebut dirancang mewah dengan lembaran-lembaran kaca tampak melayang, persis laptop Apple. Setiap permukaan dipoles hingga tampak sempurna.

Namun, desain mutahir tersebut tidak sepenuhnya dinikmati karyawan. Para karyawan mengeluhkan sirkulasi yang tidak terbaca, ruang kerja yang tidak menyenangkan dan dan jarak yang jauh. Sedangkan bagi penduduk sempat, kampus tersebut dipandang kurang murah hati, meskipun tampak sebagai bangunan utama. Karena mereka hanya disambut hingga ambang batas. Paul Goldberger, kritikus arsitektur, pendidik dan kontributor editor untuk Vanity Fair memandang bangunan tersebut dalam dua sisi kepentingan, masyarakat dan perusahaan.

“Masih harus dilihat apakah gelombang pembangunan baru yang ambisius akan memberikan industri teknologi pengaruh yang sama pada lingkungan binaannya yang telah ada,” ujar dia tentang kebutuhan dari keberadaan bangunan tersebut di masyarakat.

Di sisi lain, ia beranggapan bahwa pembangunan lembah Silikon akan keluar dari pinggiran kota konvensial. Bangunan dan lingkungan masa depan tengah dibentuk sebagai wujud memunculkan rasa inovasi. Bahkan bangunan tersebut dimunculkan bukan sebagai bangunan sebenarnya melainkan sebagai produk.

Arsitektur Berkualitas

Sementara, Gedung Bloomberg menjadikan makna citra perusahaan dan kenyamanan pengguna bangunan menjadi lebih jelas. ”Bloomberg adalah komitmen luar biasa untuk arsitektur berkualitas,” ujar Sir David Adjaye, Ketua Juri RIBA Stirling Prize 2018. Pendapat serupa dikemukakan Ben Derbyshire, Presiden RIBA, sebuah badan profesional arsitek utamanya di Inggris. “Kreativitas dan keuletan dari Foster + Partners dan patronase Bloomberg tidak hanya menaikkan standar untuk desain kantor dan perencanaan kota, tetapi menghancurkan langit-langit,” ujar Derbyshire.

Bangunan yang merupakan pencapaian besar dianggap memiliki kehadiran yang sama besarnya untuk para pengguna jalan sekitar. Bagian publik yang banyak dipuji adalah plaza publik yang terawat, sebagai bagian lingkungan dalam kantor yang dapat digunakan kolaborasi kerja tim.

Bangunan terlihat tidak terlalu berjarak, seperti yang selama ini banyak dikeluhkan dalam pembuatan bangunan kantor untuk mengedepankan pencitraan perusahaan. Sedikit berbeda dengan ruang kerja semacam coworking space sebagai ruang kerja bersama. Nilai yang ditampilkan dalam bangunan jenis ini bukan nilai yang ingin dipromosikan perusahaan melainkan kenyaman kerja.

Para pekerja milenial dan generasi sebelumnya yang hidup di jaman teknologi membutuhkan ruang-ruang kerja tidak selalu berada di kantor. Karakter pekerjaan yang bersifat freelance maupun pekerjaan yang dapat di luar ruang kantor menjadikan mereka pekerja fleksibel. Desain ruang lebih memberikan kenyaman.

Andaikata, ada nilai yang ditawarkan tak lebih untuk memberikan kenyamanan penyewa ruang. Seperti The Nest Studio di Warsaw, Polandia, coworking space tersebut di desain lebih menyerupai klub ketimbang kantor. Studio di desain untuk mengakomodir kebutuhan kerja dan hiburan.

”Apa arti sebenarnya dari ruang kerja bersama, bagaimana kita bekerja saat ini? Kita cenderung menghabiskan banyak waktu di tempat kerja atau sebenarnya batas antara kerja dan liburan tidak jelas? Anda mungkin akan menentang pendapat tersebut atau malah beradaptasi,” ujar Beza Projekt, sebuah studio desain di Polandia, seperti dilansir daridezeen.com. Bangunan yang dirancang G5 Architekci, biro arsitek Polandia memiliki tata ruang yang sebagian besar terbuka. Biro arsitek bermaksud menciptakan ruang yang hangat dengan menampilkan detail yang kaya. Mereka menggunakan tektur marmer yang dirancang Kasia Korzenieka yang digunakan pada kolom seluruh bangunan.

The Nest menggunakan warnawarna aquamarine yang muncul melalui bahan-bahan khusus seperti ubin keramik, wallpaper maupun karpet. Warna-warna yang diciptakan khusus di sejumlah detail tidak lain untuk menghadirkan suasana organik yang hidup.

“Coworking space menjadi sarang tempat untuk orang-orang modern yang percaya diri yang menghargai waktu. Mereka dapat bekerja hanya beberapa jam atau mungkin seluruh akhir minggu,” ujar Beza Projekt. din/E-6

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment